Amarah Publik terhadap Teknologi Mencapai Puncaknya, AI dan Media Sosial Jadi Sasaran Bersamaan
Dulu Silicon Valley bermimpi mengubah dunia jadi lebih baik. Kini, semakin banyak warga Amerika merasa mereka justru hidup di tengah mimpi buruk buatan teknologi itu sendiri.
Amarah publik terhadap sektor teknologi di Amerika Serikat mencapai titik tertinggi, seiring kekhawatiran soal kecerdasan buatan (AI) berbenturan dengan ketakutan lama terhadap media sosial. Menurut laporan terbaru Pew Research Center, lebih dari separuh warga Amerika mengaku lebih khawatir ketimbang antusias terhadap penggunaan AI yang makin meluas dalam kehidupan sehari-hari — salah satu alasan mengapa pembangunan data center menjadi isu besar dalam pemilu paruh waktu (midterm) di berbagai negara bagian.
Dua Front Sekaligus: Data Center dan Media Sosial
Momentum backlash terhadap teknologi ini menguat pekan ini, bertepatan dengan Meta yang menyepakati settlement bersejarah senilai hingga 18 miliar dolar AS dalam kasus yang diajukan puluhan jaksa agung negara bagian terkait keamanan remaja di media sosial. Kombinasi dua isu besar — kekhawatiran AI dan media sosial — membuat rasa tidak percaya publik terhadap industri teknologi kini datang dari berbagai arah sekaligus.
Lonjakan pesat raksasa AI seperti OpenAI dan Anthropic memperparah kegelisahan mendalam terhadap sektor teknologi, terutama di kalangan warga yang mengaitkan AI dengan hilangnya lapangan kerja dan kini menyaksikan langsung data center berukuran raksasa bermunculan di lingkungan mereka.
Bahkan Karyawan Teknologi Ikut Turun ke Jalan
Amarah ini bahkan merambah ke internal tenaga kerja teknologi sendiri. Insinyur Amazon bersaksi dalam rapat Dewan Kota Seattle pada Juni lalu, menuntut regulasi pemerintah yang lebih ketat terhadap data center AI dan mengkritik penggunaan "energi kotor" perusahaan di sejumlah lokasi. "Tidak banyak kepercayaan terhadap perusahaan utilitas dan regulator, mengingat kenaikan harga listrik yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir," kata James Coleman, profesor hukum di University of Minnesota.
CEO OpenAI Sendiri Mengakui: "Orang-orang Membenci Data Center"
Bahkan CEO OpenAI Sam Altman secara terbuka mengakui warga Amerika terang-terangan bersikap tidak ramah terhadap fasilitas yang menggerakkan booming AI — momen canggung bagi perusahaan yang berencana menghabiskan 50 miliar dolar AS tahun ini untuk kapasitas komputasi. "Jelas, orang-orang membenci data center — setidaknya saat ini," kata Altman kepada Time. "Orang-orang cenderung negatif terhadap AI."
Pengakuan Altman ini muncul tak lama setelah kepala data center OpenAI, Chris Malone, meninggalkan perusahaan — kepergian yang dikonfirmasi terjadi di tengah reorganisasi tim infrastruktur OpenAI.
Isu Lintas Partai yang Menyatukan Kubu Berseberangan
Backlash terhadap data center berskala hyperscale ini berhasil mengubah baik pemilih Demokrat maupun Republik menjadi skeptis terhadap AI, dengan kekhawatiran bersama bahwa laju industri ini berisiko merenggut otonomi komunitas lokal. Survei terbaru menunjukkan 58 persen pemilih terdaftar menyatakan menentang pembangunan data center lokal, termasuk 74 persen kalangan Demokrat liberal.
Di Florida, isu ini menjadi sorotan utama pemilihan pendahuluan (primary) gubernur dari Partai Republik, yang dimenangkan Rep. Byron Donalds — kandidat yang didukung PAC kripto besar namun tetap mengusulkan pembatasan data center di negara bagian tersebut. Di hari yang sama, Gubernur Pennsylvania dari Demokrat, Josh Shapiro, menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan standar ketat bagi pengembangan data center di negara bagiannya.
Dari Iklan Satire hingga Legislasi Kongres
Backlash ini bahkan merambah ke ranah pemasaran dan legislasi federal. Perusahaan minuman Liquid Death dan Garage Beer meluncurkan iklan satire yang menyoroti besarnya konsumsi air oleh fasilitas data center. Sementara itu, anggota Kongres dari Michigan, Rep. Tom Barrett, mengajukan legislasi yang bertujuan melindungi otoritas lokal atas lahan yang berpotensi digunakan untuk fasilitas semacam ini, dengan alasan konstituennya khawatir soal dampak terhadap tagihan listrik dan lingkungan.
Bukan Sentimen yang Seragam
Meski begitu, sentimen publik terhadap teknologi tidak sepenuhnya negatif secara merata. Senator Pennsylvania John Fetterman, misalnya, menegaskan penolakannya terhadap "sikap berlebihan yang menakut-nakuti soal data center atau AI," dengan alasan supremasi AI dan dominasi energi mendasari keamanan nasional negara — sekaligus memperingatkan bahwa China terus diuntungkan dari sikap berlebihan Amerika terhadap isu ini.
Para pakar yang diwawancarai menilai backlash terhadap sektor teknologi kini mencapai level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan kekhawatiran yang meluas ini berpotensi meredam perbincangan penting lainnya soal manfaat nyata yang bisa dihadirkan teknologi bagi masyarakat — sekaligus menjadi ujian besar bagi industri AI dan media sosial menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.