CompileDaily
Virus

Ilmuwan Temukan Virus Tersembunyi di Bakteri Usus, Terkait dengan Kanker Kolorektal

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Selama bertahun-tahun, satu bakteri usus terus muncul berulang kali dalam penelitian kanker kolorektal, namun ilmuwan tidak pernah benar-benar memahami mengapa, sampai mereka mengintip lebih dalam ke sesuatu yang tersembunyi di dalam bakteri itu sendiri.

Tim peneliti dari University of Southern Denmark dan Odense University Hospital menemukan sebuah virus yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya, bersembunyi di dalam bakteri usus umum bernama Bacteroides fragilis. Penelitian yang dipimpin mikrobiolog Flemming Damgaard ini dipublikasikan di jurnal Communications Medicine, dan menyingkap kaitan baru yang menarik dengan kanker kolorektal.

Memecahkan Paradoks Lama

Bacteroides fragilis sebenarnya sudah lama dikaitkan dengan kanker kolorektal dalam berbagai penelitian sebelumnya. Namun hubungan ini selalu sulit dijelaskan, karena bakteri yang sama juga ditemukan pada kebanyakan orang sehat sebagai bagian normal dari mikrobioma usus mereka. Kondisi inilah yang menciptakan paradoks yang membingungkan ilmuwan selama bertahun-tahun.

"Ini merupakan paradoks, kami berulang kali menemukan bakteri yang sama terkait dengan kanker kolorektal, sementara pada saat yang bersamaan bakteri tersebut juga merupakan bagian normal dari usus orang sehat," ujar Damgaard. Menggunakan teknik genetic sequencing, tim peneliti menganalisis bakteri usus pasien kanker dalam studi populasi besar di Denmark, dan menemukan bahwa pada pasien kanker kolorektal, Bacteroides fragilis kerap "membawa" sebuah bakteriofag, yaitu virus yang hidup di dalam sel bakteri dan membajaknya untuk berkembang biak serta menyebar.

Diverifikasi pada Ratusan Sampel dari Tiga Benua

Sinyal awal temuan ini pertama kali muncul dari kelompok sampel yang relatif kecil. Untuk memastikan keakuratannya, temuan tersebut kemudian diverifikasi pada kohort yang jauh lebih besar, mencakup 877 orang dengan dan tanpa kanker kolorektal, yang berasal dari Eropa, Amerika Serikat, dan Asia.

Hasilnya cukup mencolok. Data menunjukkan bahwa penderita kanker kolorektal dua kali lebih mungkin memiliki tingkat bakteriofag yang terdeteksi di dalam bakteri usus mereka, dibanding orang tanpa kanker. Yang membuat temuan ini semakin menarik, virus ini ternyata tidak cocok dengan deskripsi virus apa pun yang pernah tercatat sebelumnya dalam literatur ilmiah.

"Kami sangat terkejut menemukan virus utuh di dalam bakteri dari pasien kanker kolorektal. Itu bukan sesuatu yang kami perkirakan," ungkap Damgaard.

Bukan Sekadar Bakterinya, tapi Interaksinya dengan Virus

Lihat Layanan Kami

Menurut Damgaard, yang menarik bukan hanya keberadaan bakteri itu sendiri, melainkan interaksi antara bakteri dengan virus yang dibawanya. Bakteriofag diketahui mampu mengubah aktivitas bakteri, memengaruhi cara bakteri berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh, atau bahkan mengubah produksi toksin oleh bakteri tersebut. Perubahan-perubahan semacam ini berpotensi memicu peradangan atau kerusakan sel yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada perkembangan kanker.

Penting untuk dicatat, para peneliti belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara virus ini dengan kanker kolorektal. Virus tersebut juga tetap terdeteksi pada sebagian orang sehat, sehingga temuan ini menunjukkan adanya kemungkinan keterkaitan yang perlu diteliti lebih lanjut, bukan bukti pasti bahwa virus tersebut menjadi penyebab kanker.

Potensi untuk Skrining Dini di Masa Depan

Sekitar 80 persen risiko kanker kolorektal dikaitkan dengan faktor lingkungan, termasuk komposisi bakteri di dalam usus. Artinya, pemahaman yang lebih baik terhadap faktor-faktor ini dan bagaimana mereka saling memengaruhi berpotensi berdampak pada pemahaman jutaan kasus kanker di seluruh dunia.

Damgaard menjelaskan bahwa mempelajari campuran bakteri di dalam usus bukanlah tugas yang mudah, mengingat kompleksitas mikrobioma yang luar biasa besar. "Sebelumnya, ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sebagai gantinya, kami menyelidiki apakah ada sesuatu di dalam bakteri itu sendiri, yaitu virus, yang mungkin bisa membantu menjelaskan perbedaannya," jelasnya.

Salah satu potensi aplikasi menjanjikan dari temuan ini adalah kemungkinan pengembangan metode skrining kanker kolorektal di masa depan. Dengan penelitian lebih lanjut, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan metode pemindaian sampel tinja untuk mendeteksi keberadaan virus B. fragilis ini sebagai salah satu penanda risiko dini.

Masih Tahap Awal, tapi Menjanjikan

Penelitian ini masih berada pada tahap awal dan bersifat eksperimental. Meski begitu, temuan seperti ini berpotensi membantu para ahli memahami lebih dalam bagaimana kanker kolorektal bermula, yang pada gilirannya dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi yang lebih bertarget, meski proses tersebut kemungkinan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun ke depan.

Salah satu langkah selanjutnya yang ingin didalami tim peneliti adalah memahami secara lebih spesifik bagaimana persisnya Bacteroides fragilis dipengaruhi oleh keberadaan bakteriofag yang menghuninya, sebuah pertanyaan yang bisa membuka pemahaman baru soal peran mikrobioma usus dalam perkembangan penyakit kanker.

Catatan: artikel ini membahas topik kesehatan yang bersifat sensitif. Bila Anda atau orang terdekat memiliki kekhawatiran terkait risiko kanker kolorektal, disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter atau tenaga medis profesional.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.