Lambda Kantongi Utang Rp16 Triliun demi Beli Chip Nvidia untuk Microsoft
Bukan investor, bukan pula bank sentral — yang justru ikut menanggung risiko booming AI kini para pemberi utang swasta yang berlomba mendanai pembelian chip.
Lambda Inc., penyedia layanan cloud computing AI yang mendapat dukungan investasi dari Nvidia Corp., berhasil menghimpun sekitar 1 miliar dolar AS utang swasta jangka pendek untuk membeli chip komputasi yang terkait kerja sama mereka dengan Microsoft Corp. JPMorgan Chase & Co. mengatur transaksi ini, dengan utang tersebut dipasarkan kepada investor penempatan privat (private placement).
Chip Dibeli Lambda, Disewakan ke Microsoft
Alih-alih membeli graphics processing unit (GPU) Nvidia secara langsung, Microsoft menyewa chip-chip tersebut lewat infrastruktur milik Lambda — model bisnis yang menekan biaya di muka bagi Microsoft sekaligus memastikan akses terhadap komponen yang masih langka di pasaran. Skema ini menjadikan kesediaan Microsoft membayar sewa jangka panjang sebagai jaminan utama pinjaman, alih-alih pendapatan Lambda sendiri.
Struktur pendanaan serupa juga dipakai Nebius, neocloud terbesar di Eropa, yang meminjam 775 juta dolar AS dengan jaminan chip miliknya sendiri dan memegang kontrak lima tahun senilai 19,4 miliar dolar AS dengan Microsoft. Nebius bahkan menyebut memiliki sekitar 40 miliar dolar AS kontrak yang berpotensi disekuritisasi lebih lanjut.
Pinjaman Kedua Lambda dalam Sebulan Terakhir
Pendanaan 1 miliar dolar AS ini menjadi pinjaman besar kedua Lambda dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Dua pekan sebelumnya, perusahaan baru saja menuntaskan pinjaman senilai 917 juta dolar AS untuk mendanai unit Nvidia GB300 GPU — salah satu model chip terbaru Nvidia — guna memenuhi kontrak penyediaan chip bagi Nvidia sendiri.
Menariknya, dalam rangkaian transaksi ini Nvidia memegang empat peran sekaligus terhadap Lambda: sebagai investor, pemasok tunggal seluruh chip yang dipakai Lambda, penyewa (tenant) terbesarnya, sekaligus rekanan kontrak yang mendasari pinjaman senilai 917 juta dolar AS tersebut. Sebelumnya pada September 2025, Nvidia bahkan sepakat menyewa balik GPU dari Lambda dalam kesepakatan senilai 1,3 miliar dolar AS selama empat tahun yang mencakup 10.000 server, ditambah kontrak 200 juta dolar AS untuk 8.000 unit lainnya.
Bagian dari Ledakan Utang Global untuk Infrastruktur AI
Lonjakan pendanaan Lambda ini terjadi di tengah tren lebih besar: total utang terkait proyek AI di seluruh dunia telah menembus lebih dari 400 miliar dolar AS sepanjang 2026, menurut data yang dihimpun Bloomberg. Perusahaan-perusahaan teknologi besar (Big Tech) sendiri telah menghimpun 350 miliar dolar AS utang terkait AI dalam lima tahun terakhir, dengan modal swasta (private credit) terus menumpuk di atasnya — termasuk Stack Infrastructure milik Blue Owl yang tengah mengejar pinjaman pusat data senilai 5,9 miliar dolar AS.
Lambda juga dilaporkan tengah bernegosiasi untuk putaran pendanaan pra-IPO senilai hingga 3 miliar dolar AS, seiring rencana pencatatan saham perusahaan yang digadang-gadang berlangsung tahun depan. Perjalanan pendanaan Lambda sendiri menunjukkan lonjakan eksponensial: dari pinjaman berjaminan chip senilai 500 juta dolar AS pada 2024, fasilitas kredit 275 juta dolar AS pertengahan 2025, hingga fasilitas 1 miliar dolar AS tahun ini — mencerminkan siklus investasi AI yang terus membesar.
Regulator Mulai Waspada
Skema pendanaan berlapis semacam ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pengawas keuangan. European Central Bank (ECB) pada Mei lalu memperingatkan soal "praktik penilaian yang tidak transparan dan likuiditas terbatas" dalam pasar kredit swasta, serta portofolio yang terkonsentrasi pada segelintir penerbit asal Amerika Serikat yang valuasinya sangat bergantung pada narasi besar seputar AI.
Pasar pinjaman pun mulai menunjukkan tanda kehati-hatian lebih tinggi. Investor pemberi pinjaman dilaporkan mulai lebih selektif bulan ini seiring meningkatnya kekhawatiran, setelah sebelumnya CoreWeave Inc. — perintis model pembiayaan serupa yang mendanai chip lewat kontrak pelanggan seperti OpenAI — sempat dipaksa membayar imbal hasil (yield) tinggi pada kesepakatan pinjaman lain yang meningkatkan biaya pinjaman mereka secara signifikan.
Pertanyaan besar yang tersisa bagi para pemberi pinjaman bukan lagi soal seberapa canggih chip yang dijaminkan, melainkan: apa yang terjadi jika permintaan komputasi AI yang menopang seluruh rantai kontrak dan jaminan ini mulai melambat.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.