IHSG Ditutup Menguat 0,5% ke 6.351, Sempat Sentuh Puncak 6.367 di Sesi Kedua
Setelah sempat menembus level tertinggi hari ini di angka 6.367, indeks justru terkoreksi tipis menjelang penutupan—sebuah pola profit taking yang lumrah terjadi usai reli tajam beberapa hari beruntun.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 31,53 poin atau 0,50 persen ke level 6.351,14 pada perdagangan Rabu (5/8/2026), melanjutkan tren positif yang sudah berlangsung sejak pekan ini dimulai. Total volume transaksi tercatat 36,17 miliar saham, lebih dari dua kali lipat rata-rata volume harian sebesar 17,44 miliar saham.
Momentum Melambat di Sesi Kedua
Penguatan IHSG hari ini sebenarnya sempat lebih tajam pada sesi pertama. Indeks ditutup sesi I di level 6.363,01, naik 43,40 poin atau 0,69 persen, dengan 436 saham menguat berbanding 179 saham melemah. Sembilan dari sebelas indeks sektoral kompak menghijau, dipimpin sektor bahan baku (IDX Basic Materials) yang melonjak 2,34 persen, disusul sektor kesehatan (+1,94 persen) dan properti (+1,84 persen).
Namun momentum tersebut mengendur di sesi kedua. Indeks yang sempat menyentuh puncak 6.367 justru terkoreksi menjelang penutupan, menyisakan penguatan bersih 0,50 persen dari pembukaan pagi di 6.338,59. Kalbe Farma (KLBF) tercatat sebagai top gainers di jajaran saham LQ45 pada penutupan sesi pertama, sementara saham-saham big cap seperti MDKA, BREN, dan BBCA turut menopang zona hijau IHSG sepanjang hari.
Wall Street dan Redanya Tensi Timur Tengah Jadi Pendorong
Penguatan beruntun IHSG dalam beberapa hari terakhir tak lepas dari sentimen positif Wall Street. Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) mencatat seluruh indeks utama bursa Amerika Serikat kompak menguat signifikan pada perdagangan Selasa, dipimpin Nasdaq yang melonjak 2,59 persen, disusul S&P 500 (+1,79 persen), Dow Jones (+1,71 persen), dan NYSE Composite (+0,85 persen). Reli tersebut ditopang kinerja keuangan solid emiten teknologi sepanjang semester I 2026.
Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menyebut penguatan IHSG turut dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal negosiasi dengan Iran yang disebut akan dimulai pekan ini—kabar yang meredakan kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Katalis geopolitik ini turut menekan harga minyak mentah WTI hingga menyentuh kisaran 75 dolar AS per barel.
Meski demikian, nilai tukar rupiah justru bergerak berlawanan arah dengan bursa saham, melemah 0,17 persen ke level Rp18.027 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya—mengindikasikan sentimen investor terhadap pasar saham dan pasar valuta asing tidak sepenuhnya searah hari ini.
Investor Kini Menanti Data Pertumbuhan Ekonomi
Pelaku pasar sepanjang hari ini turut mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026, yang menurut konsensus analis diperkirakan melambat menjadi 5,1 persen secara tahunan, dari 5,6 persen pada kuartal I-2026. Analis Phintraco Sekuritas mencatat secara teknikal terjadi pelebaran histogram positif MACD, disertai berlanjutnya reversal Stochastic RSI di area pivot—sinyal yang umumnya dibaca sebagai konfirmasi tambahan atas tren penguatan jangka pendek.
Ke depan, arah IHSG masih akan dipengaruhi sejumlah katalis domestik seperti kepastian suksesi kepemimpinan Gubernur Bank Indonesia serta arah kebijakan fiskal dalam RAPBN 2027, di samping perkembangan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Catatan: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi berdasarkan data pasar dan pandangan analis, bukan rekomendasi atau ajakan membeli/menjual efek tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca; pelajari dan analisis kembali sebelum mengambil keputusan transaksi.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.