CompileDaily
Inflasi

Di Balik Inflasi 2,88%: Kenapa Harga Pangan Turun tapi Komoditas Global Justru Naik 25%

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Data BPS menunjukkan pola yang tidak biasa — inflasi headline melandai ke level terendah sejak April, namun tekanan dari harga komoditas global justru menguat tajam di periode yang sama.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 111,73. Angka ini turun signifikan dari 3,34 persen pada Juni 2026, dan menjadi level inflasi tahunan terendah yang tercatat sejak April tahun ini. Secara bulanan (month-to-month), Indonesia bahkan mengalami deflasi tipis sebesar 0,14 persen pada Juli, sementara inflasi sepanjang tahun berjalan (year-to-date) tercatat 1,65 persen — masih berada nyaman di dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Komponen Volatile Food Jadi Penggerak Utama Penurunan

Penurunan inflasi bulan Juli terutama didorong oleh melambatnya inflasi komponen bergejolak (volatile food) — kelompok harga pangan yang cenderung fluktuatif seperti bahan makanan segar. Komponen ini melambat tajam menjadi 2,52 persen y-on-y pada Juli 2026, turun signifikan dari 5,58 persen pada Juni 2026. Perlambatan ini sejalan dengan membaiknya produksi sejumlah komoditas hortikultura, yang pada gilirannya menekan harga di tingkat konsumen.

Sementara itu, inflasi inti (core inflation) — komponen yang mencerminkan tren harga jangka panjang tanpa dipengaruhi gejolak harga pangan dan kebijakan pemerintah — relatif stabil di angka 2,76 persen y-on-y. Berbeda dengan kedua komponen tersebut, inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru mengalami kenaikan, dari 3,42 persen pada Juni menjadi 3,58 persen pada Juli 2026.

Paradoks: Harga Komoditas Global Melonjak 25%, tapi Tak Sepenuhnya Terasa di Dalam Negeri

Yang menarik dari data ini adalah kontrasnya dengan tren harga komoditas global. Bloomberg Commodity Index tercatat naik sebesar 25,27 persen secara tahunan — lonjakan yang cukup signifikan di pasar global. Namun kenaikan harga komoditas dunia ini belum sepenuhnya tercermin dalam inflasi domestik Indonesia, terutama berkat perbaikan pasokan pangan lokal yang berhasil meredam tekanan dari sisi volatile food.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan stabilisasi harga pangan domestik — termasuk program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digencarkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) — cukup efektif menahan laju kenaikan harga di tengah tekanan harga komoditas dunia yang justru sedang menguat.

Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga di 5,75%

Lihat Layanan Kami

Merespons dinamika inflasi ini, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Keputusan ini diambil setelah bank sentral sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali berturut-turut masing-masing 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 9 Juni dan 17-18 Juni 2026 — langkah yang saat itu diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam rentang target yang ditetapkan.

Dengan inflasi yang kini melandai ke 2,88 persen dan masih berada nyaman di tengah rentang target BI, ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan suku bunga saat ini relatif terbuka lebar, tanpa tekanan mendesak untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Ancaman El Niño Membayangi Proyeksi ke Depan

Meski data terkini menunjukkan tren yang menggembirakan, pemerintah dan otoritas terkait tetap mewaspadai sejumlah risiko ke depan. Salah satu yang paling disorot adalah potensi dampak fenomena El Niño terhadap produksi pangan domestik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan sekitar 71,55 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah (0-10 mm) pada Agustus 2026 — angka yang diperkirakan semakin meluas menjadi 77,46 persen pada September 2026.

Kondisi cuaca kering yang meluas ini berisiko menekan produksi padi dan komoditas hortikultura — dua sektor yang justru menjadi faktor utama di balik penurunan inflasi volatile food pada Juli lalu. Apabila produksi kedua komoditas ini terganggu akibat kekeringan, tren penurunan inflasi yang sudah terbentuk berpotensi berbalik arah pada bulan-bulan mendatang.

Antisipasi Pemerintah terhadap Risiko El Niño

Menyadari risiko tersebut, Bapanas menyatakan telah memperkuat program stabilisasi harga pangan melalui Gerakan Pangan Murah, sekaligus memastikan ketersediaan stok pangan nasional tetap aman hingga akhir 2026. Sejumlah kebijakan dan langkah antisipasi lain juga telah disiapkan pemerintah untuk meminimalisir dampak potensi El Niño terhadap ketahanan pangan dan stabilitas harga domestik.

Dengan kombinasi antara tren inflasi yang membaik namun ancaman cuaca kering yang mengintai di semester kedua tahun ini, pertanyaan yang tersisa adalah seberapa efektif langkah-langkah stabilisasi pemerintah dalam mempertahankan tren inflasi rendah ini hingga penghujung 2026 — terutama jika prediksi BMKG soal meluasnya wilayah berkategori curah hujan rendah benar-benar terealisasi dalam beberapa bulan mendatang.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.