Inflasi Oktober 2026 Turun Tipis ke 3,23% dari 3,28%, Cabai Merah Dorong Kenaikan Bulanan 0,22%
Angka tahunan melandai, tetapi bukan karena harga mereda. Dari inflasi bulanan 0,22 persen, cabai merah sendirian menyumbang 0,13 poin.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 0,22 persen secara bulanan (month to month), 3,23 persen secara tahunan (year on year), dan 2,40 persen sepanjang tahun berjalan (year to date). Data diumumkan Senin (2/11/2026) dan dilaporkan ANTARA. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 112,31 pada September menjadi 112,56, dan dari 109,04 pada Oktober 2025.
Cabai Merah Sumbang 0,13 Poin dari Inflasi Bulanan
Kelompok harga bergejolak mencatat inflasi 0,77 persen dengan andil 0,13 persen. "Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,77%," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, seperti dikutip Suara.com. Komponen inti naik 0,12 persen (andil 0,07 persen) dan harga yang diatur pemerintah naik 0,09 persen (andil 0,02 persen).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong terbesar secara bulanan, naik 0,51 persen dengan andil 0,15 persen. IHK bertambah 0,25 poin dari 112,31 ke 112,56, setara kenaikan 0,22 persen.
Komoditas penyumbang terbesar adalah cabai merah (andil 0,13 persen), cabai rawit (0,05 persen), dan tomat (0,04 persen). Sawi hijau, labu siam, dan sawi putih masing-masing menyumbang 0,01 persen, sama dengan tarif angkutan udara. Republika mengutip penjelasan bahwa produksi cabai merah menurun di sentra utama, sedangkan cabai rawit turun di beberapa daerah produsen.
Tahunan Turun Tipis, Pangan dan Transportasi Masih Tinggi
Inflasi tahunan 3,23 persen berarti turun 0,05 poin dari 3,28 persen pada September, rekor tertinggi tahun ini saat itu. Inflasi bulanan pun melambat dari 0,30 persen pada September, berdasarkan pemberitaan Kontan dan RCTI+. Setahun sebelumnya, BPS mencatat inflasi tahunan Oktober 2025 sebesar 2,86 persen, sehingga selisih dengan angka tahun ini 0,37 poin.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan 4,82 persen dengan andil terbesar, 1,40 persen. Komoditas dominannya cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, rokok kretek mesin, dan daging sapi. Transportasi naik 4,87 persen dengan andil 0,59 persen, didorong bensin, tarif angkutan udara, oli mesin, sepeda motor, mobil, dan biaya servis kendaraan.
Jika andil ketiga kelompok itu dijumlahkan (1,40 + 0,59 + 0,32), hasilnya 2,31 poin dari total inflasi tahunan 3,23 persen. Artinya, sekitar 71 persen inflasi tahunan berasal dari makanan, transportasi, dan perawatan pribadi, perhitungan yang bisa diulang langsung dari angka BPS di atas.
Emas Perhiasan dan Selisih Antarprovinsi
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 4,52 persen dengan andil 0,32 persen, terutama karena emas perhiasan. "Jadi untuk year on year, emas perhiasan masih mengalami inflasi," kata Ateng.
Seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan. Menurut Suara.com, Sulawesi Utara tertinggi di 8,07 persen, sedangkan DKI Jakarta terendah di 2,52 persen. Selisihnya 5,55 poin persentase. Untuk perbandingan, analisis kami tentang inflasi 2,88 persen pada Juli membahas bagaimana harga pangan dan komoditas global bergerak berlawanan.
Tarif Udara dan Batas Fuel Surcharge
Tarif angkutan udara memberi andil 0,01 persen. Republika mencatat harga avtur pada Oktober tidak naik dari September, sementara Kementerian Perhubungan menetapkan batas maksimal fuel surcharge (biaya tambahan bahan bakar) 40 persen untuk kelas ekonomi penerbangan domestik mulai 1 Oktober 2026.
Rilis berikutnya, data November, akan menunjukkan apakah harga cabai ikut mereda atau justru menahan inflasi bulanan di atas 0,2 persen.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.