Google Rilis Gemini 4 Argon, Unggul di 13 dari 18 Benchmark tapi Belum Bisa Dipakai Publik
Web:BlogGoogle
Model AI paling kuat yang pernah dibuat Google tidak jatuh pertama ke tangan pengguna Gemini atau developer. Yang mendapat giliran pertama justru segelintir peneliti keamanan siber—dan publik masih harus menunggu.
Google memperkenalkan Gemini 4 Argon pada Rabu (30/9/2026) dan menyebutnya model paling mumpuni yang pernah dikembangkan Google DeepMind. Akses awal hanya dibuka untuk mitra keamanan siber terpilih melalui Fairwind Program. Pelanggan API berbayar dan pelanggan Google AI Ultra dijanjikan menyusul "secepatnya" setelah tahap uji bertahap selesai. Menurut VentureBeat, perluasan akses itu juga menunggu rampungnya akses pra-rilis untuk pemerintah Amerika Serikat.
Unggul di 13 dari 18 Benchmark yang Diungkap
Dari 18 benchmark yang dibuka Google, Argon memimpin atau menyamai pesaingnya di 13 di antaranya, menurut hitungan VentureBeat. Pembandingnya adalah GPT-6 Astra dari OpenAI dan Claude Opus 5.5 dari Anthropic.
Di DeepSWE v1.1, benchmark rekayasa perangkat lunak dunia nyata, Argon mencetak 77,9 persen. Claude Opus 5.5 berada di 74,2 persen dan GPT-6 Astra di 74,1 persen. Selisih paling lebar muncul di Harvey Legal Agent untuk pekerjaan hukum: Argon 19,6 persen, jauh di atas GPT-6 Astra (5,4 persen) dan Claude Opus 5.5 (3,8 persen).
Di AutomationBench, yang menguji otomatisasi fungsi bisnis dari awal sampai akhir, Argon meraih 51,3 persen dan menempati peringkat pertama. Claude Opus 5.5 mencatat 42,5 persen, sementara GPT-6 Astra 41,4 persen.
Masih Tertinggal di Tugas Berbasis Terminal
Argon tidak menang di semua lini. Untuk tugas coding yang dijalankan lewat terminal, kedua pesaing masih unggul. Di Terminal-bench 4.0, Claude Opus 5.5 mencetak 66,4 persen, sedangkan Argon 57,4 persen. Di FrontierSWE v2, GPT-6 Astra mencatat 65,5 persen, jauh di atas Argon yang berada di 55 persen.
Semua angka ini berasal dari data yang dirilis Google sendiri. Pengujian independen baru bisa dilakukan secara luas setelah model dibuka untuk publik.
Dipakai Internal untuk Migrasi 800 Ribu Baris Kode ke Rust
Karyawan Google sudah memakai Argon untuk pekerjaan harian sebelum pengumuman resmi. Dalam tulisan di blog resmi Google, SVP Google DeepMind sekaligus Chief AI Architect, Koray Kavukcuoglu, memaparkan sejumlah contohnya.
Argon dipakai untuk memigrasikan lebih dari 800.000 baris kode C/C++ ke Rust. Model ini juga membantu membebaskan 300 TiB memori di infrastruktur Google, dengan potensi penghematan total diperkirakan 500 TiB hingga 1 PiB. Di proyek lain, Argon membuat sebuah decoder video berjalan 2,7 kali lebih cepat.
Output 1 Juta Token, Harga Perkenalan Separuh Opus
Batas output Argon naik menjadi 1 juta token, dari sebelumnya 64.000 token. Kapasitas sebesar ini relevan untuk pekerjaan panjang seperti menulis ulang modul besar atau menghasilkan dokumen teknis dalam satu kali jalan.
Selama masa perkenalan, harganya $2 per juta token input dan $10 per juta token output. Setelah itu tarif naik menjadi $4 dan $20, sama dengan harga Claude Opus 5.5. Sebagai pembanding, GPT-6 Astra dipatok $10 untuk input dan $50 untuk output. Input yang di-cache mendapat potongan 95 persen.
Kenapa Peneliti Keamanan Dapat Giliran Pertama
Google menonjolkan kemampuan Argon menemukan, memvalidasi, dan menambal celah keamanan perangkat lunak secara mandiri. Di CWE-bench v1, yang mengukur kemampuan memperbaiki kerentanan, Argon mencetak 68 persen, sama dengan GPT-6 Astra dan sedikit di atas Claude Opus 5.5 (67 persen).
Perusahaan keamanan Wiz, yang sudah menguji Argon lewat inisiatif Scan for Good, mengaku menemukan celah kritis di sistem layanan kesehatan yang terlewat oleh model-model sebelumnya. Kemampuan yang sama berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. Google menyebut sudah menguji ketahanan Argon terhadap serangan prompt injection dan memasang pemantauan internal untuk mendeteksi penyalahgunaan.
Pertanyaan berikutnya adalah kapan "secepatnya" versi Google benar-benar tiba bagi developer dan pengguna Gemini. Pada hari yang sama, Bloomberg melaporkan Google juga sedang menghadapi skeptisisme dari sebagian karyawannya sendiri terhadap model ini.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.