CompileDaily
Virus

Wabah Ebola Terbesar Ketiga Sejarah Melanda Kongo-Uganda, WHO Keluhkan Uganda Bungkam soal Marburg

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Dua virus mematikan dari keluarga yang sama kini merambah wilayah yang sama di Afrika Tengah, dan salah satu pemerintah yang terlibat justru dinilai enggan berbagi informasi.

Wabah penyakit virus Ebola yang disebabkan oleh varian Bundibugyo terus meluas di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan Uganda, dengan angka kasus yang terus bertambah sejak pertama kali diumumkan Mei lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia atau PHEIC sejak 17 Mei 2026.

Wabah ini bermula di Provinsi Ituri, RD Kongo, setelah Kementerian Kesehatan setempat resmi mengumumkannya pada 15 Mei 2026, menyusul hasil sekuensing di Institut Riset Biomedis Nasional di Kinshasa yang mengonfirmasi virus varian Bundibugyo. Pada hari yang sama, Uganda turut mengonfirmasi wabah serupa setelah seorang pasien dengan riwayat perjalanan dari Ituri berobat ke rumah sakit di Kampala pada 11 Mei 2026.

Wabah Terbesar Ketiga Sepanjang Sejarah

Skala penyebaran wabah kali ini terbilang luar biasa. Wabah ini tercatat sebagai wabah Ebola terbesar ketiga sepanjang sejarah pencatatan, dan bahkan berkembang dengan laju yang lebih cepat dibanding wabah-wabah besar sebelumnya. Berdasarkan pembaruan data WHO, total kasus terkonfirmasi kini mencapai 2.145 kasus, dengan rincian 2.124 kasus di RD Kongo (termasuk dua kasus yang menjalani perawatan lanjutan di Jerman), 20 kasus di Uganda, dan 1 kasus di Prancis. Dari jumlah tersebut, sebanyak 830 kematian telah dilaporkan, sementara setidaknya 410 pasien dinyatakan sembuh.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan soal pola penyebaran wabah ini. Menurutnya, dua pertiga kematian akibat Ebola dalam wabah ini terjadi di tengah masyarakat, menimpa orang-orang yang tidak pernah sempat mencari perawatan medis sama sekali. Kondisi ini didorong oleh ketidakstabilan politik dan kekerasan yang sudah berlangsung lama di kawasan tersebut, jumlah pengungsi yang besar, serta rasa tidak percaya yang mengakar dalam di kalangan masyarakat setempat terhadap fasilitas kesehatan.

Meski upaya memperluas fasilitas perawatan sudah menunjukkan kemajuan berarti, banyak warga tetap enggan mencari pertolongan medis, membuat penanganan wabah ini jauh lebih rumit dibanding sekadar soal ketersediaan sarana kesehatan.

Kasus Marburg Terpisah Ditemukan di Uganda

Lihat Layanan Kami

Di tengah upaya menangani Ebola, Uganda dikejutkan dengan temuan lain yang tak kalah serius. Pada 30 Juni 2026, Uganda memberi tahu WHO soal satu kasus terkonfirmasi penyakit virus Marburg di Distrik Kyegegwa, wilayah barat Uganda. Temuan ini muncul saat otoritas kesehatan tengah memperketat surveilans untuk memantau penyebaran Ebola di wilayah tersebut.

Kasus Marburg ini menimpa seorang anak berusia sekitar 17 hingga 18 bulan yang sayangnya telah meninggal dunia. Menariknya, sebelum pemerintah Uganda secara resmi mengumumkan temuan ini kepada publik, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kampala terlebih dahulu mengeluarkan peringatan kesehatan level tertinggi yang menyarankan warga negaranya untuk tidak bepergian ke Uganda, terkait kemungkinan adanya kasus Marburg di negara tersebut. Langkah kedutaan ini dinilai sejumlah pakar sebagai pemicu yang mendorong Uganda akhirnya mengonfirmasi secara terbuka apa yang tampaknya sudah diketahui otoritas setempat beberapa hari sebelumnya.

Virus Marburg sendiri berasal dari keluarga filovirus yang sama dengan virus Ebola. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah Mesir, yang secara historis banyak ditemukan di kawasan pertambangan dan gua-gua di wilayah barat Uganda.

WHO Keluhkan Minimnya Transparansi Uganda

Perkembangan terbaru yang muncul pekan ini cukup mengkhawatirkan. WHO mengungkap bahwa pemerintah Uganda telah bersikap tertutup soal perkembangan investigasi kasus Marburg yang dilaporkannya sendiri akhir bulan lalu. Chikwe Ihekweazu, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, menyatakan lembaganya telah mengirimkan beberapa permintaan tambahan informasi kepada Uganda terkait status investigasi asal-usul wabah tersebut dan sejauh mana kemungkinan penyebarannya, namun belum mendapatkan jawaban yang memadai hingga saat ini.

Situasi ini menambah kompleksitas penanganan kesehatan masyarakat di kawasan tersebut, mengingat Marburg memiliki tingkat fatalitas rata-rata sekitar 50 persen, dengan rentang yang pernah tercatat antara 24 hingga 88 persen pada wabah-wabah sebelumnya di berbagai negara. Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat antivirus yang secara resmi disetujui untuk mengatasi penyakit ini, meski sejumlah kandidat vaksin dan terapi masih dalam tahap pengembangan.

Dengan dua wabah virus hemoragik yang berjalan hampir bersamaan di kawasan yang sama, tantangan bagi otoritas kesehatan regional maupun global kini semakin besar, terutama dalam hal memastikan transparansi data dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan yang ada.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.