Cek Kesehatan Gratis Temukan 7,13 Juta Kasus Hipertensi, Hanya 11% yang Sudah Berobat
Klik Dokter
Tekanan darah tinggi jarang memberi tanda sebelum terlambat. Data terbaru program pemeriksaan kesehatan massal pemerintah menunjukkan masalahnya bukan lagi soal menemukan penderita, melainkan membuat mereka mau berobat.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 menemukan 7,13 juta kasus hipertensi dari 73,1 juta peserta yang diperiksa tekanan darahnya hingga Selasa (6/10/2026). Dari jumlah itu, baru 755.907 orang atau sekitar 11 persen yang tercatat menjalani pengobatan. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memaparkan data tersebut dalam rapat kerja di Jakarta, seperti dilaporkan Headline.co.id.
Enam Juta Lebih Penderita Hipertensi Belum Tertangani
Jika dihitung dari dua angka itu, sekitar 6,37 juta peserta yang terdeteksi hipertensi belum masuk jalur pengobatan. Padahal obat untuk penyakit ini tersedia gratis di puskesmas.
Angka yang mengintai di belakangnya juga tidak kecil. Pemeriksaan yang sama mencatat 7,25 juta peserta, atau 9,9 persen, berada di tahap prahipertensi. Artinya, kelompok yang tekanan darahnya sudah di ambang batas jumlahnya hampir menyamai mereka yang sudah resmi didiagnosis.
Diabetes Bernasib Serupa, Hanya 13 Persen Berobat
Untuk diabetes, CKG menemukan 1,19 juta kasus atau 2,2 persen dari peserta yang diperiksa gula darahnya. Yang tercatat aktif berobat hanya 151.552 orang, sekitar 13 persen. Sebanyak 2,49 juta peserta lain (4,5 persen) masuk kategori prediabetes.
Kolesterol menjadi masalah yang lebih luas lagi. Di antara peserta berusia di atas 40 tahun yang punya riwayat hipertensi atau diabetes, 72,7 persen mengalami dislipidemia, yakni kadar lemak darah yang tidak normal. Jumlahnya mencapai 256.485 orang.
Menkes: Stroke dan Cuci Darah Mengintai dalam 3–5 Tahun
Budi mengaitkan temuan ini langsung dengan pola kematian di Indonesia. "Di Indonesia kematian paling tinggi karena stroke, nomor dua serangan jantung, nomor tiga kanker, nomor empat ginjal," ujarnya. Tiga dari empat penyebab itu, menurut dia, berakar pada hipertensi, diabetes, dan kolesterol.
Ia meminta peserta yang hasil pemeriksaannya bermasalah tidak menunda pengobatan. "Kalau didiamkan saja merasa dirinya sehat, 3 sampai 5 tahun nanti bisa kena stroke atau cuci darah," kata Budi.
Gigi Berlubang Jadi Temuan Paling Banyak
Di luar penyakit kronis, karies gigi justru menjadi temuan terbanyak. Dari 53,9 juta peserta yang menjalani pemeriksaan gigi, 17.538.649 orang atau 32,5 persen memiliki gigi berlubang, sebagaimana dicatat Vibizmedia.
Peserta Tembus 105 Juta, Target 130 Juta
Secara keseluruhan, jumlah peserta CKG mencapai 105.073.600 orang hingga awal Oktober 2026, dari target 130.344.650 orang tahun ini. Capaian itu setara sekitar 80,6 persen target. Pendaftar tercatat 109.926.551 orang, dengan rata-rata 510.065 peserta dilayani per hari dan puncak harian 739.786 peserta pada 27 Juli 2026.
Program ini sudah menjangkau seluruh 514 kabupaten/kota dan berjalan di 10.318 puskesmas, atau 99,8 persen dari total puskesmas. Jawa Tengah menyumbang peserta terbanyak dengan 19,6 juta orang, disusul Jawa Timur 18 juta dan Jawa Barat 14,2 juta. Anggaran yang dialokasikan untuk CKG tahun ini sekitar Rp1,6 triliun.
"Cek kesehatan gratis adalah salah satu program yang intinya ingin menjaga agar masyarakat kita tetap sehat. Jangan hanya mengobati pada saat sakit," kata Budi. Skrining CKG sebelumnya juga dipakai Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memetakan gejala cemas dan depresi pada jutaan anak.
Dengan sisa sekitar 25 juta peserta menuju target dan kurang dari tiga bulan sebelum tahun berakhir, pertanyaannya bergeser: berapa banyak dari 6 juta lebih penderita hipertensi yang belum berobat itu bisa ditarik ke puskesmas sebelum komplikasi datang lebih dulu.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Jika memiliki tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, atau keluhan kesehatan lain, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.