CompileDaily
Cyber Security

Akademi Siber Iran yang Disanksi Buka Rekrutmen Terbesar Sepanjang Sejarah, Picu Kekhawatiran Baru

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Sekolah ini menyamar sebagai lembaga pelatihan keamanan siber biasa. Tapi di balik itu, ribuan alumninya berpotensi menjadi ujung tombak serangan siber Iran berikutnya ke Amerika Serikat.

Ravin Academy, lembaga pelatihan keamanan siber asal Iran yang telah dikenai sanksi internasional, mengumumkan kelas rekrutmen terbesar sepanjang sejarah operasinya. Langkah ini memperdalam kekhawatiran soal serangan siber asal Iran yang terus menghantam Amerika Serikat.

Rekrut hingga 1.200 Peserta Muda secara Gratis

Menurut TRM Labs, perusahaan investigasi blockchain dan kecerdasan buatan, Ravin Academy tengah merekrut antara 600 hingga 1.200 warga Iran berusia 17 hingga 30 tahun untuk program beasiswa keamanan siber gratis berdurasi satu tahun. Para peserta bisa mengikuti kompetisi teknologi untuk menganalisis infrastruktur industri — baik yang nyata maupun simulasi — dan menyusun skenario potensi serangan siber.

Program-program sebelumnya yang ditawarkan akademi ini bahkan mengiklankan penempatan kerja yang memungkinkan peserta pelatihan memenuhi kewajiban wajib militer Iran — indikasi kuat keterkaitan erat lembaga ini dengan aparatur negara.

Berkedok Sekolah, Sebenarnya Corong Rekrutmen Intelijen

Ravin Academy didirikan pada 2019 dengan dalih meningkatkan industri keamanan siber Iran lewat layanan edukasi, riset, dan pelatihan tingkat lanjut. Namun di balik fasad tersebut, lembaga ini juga berfungsi sebagai kelompok serangan siber yang aktif terlibat dalam spionase, sabotase, dan operasi pengaruh. Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap Ravin Academy sejak 2022 karena perannya merekrut spesialis siber untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Menurut Departemen Keuangan AS, Ravin Academy membantu Kementerian Intelijen Iran (MOIS) dengan berbagai layanan siber, mulai dari pelatihan keamanan informasi, perburuan ancaman (threat hunting), tim merah (red team), forensik digital, analisis malware, hingga rekayasa balik (reverse engineering). Akademi ini juga terhubung dengan kelompok ancaman persisten tingkat lanjut (APT) yang didukung negara Iran, dikenal dengan nama APT34 — juga disebut MuddyWater atau OilRig.

Lihat Layanan Kami

Kompetisi "Olimpiade Teknologi" sebagai Ladang Seleksi Bakat

Salah satu inisiatif utama Ravin Academy adalah "Olimpiade Teknologi" nasional, yang diselenggarakan bersama Wakil Presiden Iran Bidang Sains dan Teknologi serta Pardis Technology Park. Kompetisi berupa tantangan serang-bertahan siber ini menjadi ladang penyaringan sempurna untuk mengidentifikasi individu berbakat — banyak di antaranya tidak menyadari bahwa mereka sedang dinilai untuk direkrut oleh badan keamanan negara.

Kebocoran data pada Oktober 2025 sempat mengungkap identitas lebih dari 1.000 orang yang terkait Ravin Academy, mengonfirmasi bahwa mayoritas peserta yang berhasil diidentifikasi ternyata tidak berlatar belakang keamanan siber sebelumnya — menegaskan pola perekrutan yang menyasar talenta muda umum, bukan hanya profesional IT.

Bagian dari Pola Serangan Iran yang Lebih Luas ke Infrastruktur Kritis AS

Rekrutmen besar-besaran ini muncul di tengah rentetan peringatan resmi soal ancaman siber Iran. Pada 30 Juli lalu, FBI memperingatkan bahwa peretas telah menargetkan perusahaan air dan pengolahan limbah di setidaknya tujuh negara bagian AS. Kelompok peretas yang terafiliasi Iran sebelumnya juga tercatat menyusup ke sistem email kampanye kepresidenan, menyasar fasilitas air minum AS, serta mencoba membobol jaringan yang digunakan militer dan kontraktor pertahanan.

Para pejabat keamanan siber AS menilai tujuan di balik serangkaian aksi ini adalah menggerus daya tahan upaya pertahanan Amerika, mendongkrak biaya energi, menguras sumber daya keamanan siber, serta menimbulkan kerugian sebesar mungkin bagi perusahaan-perusahaan yang bergantung pada industri pertahanan.

Dengan skala rekrutmen terbesar yang pernah diumumkan lembaga ini, para analis keamanan siber memperingatkan bahwa jumlah operator siber terlatih yang berpotensi dikerahkan Iran ke depan bisa melonjak signifikan — memperbesar risiko gelombang serangan baru yang menyasar infrastruktur kritis Amerika Serikat dan sekutunya.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.