IHSG Dibuka Turun 0,97% ke 4.857 usai Anjlok 3,78%, Penyadapan dan MSCI Bayangi Pasar
Level 5.000 yang berminggu-minggu dijaga pelaku pasar kini tinggal catatan sejarah. Rabu pagi, IHSG justru mencari lantai baru di bawahnya, sementara investor menimbang kasus penyadapan, ujian MSCI, dan pemilu sela Amerika Serikat sekaligus.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 47,33 poin atau 0,97 persen ke 4.856,96 pada pembukaan perdagangan Rabu (4/11/2026). Menurut pantauan CNBC Indonesia, pada pukul 09.00 WIB indeks sudah berada di 4.831,14, turun 73,15 poin atau 1,49 persen, dengan titik terendah awal sesi di 4.828,92.
Penutupan Selasa Jadi Titik Terendah sejak 2020
Pelemahan pagi ini melanjutkan hari yang berat. Pada Selasa (3/11/2026), IHSG ditutup anjlok 3,78 persen atau 192,54 poin ke 4.904,29, setelah sempat dibuka di sekitar 5.126. Data Bloomberg Technoz menyebut level itu terendah sejak pertengahan 2020, dengan nilai transaksi Rp11,72 triliun.
Seluruh sektor ikut tertekan, dan sektor basic materials turun paling dalam, 5,69 persen. Menurut catatan Kontan, 624 saham turun dan hanya 57 saham yang menguat. Investor asing mencatat net sell (penjualan bersih) Rp575 miliar di seluruh pasar. Saham yang paling banyak dibeli asing antara lain ENRG sebesar Rp237,97 miliar, disusul BMRI Rp74,13 miliar dan BRIS Rp48 miliar.
Sebelumnya, perdagangan Senin (2/11/2026) sudah dibuka melemah, seperti dilaporkan dalam ulasan pembukaan IHSG Senin di CompileDaily.
Penyadapan, MSCI, dan Pemilu Sela AS
CNBC Indonesia mencatat sejumlah sentimen yang membayangi pembukaan hari ini. Bareskrim Polri telah menetapkan tiga tersangka dalam dugaan penyadapan ilegal yang menyasar nomor telepon sejumlah pihak, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Kasus itu dikhawatirkan memengaruhi kepercayaan investor, dan seluruh tuduhan masih berstatus dugaan.
Dari sisi pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan aspek penegakan hukum belum memenuhi ekspektasi MSCI. Keterbukaan informasi, transparansi, dan likuiditas dinilai sudah terpenuhi. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai stabilitas keuangan terjaga sepanjang kuartal III-2026, meski tekanan meningkat memasuki Oktober.
Dari luar negeri, pasar menanti hasil pemilu sela AS. Data lowongan kerja JOLTs September 2026 naik menjadi 7,523 juta, melampaui ekspektasi. Di Wall Street, Nasdaq naik 0,83 persen dan S&P 500 naik 0,36 persen, tetapi Dow Jones turun 0,38 persen. Harga minyak Brent turun 1,12 persen ke US$103,60 per barel.
Rupiah Kokoh, Sinyal BI Rate Naik Mencuat
Rupiah ditutup di Rp18.135 per dolar AS pada Selasa, menguat tipis 0,03 persen. Imbal hasil SBN 10 tahun stagnan di 7,707 persen. Tim Ekonom BCA menilai pelemahan rupiah dan arus modal asing keluar dapat mendorong Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter lebih ketat, sedangkan Permata Bank memperkirakan BI Rate naik 25 basis poin ke 6,00 persen pada November 2026.
Analis Pasang Support di Kisaran 4.763–4.847
Menurut Liputan6, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan tren turun berlanjut dengan zona koreksi 4.763–4.845. Ia menyebut support di 4.847 dan 4.763, serta resistance di 5.143 dan 5.247. "Tidak menutup kemungkinan akan ada peluang technical rebound 4.908-4.914," ujarnya.
Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan support dan resistance di 4.815–5.185 dengan volatilitas yang masih tinggi. Reliance Sekuritas, seperti dikutip Investor.id, membaca support di 4.841 dan resistance di 4.962 serta menilai indeks berpeluang melanjutkan penurunan.
Pada menit-menit awal, menurut Investor.id, 73 saham naik, 420 turun, dan 117 stagnan. TMPO menjadi satu-satunya penguat yang disebut di antara lima saham dengan kenaikan tajam.
Yang kini ditunggu pasar adalah apakah support 4.847 bertahan sampai sesi pertama usai, dan bagaimana hasil neraca perdagangan AS yang dijadwalkan rilis pukul 20.30 WIB malam ini.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi beli atau jual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca, yang sebaiknya menimbang profil risiko masing-masing.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.