Bitcoin Cetak Reli Mingguan Terbaik dalam Lebih dari Tiga Tahun, Sempat Dekati $80.000
Kenaikan sekitar 23 persen dalam sepekan ini didorong kombinasi intervensi Treasury AS, gelombang short squeeze senilai miliaran dolar, dan optimisme seputar RUU regulasi kripto CLARITY Act — meski seorang analis memperingatkan pasar mungkin salah mengaitkan katalis utamanya.
Bitcoin melanjutkan reli tajamnya pada Jumat (21/8/2026), sempat melonjak hingga 9,4 persen dan diperdagangkan di kisaran $77.500-$79.500 — mendekati level psikologis $80.000 yang terakhir kali disentuh Mei lalu. Dalam sepekan terakhir, Bitcoin telah menguat sekitar 22-23 persen, capaian yang jika bertahan akan menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2023 — lebih dari tiga tahun lalu. Data terbaru pada Sabtu (22/8/2026) menunjukkan Bitcoin masih bertahan di kisaran $77.984-$78.552, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar $1,56 triliun dan volume perdagangan 24 jam sebesar $70,56 miliar.
Katalis Utama: Treasury AS Gandakan Program Buyback Obligasi
Momentum reli ini bermula pada Rabu (19/8/2026) ketika Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan Departemen Keuangan akan menggandakan ukuran program pembelian kembali (buyback) obligasi bertenor panjang miliknya. Kebijakan ini menekan imbal hasil obligasi jangka panjang, yang pada gilirannya meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko termasuk kripto. Analis BTC Markets, Rachael Lucas, menyebut pendorong sesungguhnya di balik reli ini adalah keputusan Treasury tersebut, yang ditujukan mengatasi kekhawatiran imbal hasil jangka panjang di tengah kekhawatiran atas tingkat utang AS.
Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump turut bertemu dengan sejumlah pemimpin industri kripto di Gedung Putih — pertemuan yang semakin menambah optimisme pasar terhadap arah kebijakan regulasi kripto ke depan.
Short Squeeze Senilai Miliaran Dolar Perkuat Momentum
Kenaikan harga yang tajam ini turut dipercepat oleh gelombang short squeeze berskala besar. Menurut data Coinglass, sekitar $2,7 miliar posisi short di pasar kripto terlikuidasi paksa, dengan 170.793 trader terlikuidasi dalam periode 24 jam senilai total $1,37 miliar. Fenomena ini menciptakan efek berantai — begitu harga menembus level tertentu, trader yang memasang posisi short dipaksa membeli kembali aset untuk menutup posisi mereka, yang pada gilirannya semakin mendorong harga naik lebih tinggi.
Arus Masuk ETF Bitcoin Spot Turut Menambah Momentum
ETF Bitcoin spot AS mencatat arus masuk bersih lebih dari $1 miliar sepanjang pekan ini, dengan total arus masuk kumulatif Agustus mencapai $2,07 miliar — rekor bulanan tertinggi sepanjang 2026. Pada Kamis (20/8/2026) saja, data SoSoValue mencatat arus masuk bersih $606,3 juta dari ETF Bitcoin spot, ditambah $220,8 juta dari ETF Ethereum spot — indikasi bahwa minat institusional turut menjadi faktor pendukung di balik reli ini.
Saham Terkait Kripto Ikut Melonjak, Ray Dalio Sarankan Alokasi ke Bitcoin
Efek reli turut menjalar ke pasar saham AS yang berkaitan dengan kripto. Coinbase, platform perdagangan aset digital terbesar di AS, melonjak 8,2 persen pada Jumat, disusul Strategy — perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar — yang naik 6 persen, dan penerbit stablecoin Circle yang menguat 5,2 persen. Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, turut menyerukan kepada investor untuk mengurangi kepemilikan obligasi dan mengalokasikan 10-15 persen portofolio ke emas ditambah posisi kecil pada Bitcoin — pernyataan yang menambah bobot sentimen positif terhadap aset kripto pekan ini.
CLARITY Act: Katalis Politik yang Masih Menyimpan Ketidakpastian
Selain faktor Treasury, optimisme pasar turut didorong oleh perkembangan RUU CLARITY Act — regulasi yang dipandang luas sebagai kunci yang dapat mendorong pasar keluar dari periode "crypto winter" yang dimulai musim gugur tahun lalu. Namun sejumlah analis mengingatkan bahwa peluang RUU ini benar-benar disahkan tergolong relatif tipis. Investor sempat memandang RUU ini praktis mati untuk 2026 setelah Senat memasuki masa reses Agustus tanpa pemungutan suara, dengan negosiasi masih terganjal ketentuan etika di dalamnya. Kegagalan melewati pemungutan suara prosedural pada 15 September berpotensi secara efektif mengakhiri peluang RUU ini disahkan tahun ini.
Sebuah analisis independen bahkan menyebut pasar keliru mengaitkan katalis utama reli ini pada CLARITY Act dan pertemuan kripto di Gedung Putih, padahal pendorong sesungguhnya adalah intervensi obligasi Treasury yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan kripto. Menurut analisis tersebut, jika kedua perkembangan — intervensi Treasury dan RUU CLARITY Act — sama-sama berjalan mulus, jalan menuju $85.000 hingga $90.000 bisa terbuka. Namun jika pemungutan suara 15 September gagal, sentimen politik pendukung reli ini berisiko menguap, membuka peluang pasar mengembalikan sebagian kenaikan pekan ini ke pasar yang baru saja membersihkan posisi short-nya dan tidak memiliki banyak penjual tersisa untuk menyerap potensi pembalikan arah.
Masih Jauh dari Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Meski mencatat reli mingguan terkuat dalam bertahun-tahun, Bitcoin tetap berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di atas $126.000 yang dicapai pada 6 Oktober tahun lalu, dan juga masih di bawah level tertinggi 2026 sebesar $94.820 yang tercatat pertengahan Januari. Founder dan managing partner Token Bay Capital, Lucy Gazmararian, menyampaikan pandangan bahwa pasar kripto tengah mendekati akhir dari masa bear market — meski ia turut memperkirakan kemungkinan satu penurunan terakhir sekitar 20 persen sebelum benar-benar berbalik arah, sejalan dengan pola siklus pasar kripto sebelumnya.
Dengan kombinasi katalis kebijakan, likuidasi short besar-besaran, dan ketidakpastian seputar nasib RUU regulasi kripto yang masih menggantung hingga pemungutan suara 15 September mendatang, arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada apakah momentum politik dan makro saat ini benar-benar mampu dipertahankan.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.