CompileDaily
Inflasi

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Tertinggi Tahun Ini Dipicu Cabai, Beras, dan Emas

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Tertinggi Tahun Ini Dipicu Cabai, Beras, dan Emas

Original:AdminCompileDaily

Angka inflasi inti justru melambat. Yang membuat harga terasa makin mahal di pasar adalah barang-barang yang paling sering dibeli rumah tangga: cabai, ayam, beras, dan telur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen, tertinggi sepanjang tahun ini. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31. Secara bulanan inflasi tercatat 0,30 persen, sedangkan inflasi tahun kalender Januari–September mencapai 2,17 persen. Angka-angka itu diumumkan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, di Jakarta pada Kamis (1/10/2026).

Naik dari 3,19 Persen pada Agustus

Sebulan sebelumnya, inflasi tahunan berada di level 3,19 persen. Angka September sedikit di bawah konsensus ekonom 3,3 persen dan masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI) 2,5 plus minus 1 persen, tetapi kini makin dekat ke batas atas 3,5 persen.

"Pada September tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan," kata Ateng. Secara bulanan, IHK bergerak dari 111,97 pada Agustus ke 112,31.

Pangan Bergejolak Melonjak ke 5,03 Persen

Tekanan terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi tahunan 4,37 persen dengan andil 1,28 persen. Komoditas penyumbangnya antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, dan rokok.

Secara bulanan, kelompok yang sama mencatat inflasi 0,88 persen dengan andil 0,26 persen. Cabai rawit sendirian menyumbang andil 0,08 persen. Komponen harga bergejolak, yang berisi cabai, ayam, beras, telur, dan sayuran, naik 1,46 persen dibanding Agustus.

Lihat Layanan Kami

Dalam hitungan tahunan, inflasi komponen bergejolak melonjak ke 5,03 persen dari 4,06 persen pada bulan sebelumnya. Penurunan produksi di sejumlah daerah akibat cuaca buruk serta biaya input yang tinggi disebut menjadi pemicunya.

Emas Perhiasan dan BBM Ikut Mendorong

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan paling tinggi, yakni 7,77 persen dengan andil 0,53 persen. Pendorong utamanya adalah emas perhiasan, seiring tren kenaikan harga emas dunia.

Kelompok transportasi mengalami inflasi 4,84 persen dengan andil 0,58 persen, didorong bensin, tarif angkutan udara, dan oli. Komponen harga yang diatur pemerintah tercatat 3,25 persen secara tahunan, sedikit turun dari 3,32 persen pada Agustus, karena kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sebagian diimbangi turunnya tarif pesawat.

Inflasi Inti Justru Melambat

Inflasi inti malah turun ke 2,84 persen secara tahunan dari 2,92 persen pada Agustus. Secara bulanan, inflasi inti hanya 0,10 persen dengan biaya pendidikan sebagai penyumbang utama, melambat dari 0,21 persen sebulan sebelumnya.

Polanya cukup jelas: permintaan barang dan jasa secara umum tidak sedang memanas, tetapi harga pangan dan emas mendorong angka utama naik. Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, yang porsi belanja pangannya paling besar, kenaikan ini terasa lebih berat dibanding angka rata-rata nasional. Dari 38 provinsi, 36 mencatat inflasi bulanan. Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi, sementara Nusa Tenggara Timur mengalami deflasi terdalam sebesar 0,35 persen.

Rilis Oktober berikutnya akan menunjukkan apakah tekanan pangan mulai reda atau justru bertambah. Harga BBM nonsubsidi yang kembali naik Rp300–Rp1.100 per liter pada 1 Oktober, ditambah harga minyak Brent yang bertahan di atas $100 per barel, membuat inflasi tahunan bisa menyentuh batas atas sasaran BI lebih cepat dari perkiraan.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.