CompileDaily
UMKM

Kredit UMKM Cuma Tumbuh 1 Persen di Tengah Kredit Nasional yang Melesat 12,6 Persen

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Sementara mesin kredit perbankan nasional melaju kencang, sektor yang menyumbang lebih dari separuh perekonomian negeri ini justru tertatih-tatih, dan para ekonom mulai angkat suara soal apa yang sebenarnya terjadi.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga Juni 2026 hanya mencapai sekitar 1 persen secara tahunan, menjadi Rp1.519,1 triliun. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional secara keseluruhan yang mencapai 12,6 persen pada periode yang sama.

Perbaikan Bertahap Meski Masih Tipis

Meski terlihat kecil, angka 1 persen ini sebenarnya mencerminkan tren perbaikan. Pada Januari dan Februari 2026, kredit UMKM bahkan sempat terkontraksi 0,5 persen. Memasuki Maret, pertumbuhannya mulai membaik menjadi 0,12 persen, kemudian meningkat menjadi 0,6 persen pada Mei, hingga akhirnya menyentuh sekitar 1 persen pada Juni.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan hal ini dalam Economic Briefing 2026 pada Jumat, 26 Juli 2026. "Juni kredit tumbuh 12,6 persen, tapi UMKM ini tumbuhnya sangat kecil. Jadi kredit ke sektor UMKM hanya tumbuh sekitar 1 persen-an. Itu lebih bagus, sebelumnya negatif terus di year-on-year. Ini menjadi PR kita semua bagaimana kita membantu UMKM supaya mereka juga punya akses pembiayaan," ujarnya.

Rincian Berdasarkan Skala dan Jenis Penggunaan Kredit

Melihat lebih rinci berdasarkan skala usaha, kredit segmen usaha menengah tumbuh 1,6 persen secara tahunan menjadi Rp337,7 triliun, meski melambat dari 1,8 persen pada bulan sebelumnya. Sementara kredit segmen usaha mikro tumbuh 1,5 persen menjadi Rp664,1 triliun, melanjutkan pertumbuhan 0,6 persen pada bulan sebelumnya.

Data berdasarkan jenis penggunaannya menunjukkan gambaran yang lebih bervariasi. Kredit investasi UMKM justru mencatatkan kinerja cukup solid, tumbuh 13,5 persen secara tahunan menjadi Rp510,6 triliun. Namun di sisi lain, kredit modal kerja UMKM, yang biasanya digunakan untuk operasional sehari-hari seperti membeli bahan baku dan membayar biaya produksi, justru masih terkoreksi 4,3 persen menjadi Rp1.008,5 triliun.

Ekonom: Ini Persoalan Struktural

Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menilai kesenjangan pertumbuhan kredit UMKM dan kredit nasional ini mencerminkan adanya persoalan yang bersifat struktural. "Kesenjangan antara pertumbuhan kredit UMKM yang hanya sekitar 1 persen hingga Juni 2026 dan pertumbuhan kredit nasional sebesar 12,6 persen menunjukkan persoalan yang bersifat struktural. Padahal, UMKM menyumbang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar," kata Yusuf, Sabtu, 25 Juli 2026.

Lihat Layanan Kami

Menurutnya, persoalan bukan hanya soal akses pembiayaan semata, melainkan juga lemahnya permintaan akibat penurunan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, yang secara langsung menekan omzet dan arus kas pelaku usaha. Di sisi lain, perbankan masih memandang UMKM sebagai segmen berisiko lebih tinggi, mengingat banyak pelaku usaha belum memiliki pembukuan yang rapi, legalitas usaha yang lengkap, maupun rekam jejak keuangan yang memadai untuk meyakinkan bank.

Yusuf menekankan pentingnya penguatan ekosistem pembiayaan disertai pendampingan dan pemantauan berbasis data, agar rasio kredit bermasalah tetap terkendali seiring penyaluran kredit yang diperluas. "Jika seluruh kebijakan tersebut berjalan secara terpadu, target porsi kredit UMKM sebesar 25 persen pada 2029 akan lebih realistis sekaligus mampu memperkuat sektor produktif dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif," ujarnya.

Tantangan Literasi Keuangan dan Adopsi Digital

Destry Damayanti turut menyoroti rendahnya literasi keuangan di kalangan pelaku UMKM, yang membuat sebagian dari mereka masih mengandalkan pembiayaan informal dengan biaya jauh lebih mahal dibanding kredit perbankan resmi. "Kalau sekarang akses keuangannya terbatas, banyak juga di sektor yang informal, dimana itu costly, mahal. Nah ini menjadi PR kita bagaimana bersama-sama capacity building untuk para UMKM," tambahnya.

Selain literasi keuangan, tantangan lain yang dihadapi UMKM adalah rendahnya adopsi teknologi digital. Sebagai gambaran skala persoalan ini, dari sekitar 64 juta UMKM yang ada di Indonesia, hanya sekitar 15 persen di antaranya yang mampu menembus pasar ekspor, menunjukkan masih besarnya potensi yang belum tergarap optimal di sektor ini.

Pandangan dari Sisi Perbankan

Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan, memberikan perspektif dari sisi industri perbankan. Menurutnya, permintaan kredit, termasuk pada segmen UMKM, masih tertahan akibat lemahnya daya beli masyarakat. "Permintaan kredit itu sendiri relatif masih lemah karena faktor daya beli masyarakat yang masih rendah. Walaupun insentif dari regulator membantu, kenaikan BI Rate juga menaikkan cost of fund," ujarnya. Ia memperkirakan pertumbuhan kredit ritel, termasuk UMKM, hingga akhir tahun masih akan berada pada kisaran single digit rendah.

OJK Tetap Optimistis Membaik di Semester Kedua

Meski data terkini masih menunjukkan pertumbuhan yang lambat, Otoritas Jasa Keuangan tetap optimistis target pertumbuhan kredit UMKM di kisaran 7 hingga 9 persen pada akhir tahun ini masih bisa tercapai. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan optimisme tersebut didukung oleh level Indeks Keyakinan Konsumen yang terus terjaga, yang diharapkan mampu menopang aktivitas UMKM ke depannya.

Terlepas dari optimisme tersebut, kesenjangan yang masih terlihat jelas antara pertumbuhan kredit UMKM dan kredit nasional secara keseluruhan menjadi pengingat bahwa jalan menuju pemulihan penuh sektor yang menopang mayoritas lapangan kerja di Indonesia ini masih membutuhkan kerja keras dari berbagai pihak, mulai dari regulator, perbankan, hingga pelaku UMKM itu sendiri.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.