CompileDaily
Mental Health

Skrining 7 Juta Anak, Kemenkes Temukan Hampir 10 Persen Alami Gejala Cemas dan Depresi

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Dari program pemeriksaan kesehatan gratis yang awalnya menyasar penyakit fisik, muncul temuan yang justru membuat pemerintah harus bergerak cepat — ratusan ribu anak Indonesia diam-diam bergumul dengan kesehatan jiwanya.

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah yang signifikan. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkap temuan ini dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta.

Rincian Angka: 338 Ribu Anak Cemas, 363 Ribu Anak Depresi

Berdasarkan data yang dipaparkan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder), sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder). "Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali," kata Budi.

Menurutnya, persoalan kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi berdampak pada tindakan ekstrem. Kemenkes mengutip data Global School-Based Student Health Survey yang menunjukkan tren peningkatan cukup tajam terkait risiko pada anak, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Bukan Cuma Faktor Individu, tapi Juga Lingkungan

Budi menegaskan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu semata, melainkan juga lingkungan keluarga, pertemanan, serta pendidikan. "Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar," ujarnya.

Lihat Layanan Kami

Pemerintah Perluas Skrining hingga 25 Juta Anak

Menindaklanjuti temuan ini, Kemenkes menargetkan perluasan jangkauan skrining CKG hingga menyasar 25 juta anak di seluruh Indonesia. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa hasil skrining akan ditindaklanjuti langsung oleh Puskesmas setempat sebagai bagian dari strategi deteksi dini dan intervensi cepat.

Pemerintah juga tengah mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas, yang jumlahnya saat ini masih terbatas — sekitar 203 orang di seluruh Indonesia. Selain itu, layanan krisis kesehatan jiwa lewat Healing119.id disiagakan untuk mendukung intervensi cepat bagi yang membutuhkan.

Guru BK dan Kolaborasi Lintas Kementerian

Di sektor pendidikan, Kemenkes turut mendorong peran guru Bimbingan Konseling (BK) dan guru kelas untuk mendampingi siswa yang terdeteksi memiliki gejala kecemasan atau depresi. Upaya deteksi dini ini diperkuat lewat penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) lintas kementerian, guna membangun sistem penanganan kesehatan jiwa anak yang lebih terintegrasi antara sektor kesehatan dan pendidikan.

Dengan skala temuan yang mencakup ratusan ribu anak dari hasil skrining awal saja, para pemangku kepentingan menilai penanganan masalah kesehatan jiwa pada anak Indonesia perlu ditangani secara kolektif — melibatkan bukan hanya tenaga kesehatan, tapi juga keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial anak secara keseluruhan.

Jika kamu atau orang di sekitarmu sedang mengalami kesulitan kesehatan mental, layanan Healing119.id serta hotline Sejiwa di 119 ext. 8 tersedia untuk membantu.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.