CompileDaily
Mental Health

Fenomena Curhat ke AI Marak, Dinkes DKI Ingatkan Bukan Pengganti Psikolog

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
Fenomena Curhat ke AI Marak, Dinkes DKI Ingatkan Bukan Pengganti Psikolog

Tengah malam, ketika tidak ada satu pun teman yang bisa dihubungi tanpa rasa canggung, chatbot AI selalu online dan tidak pernah menghakimi. Bagi banyak anak muda urban, itulah alasan mengapa layar ponsel kini menjadi tempat pertama mereka mencurahkan isi hati—bukan lagi orang terdekat.

Fenomena curhat kepada kecerdasan buatan (AI) semakin marak di kalangan anak muda dan pekerja urban Indonesia, mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan resmi bahwa AI tidak bisa menggantikan peran psikolog maupun psikiater. Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan hal ini menyusul semakin banyaknya warga yang menjadikan chatbot AI sebagai tempat mencurahkan persoalan pekerjaan, konflik keluarga, tekanan akademik, hingga rasa kesepian.

AI Bisa Jadi Pintu Awal, tapi Bukan Tujuan Akhir

Menurut Ani, AI memang dapat membantu seseorang mengungkapkan perasaan, menata pikiran, memperoleh informasi umum, bahkan menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan lebih lanjut. Bagi sebagian orang yang belum siap berbicara dengan keluarga, teman, atau tenaga profesional, AI bisa menjadi pintu awal untuk mengenali kondisi emosional mereka sendiri. Namun ia menegaskan teknologi tersebut tidak mampu memahami kondisi seseorang secara menyeluruh, tidak dapat melakukan pemeriksaan klinis, maupun menilai tingkat risiko psikologis seseorang secara akurat.

Psikolog di RSUD yang dikutip Kompas menambahkan AI dapat digunakan untuk membantu seseorang mengenali emosi yang sedang dirasakan, membuat jurnal emosi, hingga melakukan latihan relaksasi ringan—fungsi yang berguna sebagai pendamping untuk meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), bukan pengganti proses terapi yang sesungguhnya.

Kenapa Orang Lebih Nyaman Curhat ke AI Ketimbang Manusia?

Menurut penjelasan psikolog yang dikutip Kompas, ada sejumlah alasan mengapa seseorang merasa lebih nyaman berbagi cerita kepada AI dibanding orang terdekat. Faktor utamanya adalah anggapan bahwa AI tidak memberikan penghakiman atau penilaian terhadap cerita yang disampaikan—chatbot menerima seluruh keluhan tanpa menilai, meski secara teknis AI tidak benar-benar memiliki perasaan meski responsnya terkesan empatik. Faktor lain mencakup ketersediaan 24 jam tanpa perlu menjadwalkan janji temu, serta kekhawatiran cerita pribadi akan tersebar bila diceritakan kepada orang terdekat.

Sebuah survei di Indonesia pada 2025 bahkan mengungkap 58 persen dari 3.611 responden mempertimbangkan AI sebagai pengganti psikolog, dengan alasan kemudahan akses kapan pun dibutuhkan serta biaya yang jauh lebih terjangkau dibanding sesi terapi profesional.

Lihat Layanan Kami

Risiko "Therapeutic Misconception" yang Perlu Diwaspadai

Sejumlah ahli mengingatkan penggunaan AI dalam konteks kesehatan mental membawa risiko yang disebut therapeutic misconception—kesalahpahaman pengguna yang mengira chatbot berperan setara dengan psikolog manusia. Ketika pengguna terbiasa dengan kecepatan respons dan ketersediaan 24 jam dari chatbot, mereka berisiko keliru mempercayai bahwa dukungan emosional dari AI setara dengan terapi manusia sesungguhnya—yang pada akhirnya bisa membuat mereka menunda atau bahkan mengabaikan kebutuhan mendapatkan bantuan profesional yang sesungguhnya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut menyoroti tren serupa di kalangan remaja. Dr. Angga Wirahmadi dari IDAI menekankan AI hanya mampu memberikan dukungan emosional dasar untuk masalah ringan, namun sama sekali tidak bisa menggantikan diagnosis profesional—terutama bila gejala yang dialami sudah mengarah pada gangguan mental serius atau perilaku menyakiti diri.

Akses Layanan Kesehatan Jiwa Kini Semakin Mudah Dijangkau

Dinkes DKI Jakarta menegaskan layanan kesehatan jiwa kini semakin mudah diakses masyarakat, dimulai dari proses skrining dan tindak lanjut awal di puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan Jakarta. Calon pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut akan mendapatkan surat rujukan untuk ditindaklanjuti di RSUD yang memiliki layanan psikiatri, dengan layanan psikolog yang juga tersedia di puluhan puskesmas di ibu kota.

Pesan yang ingin disampaikan para ahli cukup jelas: AI bisa menjadi alat bantu awal yang berguna untuk refleksi diri, mengenali emosi, atau sekadar mencari ruang aman tanpa penghakiman di tengah malam yang sunyi. Namun ketika perasaan yang dirasakan sudah cukup berat atau berkepanjangan, langkah paling tepat tetaplah mencari bantuan dari tenaga profesional yang benar-benar mampu memahami kondisi seseorang secara menyeluruh—sesuatu yang hingga kini belum bisa sepenuhnya digantikan teknologi secanggih apa pun.

Catatan: Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami krisis kesehatan mental atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, silakan hubungi layanan dukungan seperti Kementerian Kesehatan RI (119 ext 8) atau layanan konseling terdekat.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.