Uganda Resmi Bebas Ebola, tapi Wabah di RD Kongo Justru Makin Parah
Dua negara bertetangga yang sama-sama diserang virus mematikan yang sama kini berada di jalur yang benar-benar berlawanan, satu merayakan akhir dari mimpi buruk mereka, sementara yang lain masih berjuang menghadapi lonjakan kasus yang belum menunjukkan tanda melambat.
Uganda resmi menyatakan berakhirnya wabah Ebola di negaranya pada 28 Juli 2026, tepat 12 hari setelah pasien terakhir mereka dinyatakan sembuh dan dipulangkan. Kabar baik ini datang di tengah situasi yang jauh lebih suram di negara tetangga mereka, Republik Demokratik Kongo, tempat wabah yang sama justru terus memburuk dan kini tercatat sebagai salah satu wabah Ebola terbesar sepanjang sejarah.
Uganda Berhasil Kendalikan Wabah dengan Cepat
Kasus terakhir yang tercatat di Uganda terjadi pada 21 Juni 2026, dengan total keseluruhan mencapai 20 kasus terkonfirmasi dan 2 kematian sepanjang periode wabah. Pasien Ebola terakhir Uganda dipulangkan dari Mulago National Referral Isolation Centre pada 16 Juli 2026, dan setelah melewati masa pemantauan 12 hari tanpa kasus baru, otoritas kesehatan Uganda resmi mengumumkan wabah tersebut telah berakhir.
Seluruh kasus yang tercatat di Uganda terjadi di ibu kota Kampala, tanpa adanya penyebaran di tingkat komunitas yang tercatat, sebuah faktor yang diperkirakan turut membantu penanganan wabah ini berjalan relatif cepat dan terkendali dibanding situasi di negara tetangga mereka.
RD Kongo Justru Semakin Memburuk
Berbeda jauh dengan Uganda, situasi di Republik Demokratik Kongo justru terus memburuk. Per 28 Juli 2026, negara tersebut mencatat total 3.360 kasus terkonfirmasi dengan 1.487 kematian, berdasarkan data hingga 27 Juli. Angka ini mencerminkan penambahan 98 kasus baru dan 50 kematian baru hanya dalam periode satu hari terakhir, dengan kasus-kasus baru tersebut sebagian besar berasal dari Provinsi Ituri sebanyak 87 kasus dan North Kivu sebanyak 11 kasus.
Saat ini, sebanyak 733 pasien masih menjalani perawatan dalam isolasi, sementara 597 pasien lainnya telah dinyatakan sembuh. Otoritas kesehatan setempat mencatat sekitar 78,9 persen dari seluruh kontak kasus yang teridentifikasi sedang berada dalam pemantauan lanjutan di provinsi Ituri, North Kivu, Haut-Uele, dan Tshopo.
Provinsi Ituri tetap menjadi wilayah paling terdampak parah, dengan 2.988 kasus dan 1.238 kematian yang tersebar di 28 dari 36 zona kesehatan di provinsi tersebut. Sementara itu, North Kivu mencatat 325 kasus dan 223 kematian dari 11 zona kesehatan.
Wabah Ebola Terbesar Ketiga Sepanjang Sejarah
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, skala wabah yang tengah berlangsung di RD Kongo ini menjadikannya wabah Ebola terbesar ketiga yang pernah tercatat sepanjang sejarah pemantauan penyakit ini secara global, sebuah fakta yang menegaskan betapa seriusnya krisis kesehatan yang masih dihadapi negara tersebut.
Sejumlah Kasus Terdeteksi hingga ke Eropa
Wabah ini tidak sepenuhnya terkurung di kawasan Afrika Tengah saja. Pada Mei 2026, seorang warga negara Amerika Serikat dievakuasi secara medis ke Jerman setelah terinfeksi. Kasus impor tambahan kemudian dilaporkan Prancis pada 24 Juni 2026. Pada 10 Juli 2026, satu lagi warga negara Amerika Serikat, seorang pekerja organisasi kemanusiaan yang bertugas di RD Kongo, dinyatakan positif dan dievakuasi ke Jerman tiga hari setelahnya.
Kebijakan Pembatasan Masuk Masih Berlaku
Merespons situasi ini, otoritas kesehatan Amerika Serikat lewat CDC bersama Department of Homeland Security menerapkan pembatasan masuk bagi pelancong dari RD Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan sejak 18 Mei 2026. Perintah pembatasan terbaru, yang merupakan perpanjangan untuk 30 hari ke depan, dikeluarkan pada 13 Juli 2026.
CDC turut merekomendasikan warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke provinsi Haut-Uele, Ituri, North Kivu, dan Tshopo di RD Kongo, wilayah-wilayah yang menjadi pusat penyebaran wabah saat ini. Meski begitu, risiko terhadap masyarakat umum di Amerika Serikat tetap dinilai rendah, dengan nol kasus terkonfirmasi yang tercatat di negara tersebut akibat wabah ini. Otoritas kesehatan Eropa turut menegaskan kemungkinan infeksi bagi warga Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa dinilai sangat rendah.
Catatan Penting Soal Vaksin
Salah satu tantangan signifikan dalam penanganan wabah ini adalah soal vaksin. WHO secara eksplisit menyatakan bahwa perlindungan silang dari vaksin Ebola yang selama ini ditargetkan untuk strain Zaire tidak bisa diasumsikan berlaku efektif terhadap wabah Bundibugyo yang tengah menyerang RD Kongo dan sebelumnya Uganda ini. WHO bahkan merekomendasikan agar vaksin tersebut tidak digunakan untuk wabah kali ini, kecuali ditemukan bukti yang lebih kuat soal efektivitasnya terhadap strain virus yang berbeda ini, sebuah keterbatasan yang menambah tantangan bagi upaya penanganan wabah di lapangan.
Keberhasilan Uganda mengakhiri wabah mereka relatif cepat memberikan secercah harapan bahwa penanganan yang tepat dan terkoordinasi bisa membuahkan hasil positif, meski situasi di RD Kongo menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan wabah di wilayah dengan tantangan keamanan, mobilitas penduduk, dan keterbatasan infrastruktur kesehatan yang jauh lebih kompleks.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.