OKX dan Pemilik NYSE Ajukan Perdagangan Saham Tokenisasi 24 Jam untuk 63 Perusahaan AS
Web:OKX
Selama lebih dari dua abad, Wall Street punya jam tutup. Usaha patungan antara bursa kripto dan induk New York Stock Exchange kini meminta izin untuk menghapus batas itu, dengan blockchain sebagai jalurnya.
OKXICE, usaha patungan 50:50 antara bursa kripto OKX dan Intercontinental Exchange (ICE), induk New York Stock Exchange (NYSE), mengajukan pemberitahuan kepada Securities and Exchange Commission (SEC) untuk membuka platform perdagangan saham AS versi token. Dokumen yang diumumkan Senin (5/10/2026) itu mencantumkan 63 saham perusahaan AS, termasuk Nvidia, Apple, Microsoft, dan Tesla, yang rencananya bisa diperdagangkan nonstop.
Diajukan sebagai Tokenized Securities Venue
OKXICE mengajukan diri sebagai Tokenized Securities Venue (TSV), kategori baru yang lahir dari kebijakan SEC bernama Innovation Exemption. Pengecualian ini diterbitkan pada 17 September 2026 dan berlaku sementara selama lima tahun.
Lewat skema tersebut, platform yang memenuhi syarat boleh memperdagangkan versi blockchain dari saham AS tanpa harus terdaftar sebagai bursa efek konvensional. Ada batasan yang menyertai, mulai dari jumlah saham yang boleh diperdagangkan hingga plafon volume transaksi.
Syarat pentingnya, token saham wajib memberi pemegangnya hak yang sama dengan saham biasa, termasuk dividen dan hak suara. Data dari masa uji coba ini nantinya akan dipakai SEC untuk menyusun aturan permanen soal sekuritas tokenisasi.
Pakai X Layer dan Market Maker Otomatis
Platform OKXICE berjalan di atas X Layer, jaringan blockchain milik OKX, dalam format permissioned atau berizin. Hanya peserta yang lolos verifikasi yang bisa ikut bertransaksi.
Alih-alih memakai buku pesanan (order book) seperti bursa saham biasa, OKXICE mengandalkan automated market maker (AMM) berizin. Mekanisme ini lazim di bursa kripto terdesentralisasi, di mana harga terbentuk dari kumpulan likuiditas, bukan dari pencocokan pesanan beli dan jual satu per satu.
Emiten Punya 30 Hari untuk Menolak
Daftar 63 saham itu belum final. Perusahaan yang sahamnya tercantum diberi waktu 30 hari untuk menyatakan keberatan. Peluncuran baru bisa berjalan setelah masa itu berakhir, dan jumlah saham yang benar-benar tersedia bergantung pada berapa banyak emiten yang memilih keluar.
Selain raksasa teknologi, daftar tersebut memuat nama dari sektor keuangan seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs, perusahaan kripto seperti Coinbase dan Circle, hingga emiten konsumer seperti Walmart dan Coca-Cola.
Cuomo: Langkah Menuju Wall Street 24/7
Ketua bersama OKXICE yang juga mantan Gubernur New York, Andrew Cuomo, menyebut pengajuan ini "a landmark step toward a truly global, 24/7 Wall Street", langkah bersejarah menuju Wall Street global yang buka 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.
Pendiri sekaligus CEO OKX, Star Xu, menekankan bahwa hak pemegang saham yang utuh menjadi kunci agar kepemilikan saham di blockchain bisa diterima.
Hubungan OKX dan ICE sendiri sudah terjalin sebelumnya. Pada Maret 2026, ICE menanamkan investasi strategis di OKX dengan valuasi sekitar $25 miliar.
Bagian dari Perlombaan Menuju Pasar Nonstop
Langkah OKXICE muncul saat bursa besar dunia, termasuk NYSE, Nasdaq, dan London Stock Exchange, sama-sama bergerak menuju perdagangan 24 jam. Bedanya, OKXICE menempuh jalur blockchain, sementara bursa konvensional memperpanjang jam operasional sistem lamanya.
Hitungan mundur 30 hari kini berjalan. Yang akan menentukan wajah platform ini adalah keputusan para emiten: berapa banyak dari 63 perusahaan itu yang rela sahamnya beredar sebagai token, dan berapa yang memilih mundur sebelum perdagangan dimulai?
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.