CompileDaily
Inflasi

Inflasi Indonesia Melandai ke 2,88% pada Juli 2026, Terendah Sejak April

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Di tengah kekhawatiran global soal harga komoditas yang terus membubung, Indonesia justru mencatatkan sesuatu yang berlawanan arah—laju kenaikan harga barang dan jasa yang dirasakan masyarakat sehari-hari justru melambat ke titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Inflasi Indonesia melandai menjadi 2,88 persen secara tahunan (year on year) pada Juli 2026, turun dari 3,34 persen pada Juni, menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal Agustus. Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan inflasi sebesar 3,2 persen, sekaligus menandai pembacaan terendah sejak April 2026—tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 hingga 3,5 persen.

Harga Pangan Jadi Faktor Utama Penurunan

Menurut laporan Dewan Ekonomi Nasional, penurunan inflasi ini terutama didorong turunnya harga sejumlah komoditas pangan seiring perbaikan pasokan. Inflasi komponen bergejolak (volatile food) melambat tajam menjadi 2,52 persen year-on-year pada Juli, dari 5,58 persen pada Juni—penurunan signifikan yang sejalan dengan meningkatnya produksi sejumlah komoditas hortikultura. Data TradingEconomics mencatat inflasi pangan secara keseluruhan melandai ke level terendah dalam enam bulan terakhir, tercatat 2,97 persen dibanding 4,67 persen pada bulan sebelumnya.

Pertumbuhan harga juga tercatat lebih moderat pada sektor perumahan (0,99 persen berbanding 1,04 persen), pendidikan (1,0 persen berbanding 1,27 persen), dan perawatan pribadi (9,04 persen berbanding 10,1 persen). Sebaliknya, tekanan harga justru meningkat pada sektor transportasi, perabotan, perawatan kesehatan, komunikasi, rekreasi, dan restoran—menunjukkan pola inflasi yang tidak merata di seluruh sektor.

Inflasi Inti Tetap Stabil di Tengah Kenaikan Harga Komoditas Global

Inflasi inti, yang mengeluarkan komponen harga pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah dari perhitungannya, tercatat stabil di 2,76 persen year-on-year pada Juli—tidak berubah dari bulan sebelumnya. Stabilitas ini terjadi di tengah terus naiknya harga komoditas global, yang tercermin dari Bloomberg Commodity Index yang melonjak 25,27 persen secara tahunan.

Di sisi lain, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru naik menjadi 3,58 persen year-on-year pada Juli, dari 3,42 persen pada Juni, terutama didorong masih tingginya harga energi domestik yang mengikuti tren harga energi global.

Lihat Layanan Kami

Tekanan di Level Produsen dan Pedagang Besar Justru Meningkat

Meski inflasi konsumen melandai, gambaran berbeda justru terlihat di level produsen dan pedagang besar. Inflasi Indeks Harga Produsen (IHP) melonjak menjadi 5,62 persen year-on-year pada kuartal kedua 2026, dari hanya 3,15 persen pada kuartal pertama. Kenaikan harga di level produsen ini turut mendorong Inflasi Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), meski laju kenaikannya justru melambat menjadi 5,66 persen year-on-year, dari 6,51 persen pada bulan sebelumnya—dengan hampir seluruh komponen IHPB mengalami penurunan kecuali sektor produk logam, mesin, dan perlengkapan.

Risiko El Niño dan Cuaca Kering Membayangi Bulan-bulan Mendatang

Dewan Ekonomi Nasional mengingatkan potensi dampak El Niño dan harga komoditas global yang masih tinggi perlu terus diantisipasi ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sekitar 71,55 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah pada Agustus 2026, dengan cakupan yang diperkirakan semakin meluas menjadi 77,46 persen pada September—kondisi yang berisiko menekan produksi padi dan komoditas hortikultura, berpotensi membalikkan tren penurunan inflasi pangan yang sudah tercapai.

Tiga Indikator Makro Kompak Positif: Inflasi, Manufaktur, dan Neraca Dagang

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut capaian inflasi Juli ini menjadi bagian dari tiga indikator makroekonomi yang secara bersamaan menunjukkan kinerja solid perekonomian Indonesia—inflasi yang terkendali, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang kembali memasuki zona ekspansi, serta perbaikan kinerja neraca perdagangan pada Juni 2026. "Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama untuk menjaga daya beli masyarakat," kata Airlangga dalam keterangan resmi.

Dengan inflasi yang tetap terjaga dalam rentang target Bank Indonesia, ruang bagi otoritas moneter untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang mendukung pertumbuhan ekonomi—tanpa terlalu khawatir memicu lonjakan harga—dinilai masih terbuka, meski risiko cuaca kering dan volatilitas harga komoditas global tetap perlu terus dicermati dalam beberapa bulan mendatang.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.