CompileDaily
Hardware

Giliran MacBook Air Kena Imbas Krisis RAM Global, Stok Makin Sulit Didapat

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Setelah lebih dulu menghantam lini komputer yang lebih niche, krisis memori global kini benar-benar menyentuh jantung bisnis laptop Apple, produk yang selama ini paling laris terjual di seluruh lini Mac mereka.

Krisis kelangkaan chip memori global kini berdampak pada ketersediaan MacBook Air, laptop paling populer milik Apple. Menurut laporan Mark Gurman dari Bloomberg pada 2 Agustus 2026, kelangkaan yang dipicu permintaan besar-besaran dari perusahaan-perusahaan AI ini sebelumnya sudah lebih dulu memengaruhi komputer Apple yang lebih niche, yaitu Mac mini dan Mac Studio. Kini, perusahaan tampak kesulitan menjaga ketersediaan stok MacBook Air, dengan sejumlah retailer melaporkan pasokan yang lebih terbatas dari sebelumnya.

Waktu Tunggu Mundur hingga September

Dampak nyata dari krisis ini mulai terasa langsung oleh konsumen. Siapa pun yang mencoba membeli MacBook Air lewat situs resmi Apple kini harus menunggu hingga paruh kedua Agustus, bahkan untuk konfigurasi tertentu waktu tunggunya mundur hingga September. Kondisi keterlambatan sepanjang ini terbilang tidak biasa untuk MacBook Air generasi terkini, yang baru saja diperbarui dengan chip M5 pada Maret lalu.

Keterbatasan stok ini juga terasa di toko ritel resmi Apple. Sumber dari pihak ritel yang berbicara kepada Gurman menyebut kurangnya ketersediaan stok di toko saat ini tidak seperti apa pun yang bisa mereka ingat terjadi pada MacBook Air dalam beberapa waktu terakhir. Karena laptop ini merupakan Mac terlaris Apple dan sangat populer menjelang musim back-to-school, staf ritel dilaporkan mulai mengarahkan pembeli dari kalangan pendidikan ke model MacBook Pro entry-level yang harganya lebih mahal, sebagai alternatif karena keterbatasan stok MacBook Air.

Materi Marketing Diperbarui, Promosi Ditunda

Menariknya, Apple bahkan telah memperbarui materi marketing internal mereka untuk memperingatkan bahwa ketersediaan MacBook Air kini bersifat "subject to availability" atau tergantung stok yang tersedia. Perusahaan juga menunda kampanye promosi back-to-school terbaru mereka yang biasanya berjalan sejak Juni.

Untuk mengatasi persoalan ini, Gurman melaporkan Apple tengah berupaya mengatasi masalah dengan menaikkan harga jual dan mencari sumber pasokan memori tambahan dari pemasok asal China.

Bagian dari Rangkaian Kenaikan Harga yang Lebih Luas

Persoalan ini sebenarnya melanjutkan tren yang sudah dimulai sejak akhir Juni 2026. Pada 26 Juni lalu, Apple menaikkan harga di seluruh lini Mac dan iPad hingga 300 dolar AS, dengan alasan resmi kelangkaan memori global yang didorong permintaan pusat data AI. MacBook Air saat itu naik 200 dolar AS, kini mulai dari 1.299 dolar AS. MacBook Neo, laptop entry-level Apple, juga naik dari 599 dolar AS menjadi 699 dolar AS.

Lihat Layanan Kami

CEO Apple, Tim Cook, menggambarkan situasi krisis memori ini sebagai "banjir seabad sekali", istilah yang biasa dipakai menggambarkan peristiwa langka namun berdampak sangat besar. Menariknya, iPhone sempat luput dari kenaikan harga saat pengumuman tersebut, namun Cook tidak memberikan jaminan apakah pengecualian ini akan tetap bertahan jika kelangkaan memori semakin dalam atau berlanjut hingga 2027.

Reaksi pasar terhadap pengumuman kenaikan harga saat itu cukup keras. Saham Apple sempat turun 5,3 persen dalam sehari, menghapus sekitar 275 miliar dolar AS nilai kapitalisasi pasar perusahaan, mencatatkan performa harian terburuk sejak April 2025.

Dari sisi lini MacBook Pro, kenaikan harga juga cukup signifikan. Model M5 Pro 14 inci naik dari 1.999 dolar AS menjadi 2.199 dolar AS, sementara versi 16 inci naik dari 2.499 dolar AS menjadi 2.699 dolar AS. Model M5 Max bahkan naik dari 3.199 dolar AS menjadi 3.599 dolar AS.

Prospek Jangka Panjang yang Belum Menggembirakan

Samsung, salah satu dari tiga pemasok utama chip RAM dunia, memperkirakan kelangkaan memori justru akan semakin memburuk pada 2027 dan diperkirakan bertahan hingga 2028, seiring pusat data AI terus menyerap kapasitas produksi memori global dalam skala besar.

Sebagai respons jangka panjang terhadap tren harga hardware yang terus naik, Apple sebelumnya juga meluncurkan program leasing bernama Apple Upgrade, yang memungkinkan pelanggan mencicil biaya perangkat secara bulanan, lalu memilih mengembalikan, melakukan upgrade, atau melunasi sisa pembayaran untuk tetap memiliki perangkat tersebut. Meski begitu, program ini tidak membuat harga MacBook Air seharga 1.299 dolar AS menjadi lebih murah, melainkan sekadar memberi cara yang lebih ringan secara finansial bagi konsumen untuk mengakses hardware yang harganya terus meningkat.

Dampak Meluas ke Industri Elektronik Lain

Krisis memori ini tidak hanya berdampak pada Apple. Microsoft turut menaikkan harga konsol Xbox secara global sejak 1 Agustus 2026, dengan model berkapasitas 512GB naik 100 dolar AS dan model 1TB naik 150 dolar AS, juga dengan alasan krisis memori dan penyimpanan yang semakin memburuk. Produsen komponen PC, CyberPowerPC, bahkan melaporkan harga RAM global telah melonjak hingga 500 persen, sementara harga SSD naik 100 persen dibanding level normal sebelumnya.

Akar dari krisis ini terletak pada keputusan produsen chip besar seperti SK Hynix dan Micron yang mengalihkan prioritas produksi mereka ke High Bandwidth Memory atau HBM, jenis memori khusus yang dibutuhkan akselerator AI untuk pusat data, dibanding memproduksi RAM standar untuk kebutuhan komputer konsumen biasa. Pergeseran prioritas produksi inilah yang pada akhirnya menciptakan efek berantai, mulai dari kenaikan harga komponen, keterlambatan pengiriman produk jadi, hingga akhirnya benar-benar memengaruhi ketersediaan produk sepopuler MacBook Air di pasar konsumen global.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.