CompileDaily
Virus

Kamboja Catat Kasus Kelima Flu Burung H5N1 Tahun Ini, Kali Ini Menimpa Bayi 9 Bulan

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Untuk kelima kalinya tahun ini, virus yang biasa menyerang unggas kembali ditemukan menginfeksi manusia di Kamboja, kali ini pada pasien termuda sepanjang gelombang kasus tahun ini.

Kementerian Kesehatan Kamboja mengonfirmasi kasus kelima flu burung H5N1 pada manusia sepanjang 2026. Pasiennya adalah seorang bayi perempuan berusia 9 bulan dari Desa Prek Ta Kong, Kelurahan Chak Angre Leu, Distrik Meanchey, Phnom Penh. Hasil pemeriksaan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional dan Institut Pasteur Kamboja mengonfirmasi kasus ini positif pada 9 Juli 2026.

Saat ini, bayi tersebut menjalani isolasi di rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif dari tim medis. Kementerian Kesehatan Kamboja menyatakan belum ada laporan kematian terkait kasus terbaru ini.

Pelacakan Kontak dan Penyelidikan Sumber Penularan

Tim respons darurat dari kementerian kesehatan tingkat pusat dan daerah, bekerja sama dengan dinas pertanian setempat serta otoritas lokal, tengah aktif menyelidiki sumber wabah pada hewan maupun manusia. Langkah ini dilakukan sesuai protokol teknis standar untuk melacak kontak erat pasien guna mencegah penularan lebih lanjut di lingkungan masyarakat sekitar.

Sebagai langkah pencegahan, oseltamivir atau yang lebih dikenal dengan nama dagang Tamiflu telah didistribusikan kepada orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien. Otoritas kesehatan juga tengah menjalankan kampanye edukasi kesehatan di wilayah terdampak.

Belum diketahui secara pasti klad virus yang terlibat dalam kasus kali ini, namun kemungkinan besar merupakan clade 2.3.2.1c, varian yang memang sudah endemik dan lazim ditemukan di Kamboja.

Anak-anak Mendominasi Kasus Tahun Ini

Lihat Layanan Kami

Keterlibatan bayi dalam kasus kelima ini sejalan dengan pola yang sudah terlihat sepanjang gelombang kasus H5N1 di Kamboja belakangan ini, yang cenderung didominasi pasien usia anak-anak. Pola ini mengindikasikan kemungkinan paparan terhadap unggas terjadi di tingkat rumah tangga, mengingat bayi dan anak-anak umumnya lebih rentan mengalami penyakit pernapasan berat akibat infeksi H5N1 dibanding orang dewasa.

Kasus sebelumnya, yakni kasus keempat tahun ini, dilaporkan pada April 2026 di Provinsi Svay Rieng yang berbatasan dengan Vietnam. Kasus tersebut menimpa perempuan berusia 66 tahun yang sempat dirawat di ruang perawatan intensif, meski hasil akhir perawatannya belum diketahui publik.

Tren yang Terus Berulang Sejak 2025

Data menunjukkan Kamboja sebenarnya sudah mengalami peningkatan kasus H5N1 pada manusia sejak akhir 2023. Sepanjang 2025 saja, negara ini mencatat 19 kasus pada manusia, dengan 8 di antaranya berujung kematian, menjadikan tingkat fatalitas kasus di Kamboja tergolong tinggi dibanding rata-rata global.

Secara global, ringkasan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat sejak Agustus 2025 hingga 10 Juni 2026, terdapat 12 kasus H5N1 pada manusia yang dilaporkan di luar Amerika Serikat, tersebar di tiga negara yaitu Bangladesh, Kamboja, dan India. Dari jumlah tersebut, tiga kasus berujung kematian, masing-masing satu di Bangladesh dan dua di Kamboja. Yang melegakan, tidak ditemukan bukti penularan dari manusia ke manusia pada seluruh kasus tersebut, sehingga CDC menilai risiko terhadap masyarakat umum di Amerika Serikat tetap berada pada level rendah.

Secara akumulatif sejak pertama kali dipantau pada 1997, total kasus H5N1 pada manusia yang tercatat di seluruh dunia kini mencapai 1.022 kasus.

Imbauan bagi Masyarakat

Otoritas kesehatan Kamboja kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak menyentuh atau mengonsumsi unggas yang sakit maupun sudah mati. Bila harus berkontak dengan unggas, disarankan mengenakan sarung tangan dan masker, serta memastikan daging unggas yang dikonsumsi dimasak hingga benar-benar matang. Langkah pencegahan sederhana ini dinilai sebagai kunci utama untuk memutus rantai penularan virus dari hewan ke manusia, sembari pihak berwenang terus melacak sumber penularan yang sesungguhnya di lapangan.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.