CompileDaily
Cyber Security

Peretas Terafiliasi China Gandakan Jumlah Serangan Siber Setelah Adopsi DeepSeek

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
Peretas Terafiliasi China Gandakan Jumlah Serangan Siber Setelah Adopsi DeepSeek

Riset firma keamanan siber Taiwan menemukan kelompok peretas yang terkait dengan pemerintah China telah lebih dari dua kali lipat volume serangan mereka sejak mendelegasikan tugas-tugas rutin ke model AI open-source, dengan DeepSeek menjadi pilihan favorit karena minimnya pembatasan keamanan.

Kelompok peretas yang terafiliasi dengan negara China dilaporkan meningkatkan skala serangan siber mereka secara signifikan setelah mengintegrasikan DeepSeek dan model kecerdasan buatan open-source lainnya ke dalam operasi mereka, menurut laporan Bloomberg yang dipublikasikan Senin (24/8/2026). Riset dari TeamT5, firma riset keamanan siber asal Taiwan, menemukan bahwa kelompok-kelompok siber yang terkait pemerintah China telah lebih dari dua kali lipat jumlah serangan yang mereka lancarkan sejak mulai mendelegasikan tugas-tugas rutin ke AI dan menggunakannya untuk mengembangkan perangkat lunak berbahaya (malware) tingkat lanjut.

DeepSeek Jadi Favorit karena Minim Pembatasan Keamanan

Menurut para peneliti, tidak selalu mungkin mengidentifikasi secara pasti model AI spesifik yang digunakan dalam setiap serangan. Namun secara umum, produk-produk DeepSeek populer di kalangan peretas China karena performanya yang tinggi serta kemampuannya untuk dikustomisasi. Chief Analyst TeamT5, Charles Li, menyampaikan bahwa DeepSeek menjadi AI pilihan peretas China karena tergolong cukup kuat namun dengan pembatasan keamanan siber (guardrails) yang sangat minim. Menurutnya, model-model AI buatan Barat sebenarnya banyak dicari peretas, namun pembatasan keamanannya jauh lebih ketat dan membutuhkan usaha signifikan untuk dilewati.

Model-model AI open-source, termasuk DeepSeek, kini dilaporkan digunakan di berbagai tahap serangan siber — mulai dari tahap pengintaian awal (reconnaissance) hingga eksploitasi kerentanan sistem.

Sejumlah Kelompok Peretas Teridentifikasi Menggunakan AI dalam Operasinya

Dalam beberapa bulan terakhir, para peneliti berhasil memperoleh skrip dan log yang menunjukkan peretas yang berafiliasi dengan pemerintah China menggunakan model AI di sepanjang rangkaian operasi mereka. Salah satu kelompok, yang disebut dengan nama Grimfengxi, dilaporkan menggunakan DeepSeek untuk membuat kode eksploitasi (exploit code). Kelompok lain bernama Huapi menggunakan model AI China — kemungkinan besar DeepSeek — untuk menyerang sistem email sebuah perusahaan asal Taiwan. Sementara kelompok ketiga, Teleboyi, memanfaatkan platform tersebut untuk mengumpulkan seribu alamat IP dari internet serta memetakan domain berbagai perusahaan.

Lihat Layanan Kami

Bukan Kasus Pertama: Riset Unit 42 Sebelumnya Temukan Kampanye Serupa

Temuan TeamT5 ini melengkapi riset serupa yang dipublikasikan Unit 42, tim riset keamanan siber milik Palo Alto Networks, pada akhir Juli 2026. Riset tersebut mengidentifikasi seorang peretas berbahasa China yang menjalankan kampanye peretasan berbasis AI menggunakan DeepSeek, dengan sistem yang dijalankan secara otonom lewat kerangka kerja bernama Hermes Agent. Peretas dalam kasus tersebut menargetkan ratusan sistem yang terekspos secara daring di kawasan Asia, dengan sebagian kecil di antaranya berhasil dieksploitasi.

Menariknya, riset Unit 42 turut menemukan bahwa peretas yang sama sempat mencoba memanfaatkan alat AI buatan Barat, termasuk Claude Code, meski dalam kapasitas terbatas — indikasi bahwa peretas independen di luar entitas yang didukung negara juga mulai bereksperimen dengan berbagai model AI yang tersedia secara luas, tidak terbatas hanya pada produk buatan China semata.

AI Mempercepat Skala, Bukan Menciptakan Ancaman Baru

Menurut Senior Director of Threat Intelligence Unit 42, Andy Piazza, kemampuan ofensif berbasis AI ini memungkinkan peretas meningkatkan kecepatan dan skala kampanye mereka secara dramatis. Meski begitu, riset yang ada menunjukkan bahwa keberhasilan serangan-serangan ini pada dasarnya tetap bergantung pada sistem yang belum diperbarui atau dikonfigurasi dengan baik oleh pihak yang menjadi target — menandakan bahwa AI berfungsi mempercepat dan memperluas jangkauan serangan siber yang sudah ada, ketimbang menciptakan jenis ancaman yang sepenuhnya baru.

Implikasi bagi Perusahaan dan Pengembang Model AI

Temuan ini menambah bukti nyata bagaimana teknologi AI generatif, yang awalnya dirancang untuk keperluan produktivitas dan riset, kini semakin banyak dimanfaatkan aktor jahat untuk mempercepat dan memperluas skala operasi siber mereka. Kondisi ini turut menjadi sorotan bagi para pengembang model AI global, khususnya soal seberapa ketat pembatasan keamanan (guardrails) yang diterapkan pada model-model mereka guna mencegah penyalahgunaan untuk aktivitas siber jahat — sebuah tantangan yang menurut sejumlah pengamat keamanan siber akan terus menjadi perhatian utama seiring semakin mudahnya akses terhadap model-model AI canggih di seluruh dunia.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.