Meta Pasang Iklan Satu Halaman Penuh di Koran-Koran Besar AS, Tekan TikTok dan YouTube
Setelah setuju bayar hingga 18 miliar dolar AS, Meta punya cara licik untuk membuat pesaingnya ikut menanggung beban yang sama — lewat iklan satu halaman penuh di koran-koran terbesar Amerika.
Meta Platforms Inc. mengintensifkan kampanye tekanan publik terhadap TikTok dan YouTube, dengan memasang iklan satu halaman penuh di koran-koran terkemuka di seluruh Amerika Serikat. Lewat iklan tersebut, Meta menuntut para pesaingnya melakukan upaya setara untuk memperkuat perlindungan remaja di platform media sosial masing-masing.
Menyusul Penyelesaian Hukum Rp295 Triliun
Awal pekan ini, Meta menandatangani penyelesaian hukum bersejarah senilai hingga 18 miliar dolar AS dengan sejumlah negara bagian AS, yang mewajibkan perusahaan menerapkan fitur keamanan baru di Instagram dan Facebook — termasuk pembatasan durasi waktu yang bisa dihabiskan remaja di platform tersebut. Namun ada satu klausul tak biasa dalam kesepakatan ini: Meta hanya wajib membayar sebagian dari nilai penyelesaian tersebut, kecuali para pesaingnya juga ikut menerapkan denda dan konsesi serupa di platform mereka masing-masing.
Skema ini dirancang untuk mendorong perubahan menyeluruh di seluruh industri, sekaligus mengakui kenyataan bahwa jika akses remaja dibatasi di Instagram, mereka hanya akan berpindah perhatian ke platform lain.
"Untuk Kemajuan Berarti, Kami Ajak Rekan Sejawat Bergabung"
Iklan-iklan Meta mulai tayang Kamis dan Jumat, dan kampanye ini akan berlanjut sepanjang akhir pekan di edisi nasional sejumlah koran ternama, termasuk The New York Times, Washington Post, Los Angeles Times, Wall Street Journal, dan New York Post. "Untuk kemajuan berarti bisa terjadi, kami mengimbau rekan sejawat kami untuk turut bergabung," tulis Meta dalam iklan tersebut.
Jaksa Agung California, Rob Bonta, mengatakan pekan ini bahwa negara-negara bagian tertarik pada solusi menyeluruh dan menginginkan pemain lain, termasuk Snap Inc., turut mengambil langkah serupa dengan yang dilakukan Meta.
TikTok dan YouTube Hadapi Gugatan Serupa
TikTok dan YouTube — yang dimiliki Alphabet Inc. lewat Google — telah terjerat dalam berbagai gugatan serupa sebagai bagian dari litigasi yang lebih luas terkait dugaan kecanduan media sosial pada anak di bawah umur. Meta sendiri berargumen bahwa pembatasan yang mereka terapkan tidak akan efektif jika remaja hanya berpindah menghabiskan waktu di platform pesaing.
Dalam pernyataannya, Meta menegaskan perlindungan remaja yang lebih kuat tidak bisa berjalan efektif jika hanya satu perusahaan media sosial besar yang menerapkannya — karena itulah perusahaan mendesak para kompetitor mengadopsi standar setara.
Bukan Pertama Kali Meta Pakai Strategi Ini
Meta, yang saat itu masih bernama Facebook, pernah menerapkan strategi serupa pada 2018, tak lama setelah skandal data Cambridge Analytica mencuat — kasus di mana data puluhan juta pengguna Facebook dikumpulkan dan dipakai untuk penargetan politik selama pemilihan presiden AS 2016.
Kampanye tekanan publik kali ini juga tidak lepas dari kritik. Sejumlah pengamat menilai langkah Meta memanfaatkan penyelesaian hukum senilai 18 miliar dolar AS ini sebagai upaya memaksa para pesaingnya masuk ke semacam kesepakatan bersama sektor swasta — sebuah langkah yang oleh sebagian pihak dianggap lebih menyerupai proteksionisme korporat ketimbang murni layanan publik.
Terlepas dari perdebatan soal motifnya, tekanan publik ini menambah babak baru dalam pengawasan ketat terhadap industri media sosial atas dampaknya bagi kesehatan mental dan keselamatan penggunanya yang masih di bawah umur.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.