91% Masyarakat Indonesia Kini Anggap Kesehatan Mental Sama Penting dengan Kesehatan Fisik, tapi Waktu Jadi Kendala Terbesar
Survei terbaru terhadap lebih dari seribu responden Indonesia mengungkap pergeseran cara pandang masyarakat terhadap kesehatan — dari sekadar bebas penyakit menjadi keseimbangan menyeluruh antara fisik, mental, tidur, dan pola makan.
Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya kesehatan mental menunjukkan peningkatan signifikan, menurut hasil Herbalife APAC Wellness Culture Survey 2026 yang dirilis pertengahan Agustus 2026. Survei yang melibatkan lebih dari 10.000 responden di 11 negara dan wilayah Asia Pasifik, termasuk 1.002 responden dari Indonesia, menemukan bahwa 91 persen masyarakat Indonesia menilai kesehatan holistik — mencakup kesehatan fisik, mental, dan emosional — sebagai hal yang sangat atau amat penting.
Kesehatan Mental Kini Sejajar dengan Nutrisi dan Kualitas Tidur
Data survei menunjukkan pergeseran prioritas kesehatan masyarakat Indonesia yang semakin holistik. Kualitas nutrisi dan pola makan menjadi prioritas utama dengan 50 persen responden, disusul kualitas tidur di angka 49 persen, dan kesehatan mental yang menempati posisi ketiga dengan 46 persen. Ketiga aspek ini menunjukkan bahwa masyarakat kini tidak lagi memandang kesehatan semata sebagai urusan fisik semata, melainkan sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi.
Sebanyak 85 persen responden Indonesia bahkan menyatakan bahwa kesehatan holistik kini dipandang jauh lebih penting dibandingkan tiga tahun lalu — indikasi kuat bahwa pergeseran pola pikir ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan perubahan jangka panjang dalam cara masyarakat memaknai kesehatan secara keseluruhan.
Keterbatasan Waktu Jadi Hambatan Utama, Bukan Minimnya Pengetahuan
Meski kesadaran meningkat tajam, penerapan kebiasaan hidup sehat secara konsisten masih menghadapi kendala nyata di lapangan. Keterbatasan waktu menjadi hambatan utama bagi 48 persen responden, disusul tuntutan pekerjaan yang dilaporkan 36 persen responden sebagai penghalang. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan lagi minimnya pemahaman masyarakat soal pentingnya kesehatan mental, melainkan kesenjangan antara kesadaran dan kemampuan mempraktikkannya di tengah rutinitas harian yang padat.
Direktur dan General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, menyampaikan bahwa perubahan cara pandang masyarakat terhadap kesehatan kini terlihat dari semakin banyaknya orang yang memperhatikan berbagai aspek kesehatan secara bersamaan — bukan hanya berfokus pada satu dimensi saja.
Dukungan Sosial Jadi Faktor Kunci Keberlanjutan
Di sisi lain, dukungan keluarga, teman, dan media sosial disebut menjadi faktor yang membantu masyarakat tetap termotivasi menjalani pola hidup sehat secara konsisten. Menurut Oktrianto, dukungan sosial dan pengetahuan yang memadai diperlukan agar kebiasaan hidup sehat dapat diterapkan secara berkelanjutan, mengingat kesehatan holistik merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi — bukan sekadar keputusan sesaat yang mudah ditinggalkan begitu tekanan hidup meningkat.
Konteks Lebih Luas: Beban Kesehatan Mental yang Masih Signifikan
Temuan survei kesadaran ini bersinggungan dengan data prevalensi kesehatan mental Indonesia yang masih menunjukkan angka signifikan. Riset yang menganalisis 500 artikel ilmiah nasional dan internasional periode 2019-2024 mencatat lebih dari 31 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, dengan 19 juta di antaranya mengalami gangguan emosional dan 12 juta mengalami depresi. Riset yang sama mencatat tren penelitian tentang kesehatan mental remaja Indonesia terus meningkat sejak 2020, mencapai puncaknya pada 2023 — sejalan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap isu ini secara keseluruhan.
Kesenjangan antara Kesadaran dan Akses Layanan
Dengan kesadaran masyarakat yang kini berada di angka 91 persen namun tetap terkendala keterbatasan waktu dan tuntutan pekerjaan dalam penerapannya, tantangan berikutnya bagi pemangku kebijakan dan penyedia layanan kesehatan adalah menjembatani kesenjangan antara tingginya kesadaran ini dengan akses nyata terhadap dukungan kesehatan mental yang terjangkau dan mudah diakses di tengah rutinitas kerja masyarakat modern yang semakin padat.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.