Pekerja Lab Rusia Meninggal Diduga Terpapar Pes, Kemenkes Perketat Pengawasan di Bali
Foto:GettyImages/ScienceWork
Penyakit yang pernah memusnahkan sepertiga penduduk Eropa pada abad pertengahan kini lebih sering dibicarakan di buku sejarah. Kematian seorang pekerja laboratorium di Siberia pekan lalu mengingatkan bahwa bakterinya masih ada, dan masih dipelajari di institusi yang justru dibangun untuk melawannya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kesiapsiagaan setelah seorang pekerja laboratorium di Irkutsk Research Anti-Plague Institute of Siberia, Rusia, meninggal dunia dengan dugaan infeksi pneumonia. Sejumlah media internasional melaporkan korban, perempuan berusia 28 tahun, diduga terpapar pes pneumonik. Hingga Senin (5/10/2026), Kemenkes menyatakan belum menerima notifikasi resmi dari Rusia maupun WHO.
Diduga Tabung Pecah atau Tertular saat Perjalanan Dinas
Korban adalah teknisi laboratorium di institut antipes Irkutsk. Ia dirawat selama tiga hari karena pneumonia berat di Rumah Sakit Distrik Shelekhov sebelum meninggal pada Jumat (2/10/2026), menurut laporan KOMO News.
Sumber infeksinya belum dipastikan. Outbreak News Today, mengutip media Rusia, menyebut dua kemungkinan. Pertama, kecelakaan laboratorium berupa tabung uji berisi bakteri pes yang pecah saat pengambilan spesimen. Kedua, perjalanan dinas korban ke Buryatia, wilayah dekat perbatasan Mongolia yang sebelumnya melaporkan wabah pes.
Otoritas Rusia belum mengumumkan konfirmasi laboratorium atas penyebab kematian.
Sekitar 200 Kontak Diobservasi, Belum Ada yang Bergejala
Sekitar 200 orang yang sempat berkontak dengan korban kini menjalani observasi medis. Outbreak News Today mencatat angka 189 orang. Seluruh staf klinis yang merawat korban diisolasi dan institusi tersebut dikarantina sebagai langkah pencegahan.
Gubernur Irkutsk Igor Kobzev menyatakan langkah antiepidemi sudah dijalankan. Menurutnya, belum ada kontak yang menunjukkan gejala sakit dan hasil uji laboratorium mereka negatif.
Mengenal Pes Pneumonik
Pes disebabkan bakteri Yersinia pestis. Bentuk pneumonik menyerang paru-paru dan, menurut WHO, bisa menular antarmanusia melalui percikan pernapasan. Tanpa diagnosis dan pengobatan dini, penyakit ini dapat berakibat fatal.
Kabar baiknya, pes bisa diobati dengan antibiotik bila ditangani cepat. Karena itulah pelacakan kontak dan observasi menjadi langkah utama yang dilakukan otoritas Irkutsk.
Kemenkes: Belum Ada Notifikasi IHR
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut pihaknya terus memantau perkembangan kasus. "Sampai saat ini (5/10) belum ada notifikasi melalui IHR NFP maupun informasi dalam Event Information Site," ujarnya. IHR NFP adalah titik kontak nasional untuk Regulasi Kesehatan Internasional, jalur resmi antarnegara untuk melaporkan kejadian kesehatan yang berpotensi menyebar lintas batas.
Meski belum ada notifikasi, Kemenkes memperketat pengawasan di bandara dan pelabuhan internasional Bali. Petugas memantau deklarasi kesehatan pelaku perjalanan lewat All Indonesia - SSHP dan mengamati gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas pada penumpang yang tiba. Pelaku perjalanan yang bergejala mengarah ke pes akan dirujuk ke rumah sakit penyakit infeksi.
Masyarakat Diminta Pantau Kanal Resmi
Kemenkes mengimbau masyarakat terus memantau perkembangan kasus global dan nasional melalui media resmi pemerintah, serta menjaga kebersihan dan daya tahan tubuh. Belum ada kasus terkait yang dilaporkan di Indonesia.
Yang ditunggu sekarang adalah konfirmasi laboratorium dari Rusia dan hasil akhir observasi terhadap ratusan kontak di Irkutsk. Masa observasi itu akan menentukan apakah kasus ini berhenti sebagai satu insiden tunggal, atau berkembang menjadi sesuatu yang perlu dilaporkan Rusia ke WHO.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Jika Anda mengalami demam tinggi, batuk, atau sesak napas setelah bepergian dari wilayah terdampak, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.