Saham Amazon Melonjak Usai AWS Cetak Pertumbuhan Tercepat dalam 18 Kuartal
Dua raksasa teknologi sama-sama melaporkan hasil yang melampaui ekspektasi analis pada pekan yang sama, tapi pasar memberikan respons yang benar-benar berlawanan terhadap keduanya.
Amazon merilis laporan keuangan kuartal kedua (Q2) 2026 pada Kamis, 30 Juli 2026, mencatatkan pendapatan bersih sebesar 200,6 miliar dolar AS, naik 20 persen secara tahunan dari 167,7 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini melampaui estimasi analis yang memperkirakan pendapatan sekitar 196,47 miliar dolar AS.
AWS Jadi Motor Utama Pertumbuhan
Pendorong utama hasil positif ini datang dari Amazon Web Services (AWS), divisi komputasi awan Amazon, yang mencatatkan pendapatan 42,2 miliar dolar AS, tumbuh 37 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini menjadi yang tercepat dalam 18 kuartal terakhir, jauh melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan sekitar 31 persen.
CEO Amazon, Andy Jassy, menyampaikan optimismenya terhadap performa AWS dalam pernyataan resmi perusahaan. "AWS is booming, growing 36.7% year-over-year in Q2, our fastest growth in 18 quarters, and our AI and Chips businesses each eclipsed run rates of more than $25 billion," ujar Jassy, menyoroti bahwa bisnis AI dan chip milik Amazon kini masing-masing telah melampaui tingkat pendapatan tahunan sebesar 25 miliar dolar AS.
Selain AWS, segmen periklanan Amazon turut mencatatkan pertumbuhan solid, naik 26 persen secara tahunan menjadi 19,8 miliar dolar AS. Dari sisi laba operasional, Amazon mencatatkan kenaikan 43 persen menjadi 27,5 miliar dolar AS, dibanding 19,2 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham (EPS) tercatat sebesar 1,97 dolar AS secara adjusted, melampaui estimasi analis sebesar 1,82 dolar AS.
Belanja Modal Dinaikkan, Arus Kas Bebas Justru Negatif
Seiring hasil positif ini, Amazon menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure) tahun 2026 dari sebelumnya 200 miliar dolar AS menjadi 220 miliar dolar AS, mencerminkan komitmen besar perusahaan terhadap investasi infrastruktur AI. Namun, lonjakan belanja modal ini turut berdampak pada arus kas bebas perusahaan, yang berbalik menjadi arus keluar sebesar 7,6 miliar dolar AS dalam 12 bulan terakhir, dibanding arus masuk 18,2 miliar dolar AS pada periode sebelumnya, didorong kenaikan belanja properti dan peralatan sebesar 66,1 miliar dolar AS secara tahunan untuk kebutuhan investasi AI.
Satu detail penting yang perlu dicatat, laba bersih kuartal ini turut mencakup pendapatan non-operasional sebesar 53,4 miliar dolar AS, yang sebagian besar berasal dari keuntungan investasi Amazon pada laboratorium AI swasta, Anthropic, bukan dari kinerja operasional bisnis inti Amazon. Investor dan pembaca laporan keuangan biasanya memisahkan komponen non-operasional semacam ini untuk mendapatkan gambaran lebih akurat soal kesehatan bisnis inti perusahaan.
Reaksi Pasar: Saham Melonjak, meski Ada Perbedaan Angka Antar Sumber
Menyusul laporan tersebut, saham Amazon mencatatkan kenaikan signifikan. Perlu dicatat, terdapat sejumlah perbedaan angka kenaikan saham yang dilaporkan berbagai sumber media, kemungkinan disebabkan perbedaan waktu pengukuran antara sesi after-hours segera setelah laporan dirilis Kamis malam, dengan pergerakan saham pada penutupan perdagangan resmi berikutnya. Sejumlah sumber melaporkan kenaikan sekitar 7 hingga 10 persen dalam perdagangan setelah jam bursa pada Kamis malam, sementara laporan lain mencatat kenaikan mencapai 15,3 persen pada penutupan perdagangan 1 Agustus 2026. Karena adanya variasi angka ini antar sumber, pembaca disarankan merujuk pada data resmi bursa saham real-time untuk angka pergerakan harga paling akurat pada waktu tertentu.
Kontras Tajam dengan Apple
Menariknya, performa saham Amazon ini berbanding terbalik dengan yang dialami Apple pada periode pelaporan yang sama. Apple turut melaporkan hasil yang melampaui ekspektasi, dengan pendapatan 109,4 miliar dolar AS, sedikit di atas konsensus analis sebesar 108,65 miliar dolar AS. Meski demikian, saham Apple justru mengalami penurunan dalam perdagangan setelah jam bursa, kontras tajam dengan lonjakan yang dialami Amazon meski keduanya sama-sama melampaui ekspektasi pasar.
Perbedaan reaksi pasar ini mencerminkan bagaimana investor saat ini tampak lebih mengapresiasi pertumbuhan yang terkait erat dengan infrastruktur AI, seperti yang ditunjukkan AWS, dibanding sekadar hasil finansial yang solid namun tanpa narasi pertumbuhan AI yang sekuat itu.
Perbandingan dengan Kompetitor Cloud Lain
Pertumbuhan AWS ini juga menarik untuk dibandingkan dengan kinerja pesaing utama di segmen komputasi awan. Microsoft melaporkan pendapatan dari Azure dan layanan cloud lainnya tumbuh 43 persen, naik dari 40 persen pada kuartal sebelumnya, dengan total pendapatan Azure dalam 12 bulan terakhir melampaui 100 miliar dolar AS. Sementara itu, Google Cloud milik Alphabet mencatatkan pertumbuhan sekitar 82 persen menjadi hampir 25 miliar dolar AS, setelah sebelumnya tumbuh 63 persen pada kuartal sebelumnya.
Meski AWS mencatatkan angka pertumbuhan persentase yang lebih rendah dibanding Google Cloud dan Microsoft Azure, AWS tetap menjadi pemain terbesar dari sisi nilai pendapatan absolut di antara ketiga penyedia layanan cloud tersebut, mempertahankan posisinya sebagai kekuatan dominan di industri komputasi awan global.
Catatan: Artikel ini menyajikan data laporan keuangan resmi perusahaan untuk tujuan informasi, bukan rekomendasi investasi. Pembaca disarankan melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan investasi.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.