Obat Berbasis THC Terbukti Redakan Mimpi Buruk Akibat PTSD dalam Uji Klinis Besar
Mimpi buruk yang berulang jadi salah satu gejala PTSD paling menyiksa dan paling sulit diobati. Kini, uji klinis besar di Jerman menunjukkan senyawa aktif dalam ganja bisa jadi jawabannya.
Sebuah obat berbasis THC (tetrahidrokanabinol) terbukti signifikan meredakan mimpi buruk terkait trauma pada penderita gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD), menurut studi klinis terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine. Lebih dari sepertiga pasien yang menerima obat tersebut melaporkan mimpi buruk mereka hilang sepenuhnya setelah sepuluh minggu pengobatan.
Mimpi Buruk, Gejala PTSD yang Paling Menyiksa
Mimpi buruk merupakan salah satu gejala paling mengganggu dari PTSD, kondisi yang bisa muncul setelah seseorang mengalami bencana, kecelakaan serius, kekerasan, pertempuran, atau trauma berat lainnya. Saat tidur, penderita PTSD bisa merasa seolah mengalami kembali kejadian traumatis tersebut dengan detail yang sangat nyata. Episode berulang ini dapat menyebabkan kehilangan tidur parah, bahkan membuat sebagian penderita merasa takut untuk tidur.
Studi Ganda-Buta Melibatkan Lebih dari 170 Pasien
Penelitian yang dipimpin Prof. Stefan Röpke dari Departemen Psikiatri dan Neurosains, Campus Benjamin Franklin, Charité–Universitätsmedizin Berlin ini melibatkan lebih dari 170 partisipan penderita PTSD dengan mimpi buruk yang intens dan sering terjadi. Selama periode sepuluh minggu, para partisipan menerima obat dronabinol — bentuk THC farmasi berupa tetes minyak — atau tetes plasebo dengan rasa serupa ganja setiap malam sebelum tidur.
Baik tenaga kesehatan maupun partisipan sama-sama tidak mengetahui siapa yang menerima obat sungguhan atau plasebo, menjadikan penelitian ini uji klinis acak, tersamar ganda (double-blind), terkontrol plasebo — standar emas dalam riset medis.
Hasil: Penurunan Signifikan Dibanding Plasebo
Pada akhir periode studi, mimpi buruk pada kelompok yang menerima dronabinol menurun secara signifikan dibanding kelompok plasebo. Pada skala nol hingga delapan poin, beban mimpi buruk turun rata-rata 3,7 poin pada kelompok dronabinol, dibanding hanya 2,2 poin pada kelompok plasebo — perbedaan yang jelas terasa bagi mereka yang mengalaminya.
"Lebih dari sepertiga pasien yang diobati dengan dronabinol melaporkan mereka tidak lagi mengalami mimpi buruk sama sekali setelah 10 minggu," kata Röpke. Secara spesifik, mimpi buruk sepenuhnya hilang pada 37 persen pasien yang menerima dronabinol, dibanding hanya 15 persen pada kelompok yang menerima plasebo.
Efek Samping Lebih Banyak, tapi Tingkat Berhenti Pengobatan Lebih Rendah
Kelompok yang menerima dronabinol memang melaporkan lebih banyak efek samping dibanding kelompok plasebo. Namun menariknya, persentase pasien yang menghentikan pengobatan akibat efek samping justru lebih rendah pada kelompok dronabinol dibanding kelompok plasebo — indikasi bahwa manfaat yang dirasakan pasien cukup besar untuk membuat mereka tetap melanjutkan pengobatan meski mengalami efek samping.
Mengisi Kekosongan Pilihan Pengobatan yang Terbatas
Para peneliti mencatat pilihan pengobatan khusus untuk mimpi buruk terkait PTSD selama ini masih sangat terbatas. Obat antidepresan golongan SSRI dan SNRI memang terbukti efektif mengatasi gejala PTSD secara umum, namun tidak khusus untuk mimpi buruk yang menyertainya. Sementara itu, prazosin — obat penghambat reseptor alpha-1 adrenergik yang kerap diresepkan di luar indikasi resmi untuk mimpi buruk PTSD — sempat menunjukkan hasil baik dalam sejumlah studi kecil, namun gagal mengungguli plasebo dalam uji klinis besar yang melibatkan 304 veteran militer pada 2018.
Perhatian pun kian beralih ke golongan kanabinoid sebagai opsi pengobatan potensial, meski para peneliti menekankan bahwa hasil ini bersifat spesifik untuk gejala mimpi buruk, bukan pengobatan menyeluruh untuk seluruh gejala PTSD.
Bukan Pengganti Terapi Utama
Meski hasil studi ini menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa psikoterapi berfokus trauma tetap menjadi pengobatan utama PTSD, karena secara langsung menangani penghindaran, rasa takut yang terkondisikan, ingatan traumatis, dan keyakinan yang terdistorsi — bukan sekadar menekan gejala. Dronabinol berpotensi menjadi terapi tambahan bagi pasien tertentu yang mimpi buruknya tetap parah meski sudah menjalani perawatan standar, dengan harapan tidur yang lebih baik bisa membuat proses psikoterapi lebih mudah dijalani.
Sejauh ini, dronabinol belum banyak tersedia secara luas, termasuk di Jerman tempat penelitian ini dilakukan. Para peneliti berharap temuan ini bisa menjadi dasar bagi ketersediaan pengobatan yang lebih luas ke depan, khususnya bagi kelompok seperti veteran perang yang sering mengalami PTSD kronis disertai mimpi buruk berulang.
Catatan: dronabinol adalah obat resep yang memerlukan pengawasan dokter. Artikel ini bersifat informasi berdasarkan hasil riset ilmiah, bukan anjuran pengobatan mandiri. Konsultasikan dengan tenaga medis profesional untuk penanganan PTSD atau gangguan tidur yang kamu alami.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.