CompileDaily
Teknologi

LinkedIn Luncurkan Tombol "Seems Like AI Slop", Netizen Sindir Konflik Kepentingan

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
LinkedIn Luncurkan Tombol "Seems Like AI Slop", Netizen Sindir Konflik Kepentingan

Platform yang selama ini dikenal sebagai etalase utama konten "thought leadership" hasil AI kini justru menyediakan cara bagi penggunanya untuk melawan balik banjir konten yang sama.

LinkedIn resmi meluncurkan fitur baru berupa tombol "Seems like AI slop" yang memungkinkan pengguna melaporkan unggahan yang terlihat dihasilkan AI berkualitas rendah. Fitur ini diumumkan Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, lewat unggahan di platform mereka sendiri pada 30 Juli lalu.

Cara Kerja dan Alasan di Baliknya

Tombol pelaporan ini bisa diakses lewat menu tiga titik di pojok kanan atas setiap unggahan, sejajar dengan opsi "save" dan "copy link" yang sudah ada sebelumnya. Begitu sebuah unggahan dilaporkan, pemilik unggahan akan mendapat notifikasi pribadi lewat dashboard analitik mereka, dan jangkauan unggahan tersebut di luar jaringan pertemanan langsung akan berkurang.

"AI slop adalah prioritas utama bagi kami semua. Kami sangat peduli soal ini. Orang-orang datang ke LinkedIn untuk terhubung dengan orang sungguhan dan berbagi perspektif, ide, serta keahlian yang otentik," tulis Srinivasan. Ia menjelaskan definisi "slop" memang cenderung berubah-ubah, sehingga fitur pelaporan ini akan membantu LinkedIn menyempurnakan model klasifikasi konten dan algoritma feed mereka.

Bersamaan dengan peluncuran tombol ini, LinkedIn juga menghentikan fitur "enhance your post" milik mereka sendiri—alat yang selama ini membantu pengguna menulis ulang unggahan pakai AI—dan menggantinya dengan fitur proofreading yang diklaim mempertahankan gaya bahasa asli pengguna, bukan menulis ulang dari nol.

Skeptisisme soal Konflik Kepentingan

Langkah ini muncul di tengah sorotan tajam terhadap kondisi LinkedIn belakangan ini. Perusahaan riset deteksi AI, Pangram, mencatat lewat ekstensi browser mereka bahwa sekitar dua pertiga unggahan di LinkedIn terdeteksi sebagai hasil AI. Media 404 Media bahkan sempat melaporkan secara khusus soal fenomena banjir "unggahan brainrot" bergaya thought leadership palsu yang memenuhi linimasa platform tersebut.

Peluncuran fitur ini pun tak lepas dari kritik. "Platform yang membangun seluruh algoritmanya di atas konten hasil AI kini malah meminta kalian melaporkannya," tulis Nick Bennett, pendiri NB Marketing, menyindir langkah LinkedIn. Ia menyamakan situasi ini dengan "kasino yang menambahkan hotline kecanduan judi di layar mesin slot." Sejumlah pengguna lain turut mempertanyakan bahwa data hasil pelaporan justru akan dipakai untuk melatih sistem klasifikasi AI milik LinkedIn sendiri—sehingga alih-alih murni soal transparansi, fitur ini juga berfungsi sebagai sumber data pelatihan gratis.

Ada pula kekhawatiran soal potensi penyalahgunaan. Karena sepenuhnya mengandalkan pelaporan manusia, fitur ini berisiko dipakai bukan untuk mendeteksi konten AI secara akurat, melainkan sebagai alat membungkam pendapat yang tidak disukai pengguna lain.

Bagian dari Tren Perlawanan Industri terhadap Banjir Konten AI

Langkah LinkedIn ini sejalan dengan gerakan serupa di platform lain. Pekan sebelumnya, platform newsletter Substack menambahkan fitur deteksi AI lewat kemitraan dengan Pangram, dengan CEO mereka, Chris Best, secara terang-terangan menyebut alasan peluncurannya: "karena kami muak dengan slop dan tidak ingin Substack berubah menjadi LinkedIn." Pangram sendiri baru saja mengumumkan pendanaan baru senilai 9 juta dolar AS untuk mengatasi masalah banjir konten AI di internet secara lebih luas.

Fenomena ini bahkan sudah menenggelamkan startup baru sekalipun—Digg terpaksa menutup layanan pesaing Reddit mereka pada Maret lalu, dengan alasan tidak sanggup mengendalikan jumlah bot yang membanjiri situs mereka.

Srinivasan menyebut LinkedIn kini mendeteksi dan memblokir ratusan ribu percobaan komentar otomatis setiap harinya, serta telah mencegah miliaran upaya otomatisasi lain—mulai dari unggahan massal hingga konten slop—dalam beberapa bulan terakhir. Ia menegaskan penggunaan AI sendiri tidak sepenuhnya buruk, karena banyak pengguna memakainya untuk menyempurnakan gagasan mereka. Fitur baru ini, menurutnya, juga akan memberi tahu pengguna ketika unggahan mereka sendiri terdengar "tidak otentik"—sebuah pengingat mandiri sebelum orang lain sempat melaporkannya.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.