CompileDaily
AI

PM Singapura Janjikan AI Tingkatkan Produktivitas dan Ciptakan Pekerjaan Lebih Baik

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
PM Singapura Janjikan AI Tingkatkan Produktivitas dan Ciptakan Pekerjaan Lebih Baik

Di tengah kecemasan pekerja di seluruh dunia soal masa depan pekerjaan mereka akibat AI, pemimpin negara kota yang dikenal paling agresif merangkul teknologi ini justru memilih untuk berbicara langsung soal ketakutan tersebut—bukan menutup-nutupinya.

Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, menegaskan pemerintahnya akan memanfaatkan kecerdasan buatan secara maksimal untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, di tengah kekhawatiran banyak pekerja terhadap dampak teknologi tersebut pada mata pencaharian mereka. Pernyataan ini disampaikan Wong dalam Pesan Hari Nasional 2026, yang direkam di National Stadium dan disiarkan pada Sabtu (8/8/2026), menjelang perayaan 61 tahun kemerdekaan Singapura pada 9 Agustus.

AI Mengubah Cara Kerja, tapi Juga Memicu Kecemasan

"AI sudah mengubah berbagai industri dan cara kita bekerja. Namun ini juga memicu kecemasan di kalangan banyak pekerja yang khawatir soal bagaimana hal ini akan memengaruhi mata pencaharian mereka," kata Wong dalam pesannya, sebagaimana dikutip dari transkrip resmi Kantor Perdana Menteri Singapura. "Di sini di Singapura, kami akan memanfaatkan AI sepenuhnya untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik. Pada saat yang sama, kami akan berinvestasi pada keterampilan dan pelatihan, sehingga setiap pekerja bisa beradaptasi, tumbuh, dan berkembang."

Menurut laporan Bloomberg, pemerintahan Wong saat ini tengah meninjau ulang pendekatan mereka terhadap industri dan perdagangan, serta mencari cara memperkuat daya saing negara kota tersebut di tengah lanskap global yang semakin tidak menentu.

Latar Belakang Geopolitik yang Lebih Suram dari Tahun Sebelumnya

Pesan Hari Nasional tahun ini disampaikan dengan nada yang jauh lebih waspada dibanding tahun-tahun sebelumnya. Wong secara terbuka mengakui Singapura menghadapi "latar belakang global yang lebih tidak pasti"—konflik yang meluas, hambatan perdagangan yang meningkat, serta kepercayaan antarnegara yang melemah. Ia secara spesifik menyoroti dampak krisis di Timur Tengah yang menurutnya masih sangat bergejolak, dengan efek yang terus merambat ke seluruh dunia lewat harga energi yang lebih tinggi, rantai pasok yang terganggu, dan biaya hidup yang meningkat bagi rumah tangga maupun bisnis.

Meski demikian, Wong menegaskan perekonomian Singapura tetap menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan tersebut.

Bukan Janji Baru, tapi Penegasan Komitmen yang Konsisten

Pernyataan Wong kali ini melanjutkan pola komitmen yang sudah ia sampaikan berulang kali sepanjang 2026. Pada Mei lalu di Rapat May Day, Wong mengakui secara jujur bahwa dirinya tidak bisa menjanjikan "tidak akan ada gangguan" akibat AI, dengan menyebut "pekerjaan akan berubah, sebagian akan hilang, dan kecepatan perubahan akan lebih cepat dari apa pun yang pernah kita lihat sebelumnya." Sebagai respons, pemerintah Singapura sebelumnya sudah membentuk National AI Council untuk mengoordinasikan upaya nasional, serta menggabungkan Workforce Singapore (WSG) dan SkillsFuture Singapore (SSG) menjadi lembaga baru bernama Skills and Workforce Development Agency (SWDA).

Parlemen Singapura bahkan secara resmi mengesahkan mosi yang menegaskan negara tersebut tidak akan mengalami "pertumbuhan tanpa lapangan kerja" di era transisi AI—mosi pertama yang diajukan gerakan buruh dalam lebih dari satu dekade terakhir, menurut laporan Channel NewsAsia.

Kekhawatiran Terhadap Media Sosial Turut Disinggung

Selain soal AI, Wong dalam pesannya turut menyinggung kekhawatiran serupa terhadap media sosial. Ia mengakui platform tersebut membantu masyarakat tetap terhubung dan berbagi ide, namun banyak orang tua yang khawatir soal dampaknya terhadap anak-anak dan remaja, khususnya bagaimana penggunaan berlebihan bisa merusak kesehatan mental, hubungan sosial, serta perkembangan yang sehat bagi generasi muda.

Pesan Hari Nasional ini akan disusul dengan National Day Rally pada 23 Agustus mendatang di ITE College Central—pidato Wong yang ketiga sebagai perdana menteri sejak menjabat, dan biasanya menjadi ajang pengumuman kebijakan yang lebih mendalam dibanding pesan seremonial Hari Nasional.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.