CompileDaily
Hardware

Qualcomm Naikkan Harga Chip Snapdragon Dua Digit Mulai September, Ponsel Android Bakal Makin Mahal

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
Qualcomm Naikkan Harga Chip Snapdragon Dua Digit Mulai September, Ponsel Android Bakal Makin Mahal

Bukan sekadar kenaikan harga biasa—ini sinyal bahwa krisis memori global yang selama ini hanya jadi berita di balik layar industri, akhirnya akan langsung dirasakan dampaknya di kantong konsumen ponsel Android.

Qualcomm resmi mengonfirmasi akan menaikkan harga di hampir seluruh lini produk chip mereka mulai 1 September 2026, dengan kenaikan yang dilaporkan mencapai dua digit persentase. Kepastian ini disampaikan CEO Qualcomm, Cristiano Amon, dalam earnings call kuartal fiskal ketiga 2026 pada 29 Juli lalu. "Cost went up, prices are going to go up," kata Amon blak-blakan kepada CNBC.

Krisis Memori Jadi Biang Kerok Utama

Qualcomm menyebut kenaikan biaya terjadi secara merata di seluruh rantai pasok mereka—mulai dari fabrikasi wafer, perakitan, pengujian, hingga pengemasan canggih dan memori. Namun dari semua faktor itu, Amon menegaskan lonjakan harga memori menjadi pendorong tekanan biaya paling signifikan dalam jangka pendek.

Menurut laporan Bloomberg, Qualcomm sudah mengirimkan surat pemberitahuan kepada para mitra hardware sejak 24 Juli, menyatakan perusahaan sudah kehabisan cara untuk menyerap kenaikan biaya dari pemasok mereka sendiri. Upaya mencari sumber komponen alternatif pun disebut tidak membuahkan hasil memadai. Riset TrendForce bahkan mencatat harga Mobile DRAM jenis LPDDR4X melonjak 70-75 persen secara rata-rata pada kuartal kedua 2026 dibanding kuartal sebelumnya, sementara LPDDR5X naik lebih tajam lagi, 78-83 persen.

Lonjakan harga memori ini dipicu permintaan masif dari pembangunan pusat data AI, yang menyedot volume besar chip memori—komponen yang sama juga dibutuhkan perangkat konsumen sehari-hari seperti smartphone, laptop, hingga jam tangan pintar.

Dampaknya Menjalar ke Hampir Semua Perangkat

Chip Snapdragon buatan Qualcomm bukan cuma memasok smartphone flagship Android seperti Samsung Galaxy S26, OnePlus 15, Xiaomi 15, dan Oppo Find X9 Ultra. Prosesor ini juga tertanam di laptop Windows, kacamata pintar Meta, jam tangan Galaxy Watch, hingga earbud nirkabel—menjadikan kenaikan harga ini bukan sekadar cerita smartphone, melainkan persoalan yang membentang di seluruh industri elektronik konsumen.

Qualcomm menegaskan kenaikan harga hanya berlaku untuk produk yang dikirim setelah 1 September 2026, sehingga ponsel yang sudah beredar di pasaran saat ini sebagian besar tidak terdampak langsung. Namun para produsen yang memesan chip setelah tanggal tersebut akan menanggung biaya lebih tinggi, yang kemungkinan besar diteruskan ke harga jual perangkat ke konsumen pada akhir 2026 hingga 2027.

Meski demikian, Amon menyebut tekanan biaya pemasok ini bersifat sementara. Strategi jangka panjang Qualcomm justru mengarah untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis smartphone—perusahaan menargetkan segmen non-smartphone seperti pusat data, otomotif, dan IoT menyumbang 60 persen dari total pendapatan mereka pada tahun depan.

Kenaikan harga Qualcomm ini menambah daftar panjang produsen hardware yang terpaksa menaikkan harga akibat krisis memori, menyusul Samsung yang sudah menaikkan harga lini Galaxy Z8 serta perkiraan harga Google Pixel 11 yang juga akan naik dari generasi sebelumnya. Menariknya, saham Qualcomm justru menguat merespons pengumuman ini—investor tampaknya memperkirakan kenaikan harga akan mendongkrak pendapatan perusahaan, meski di sisi lain konsumen harus bersiap merogoh kocek lebih dalam untuk ponsel Android generasi mendatang.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.