CompileDaily
Inflasi

Ekonomi Asia Berhasil Hindari Guncangan Energi berkat Bantalan Fiskal dan Ledakan AI

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Perang di Timur Tengah sempat diperkirakan bakal menghantam keras ekonomi Asia yang sangat bergantung pada impor minyak. Nyatanya, kuartal lalu justru mencatatkan pertumbuhan solid yang jauh dari skenario terburuk.

Ekonomi-ekonomi Asia, dari India hingga Malaysia dan Australia, berhasil menghindari berbagai skenario terburuk dan mencatatkan pertumbuhan solid pada kuartal lalu. Pencapaian ini didorong pemerintah yang bergerak cepat mengamankan pasokan energi, serta neraca keuangan yang relatif sehat untuk meredam dampaknya terhadap rumah tangga. Ledakan kecerdasan buatan (AI) secara global turut terbukti datang di waktu yang tepat, membantu menopang pertumbuhan kawasan.

Berawal dari Guncangan Harga Energi Akibat Konflik Timur Tengah

Konflik yang berkecamuk di Iran sejak akhir Februari lalu, ditambah ketidakpastian soal kendali Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar 90 persen minyak menuju kawasan Asia — sempat memicu kekhawatiran besar akan krisis energi berkepanjangan bagi kawasan yang sangat bergantung pada impor minyak, gas, dan produk olahan minyak dari Timur Tengah. Harga minyak dan energi sempat melonjak tajam, meski kenaikannya terbukti tidak seinflasi lonjakan serupa pada 2022.

Namun berkat kombinasi diversifikasi sumber pasokan, mobilisasi cadangan energi, dan penyesuaian permintaan yang cepat oleh otoritas di berbagai negara, kawasan ini berhasil membatasi risiko kelangkaan pasokan. Pasar keuangan negara berkembang di kawasan ini juga tidak mengalami kehilangan kepercayaan investor secara meluas, dengan bantalan makroekonomi yang jauh lebih kuat dibanding krisis energi musim panas 2022.

AI Jadi Mesin Pertumbuhan Paling Kuat

Mesin pertumbuhan paling kuat datang dari kawasan Asia sendiri: permintaan global untuk chip, data center, dan produk elektronik terkait AI berhasil mengimbangi sebagian dampak guncangan harga minyak, sekaligus membentuk ulang neraca eksternal sejumlah negara berkembang. Investasi pada infrastruktur fisik AI serta permintaan global terhadap chip dan barang elektronik lain terus menopang pertumbuhan dan neraca eksternal berbagai ekonomi berkembang di kawasan — bahkan pada sejumlah kasus, manfaatnya melebihi kerugian akibat guncangan energi itu sendiri.

Korea Selatan dan Taiwan menjadi contoh nyata ketahanan ini, dengan daya tawar harga industri (industrial pricing power) yang tetap kuat dan margin keuntungan yang bertahan — bahkan pada sejumlah kasus justru melebar — di tengah permintaan terkait AI yang terus deras.

Terjadi Divergensi Tajam di Asia Tenggara

Lihat Layanan Kami

Meski demikian, manfaat dari ledakan AI ini tidak dirasakan merata di seluruh kawasan. Vietnam tetap mempertahankan gelar sebagai ekonomi utama dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara pada kuartal kedua, dengan Malaysia dan Singapura di posisi kedua dan ketiga tercepat, terbantu permintaan kuat untuk semikonduktor dan komponen lain dalam rantai pasok teknologi global. Sebaliknya, Thailand tercatat sebagai yang paling tertinggal.

Sementara itu, negara-negara seperti India, Indonesia, dan Filipina meraih manfaat lebih terbatas dari ledakan AI ini, mengingat integrasi mereka yang lebih rendah pada rantai pasok perangkat keras dan semikonduktor global. Filipina bahkan menghadapi tekanan ganda: eksposur lebih besar terhadap kenaikan harga energi, ditambah penarikan tajam belanja infrastruktur yang turut membebani pertumbuhan.

Ketahanan Fiskal Jadi Kunci Penentu

Para analis menilai divergensi pertumbuhan di kawasan ini banyak ditentukan oleh tingkat ketahanan domestik masing-masing negara dalam menghadapi krisis Timur Tengah, dikombinasikan dengan seberapa besar keterpaparan mereka terhadap rantai pasok teknologi terkait AI. Singapura, misalnya, terus menarik modal asing di tengah ketidakpastian global berkat statusnya sebagai pusat keuangan regional, ditopang bantalan fiskal yang kuat serta kredibilitas institusional yang telah lama terbangun.

Malaysia turut diuntungkan investasi asing langsung yang berkelanjutan ke sektor manufaktur elektronik, seiring perusahaan multinasional terus mendiversifikasi jejak produksi mereka di kawasan Asia sebagai bagian dari tren relokasi rantai pasok global.

Tantangan yang Masih Membayangi ke Depan

Meski hasil kuartal lalu menggembirakan, sejumlah analis memperingatkan bahwa pertanyaan soal daya tahan siklus investasi AI mulai bermunculan. Negara-negara pengimpor energi berat seperti Jepang dan India berpotensi menghadapi tekanan fiskal yang makin besar jika konflik di Timur Tengah berlangsung berkepanjangan, terutama lewat program subsidi energi yang membengkak.

Terlepas dari tantangan yang masih membayangi, kombinasi kebijakan fiskal yang gesit dan ledakan permintaan teknologi terkait AI telah membuktikan diri sebagai kombinasi tak terduga yang berhasil menyelamatkan ekonomi Asia dari skenario krisis energi terburuk yang sempat dikhawatirkan banyak pihak.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.