CompileDaily
Cyber Security

Settlement Rp295 Triliun Meta Taruh TikTok, YouTube, dan Snap di Ujung Tanduk

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Sebagian besar denda Meta sengaja tidak dibayar penuh — kecuali para pesaingnya ikut menandatangani aturan yang sama. Ini taktik hukum yang belum pernah terlihat sebelumnya di industri media sosial.

Meta Platforms mencapai kesepakatan penyelesaian hukum (settlement) senilai hingga 18 miliar dolar AS dengan jaksa agung dari 48 negara bagian dan empat yurisdiksi AS, mengakhiri gugatan panjang soal tuduhan penggunaan taktik manipulatif yang membuat remaja kecanduan media sosial. Yang membuat kesepakatan ini tak biasa: sebagian besar nilai settlement itu sengaja digantungkan pada langkah para pesaing Meta, yakni TikTok, YouTube, dan Snap.

Perincian Angka: 12,7 Miliar Dijamin, Sisanya Tergantung Pesaing

Dari total nilai settlement, sekitar 12,7 miliar dolar AS (70 persen) dijamin akan dibayarkan Meta. Sisanya, sekitar 5,3 miliar dolar AS (30 persen), baru akan cair jika TikTok dan YouTube masing-masing menyetujui pembatasan waktu harian satu jam, mode malam, serta langkah verifikasi usia yang setara dengan yang diterapkan Meta — sekaligus membayar porsi denda yang sepadan.

Chief Legal Officer Meta, C.J. Mahoney, menyebut kerangka kerja yang dinegosiasikan ini "menetapkan arah yang tepat bagi seluruh industri, tapi kerangka ini hanya akan berhasil jika semua kompetitor kami ikut bergabung."

Aturan Baru: Batas Dua Jam Sehari, Diblokir Tengah Malam

Settlement ini mewajibkan Meta menerapkan sejumlah perubahan besar pada Facebook dan Instagram, termasuk batas waktu penggunaan harian default dua jam serta pemblokiran akses antara tengah malam hingga pukul 6 pagi bagi pengguna di bawah 18 tahun — keduanya hanya bisa dinonaktifkan oleh orang tua. Ketentuan yang lebih unik lagi: jika Snapchat, TikTok, dan YouTube menyetujui persyaratan setara, batas waktu harian di setiap platform akan turun lagi menjadi 60 menit selama 10 tahun ke depan, sementara jam blokir malam akan diperpanjang dari pukul 10 malam hingga pukul 7 pagi.

Kampanye Tekanan Publik Lewat Iklan Satu Halaman

Sehari setelah kesepakatan diumumkan, Meta melancarkan kampanye tekanan publik dengan memasang iklan surat terbuka satu halaman penuh di The Washington Post, The New York Times, dan Los Angeles Times, mengajak TikTok dan YouTube "mendukung remaja" bersama-sama. Jaksa Agung California Rob Bonta menyatakan negara bagian tengah berkomunikasi dengan Snap dan mengejar pembicaraan dengan TikTok, dengan harapan YouTube turut datang ke meja perundingan. "Kami bersedia mengambil langkah tambahan juga, jika mereka tidak melakukannya secara sukarela," kata Bonta.

Lihat Layanan Kami

Sejauh ini, baik TikTok maupun Google (pemilik YouTube) belum memberikan komentar resmi atas kesepakatan tersebut.

Berawal dari Kesaksian di Ruang Sidang

Settlement ini muncul tepat sehari setelah kepala eksekutif Instagram ditanyai di ruang sidang soal upaya timnya "membatasi" akses terhadap data internal terkait keamanan remaja. Alih-alih melanjutkan proses persidangan yang masih tersisa beberapa minggu lagi, Meta memilih menyelesaikan kasus lewat settlement.

Kasus ini bukan satu-satunya yang membelit raksasa media sosial. Sekolah dan keluarga korban telah mengajukan ribuan gugatan terpisah terhadap Meta, Google, Snap, dan TikTok, menuduh desain produk mereka menimbulkan konsekuensi berbahaya bagi remaja. Pada Maret lalu, sebuah juri di Los Angeles memutuskan desain produk Meta dan YouTube menyebabkan tekanan mental pada seorang perempuan muda, memerintahkan kedua perusahaan membayar ganti rugi masing-masing 4,2 juta dan 1,8 juta dolar AS. Meta sebelumnya juga kalah dalam kasus terpisah yang diajukan Jaksa Agung New Mexico Raul Torrez, setelah pengadilan menemukan perusahaan melanggar undang-undang keamanan anak negara bagian itu dan diperintahkan membayar lebih dari 900 juta dolar AS.

Pengacara Korban: "Ini Belum Mengubah Apa Pun bagi Klien Kami"

Meski dipuji sejumlah pihak sebagai langkah maju, settlement ini juga menuai kritik dari sebagian pengacara korban. "Klien kami menuntut pertanggungjawaban atas kerugian spesifik dan individual — termasuk depresi, self-harm, gangguan makan, dan kematian — yang kami yakini merupakan akibat wajar dari pilihan desain yang dibuat platform-platform ini," kata mereka. "Tidak ada yang berubah dari settlement ini soal itu, dan tidak ada bagian dari kesepakatan ini yang mewakili klien kami."

Matthew Bergman, pendiri Social Media Victims Law Center, menilai tekanan Meta terhadap rivalnya berpotensi berdampak besar pada litigasi yang masih berjalan. "Anak-anak menggunakan platform-platform ini secara bergantian. Jika kamu ingin meningkatkan keamanan di satu platform, itu harus jadi perubahan menyeluruh di semua platform," katanya.

Dengan bola panas kini berada di tangan TikTok, YouTube, dan Snap, pertanyaannya bukan lagi apakah tekanan hukum dan publik terhadap industri media sosial akan terus berlanjut, melainkan siapa berikutnya yang akan menyusul menandatangani kesepakatan serupa.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.