Menkes: Belanja Kesehatan Rp640 Triliun Tak Kuat jika Hanya Mengobati, Dorong Triple 80
Menteri yang mengurus kesehatan 280 juta orang mengaku bicara dari sudut pandang bankir: kalau layanan tetap berpusat pada pengobatan, negara tidak akan sanggup membayarnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan Indonesia tidak akan kuat membiayai layanan kesehatan bagi seluruh penduduk jika pendekatan yang dipakai tetap berfokus pada pengobatan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Kongres Nasional XVI dan Forum Ilmiah Tahunan XII Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di kompleks MPR/DPR, Jakarta, Jumat (30/10/2026), seperti dilaporkan Kompas.com. Ia mendorong ahli kesehatan masyarakat berperan lebih besar dalam menjaga orang tetap sehat, bukan hanya mengobati yang sakit.
"Enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia" jika pendekatannya kuratif, kata Budi, yang menyebut dirinya berbicara dari sudut pandang bankir. Menurut dia, layanan promotif dan preventif jauh lebih murah, dan pemerintah kini bergeser ke arah itu lewat program seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Perbandingan Belanja dan Usia Harapan Hidup
Budi memaparkan perbandingan belanja kesehatan per kapita per tahun dengan usia harapan hidup. Amerika Serikat membelanjakan sekitar US$11.900 dengan usia harapan hidup sekitar 79 tahun. Jepang sekitar US$5.500 dengan usia sekitar 84 tahun, dan Singapura sekitar US$3.300 dengan usia sekitar 84 tahun. Kuba dan Panama sekitar US$1.900 dengan usia harapan hidup yang menurut Budi serupa dengan Amerika Serikat.
Malaysia berada di sekitar US$430 per kapita dengan usia harapan hidup 76 tahun, sedangkan Indonesia sekitar US$130 per kapita dengan usia sekitar 74 tahun. Belanja kesehatan Indonesia saat ini sekitar Rp640 triliun. Angka itu sejalan dengan hitungan kasar: Rp640 triliun dibagi 280 juta penduduk dan kurs Rp17.000 per dolar AS menghasilkan sekitar US$134 per kapita.
Angka Rp1.800 Triliun Perlu Dicermati
Liputan6 melaporkan bahwa untuk mendekati Malaysia, Budi menyebut kebutuhan belanja sekitar Rp1.800 triliun, kira-kira tiga kali lipat anggaran sekarang. Asumsi yang disebut dalam laporan itu adalah US$300 per kapita, penduduk 280 juta, dan kurs Rp17.000.
Perkalian atas asumsi tersebut menghasilkan sekitar Rp1.428 triliun, bukan Rp1.800 triliun. Angka Rp1.800 triliun setara sekitar US$378 per kapita pada kurs dan jumlah penduduk yang sama. Selisih ini belum dijelaskan dalam laporan yang kami rujuk, sehingga pembaca sebaiknya memperlakukan Rp1.800 triliun sebagai pernyataan lisan menteri yang belum terkonfirmasi rinciannya.
Triple 80 dan Target 50 Persen
Untuk menekan kematian akibat penyakit kardiovaskular, termasuk stroke, jantung, dan ginjal, Budi mengusung strategi yang ia sebut Triple 80. Menurut Liputan6, maksudnya tiga capaian: 80 persen penduduk menjalani pemeriksaan kesehatan, 80 persen dari yang hasilnya bermasalah mendapat pengobatan, dan 80 persen dari yang diobati mencapai kondisi terkendali.
Budi menyatakan penelitian di banyak negara menunjukkan pendekatan ini bisa menurunkan kematian akibat penyakit tersebut hingga 80 persen. Itu klaim menteri; laporan yang kami rujuk tidak menyebut studi rujukannya maupun angka kematian dasar di Indonesia.
Target jangka pendeknya lebih rendah. Sebelum ia pensiun atau pindah jabatan, Budi ingin 50 persen populasi sudah diskrining, 50 persen dari kelompok bermasalah mendapat pengobatan, dan 50 persen dari yang diobati terkendali. Ia mencontohkan obat yang dimaksud: amlodipin untuk tekanan darah tinggi, metformin untuk gula darah tinggi, dan statin untuk kolesterol tinggi.
Cakupan Cek Kesehatan Gratis Naik
Budi juga menyebut jumlah peserta CKG: sekitar 70 juta orang tahun lalu, 111 juta orang bulan lalu, dan 130 juta orang bulan ini. Angka-angka ini bersumber dari paparan menteri dalam laporan Liputan6 dan belum kami konfirmasi lewat data resmi Kemenkes. Hasil CKG sebelumnya sudah kami tulis, antara lain temuan 7,13 juta kasus hipertensi dan skrining mental yang menemukan 7 juta dari 70 juta warga terindikasi gangguan, dengan temuan bahwa tenaga dan layanan lanjutan belum siap.
Skrining hanyalah lapis pertama Triple 80. Dua lapis berikutnya, pengobatan dan pengendalian, bergantung pada ketersediaan puskesmas, obat, dan tenaga medis. Pertanyaan yang belum terjawab adalah dari mana tambahan dana dan tenaga akan datang, sementara angka kebutuhan anggarannya sendiri masih menunggu penjelasan lebih rinci dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda, termasuk penggunaan obat tekanan darah, gula darah, atau kolesterol, dengan dokter atau tenaga medis.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.