CompileDaily
Saham

IHSG Bangkit ke 6.186 di Tengah Investor Asing Tinggalkan Saham AI Korea dan Taiwan

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Ketika investor global mulai gelisah dengan mahalnya valuasi saham teknologi yang sempat menjadi primadona sepanjang tahun ini, sebagian dari mereka justru melirik kembali ke pasar yang selama ini dianggap tertinggal, termasuk Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis, 30 Juli 2026 di level 6.186,36, menguat 1,56 persen dari hari sebelumnya. Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia, penguatan ini melanjutkan tren pemulihan yang mulai terlihat sejak pertengahan Juli, dengan IHSG mencatatkan apresiasi 6,48 persen dalam kurun waktu satu bulan terakhir, meski masih mencatat penurunan 3,14 persen jika diukur secara mingguan.

Perjalanan Berat Sepanjang Semester Pertama 2026

Untuk memahami konteks pemulihan ini, perlu dilihat perjalanan panjang IHSG sepanjang tahun. Setelah mencatatkan penutupan di level 8.646,94 pada akhir 2025, kenaikan tertinggi dalam satu dekade terakhir, IHSG mengalami tekanan berat pada semester pertama 2026. Indeks bahkan sempat anjlok tajam hingga menyentuh kisaran 5.300 pada awal Juni 2026, akibat kombinasi tekanan global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan aksi jual investor asing yang masif.

Data mencatat, akumulasi net sell atau penjualan bersih investor asing sepanjang tahun berjalan 2026 hingga akhir Juli mencapai Rp71,17 triliun, dengan saham-saham blue chip perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi yang paling banyak dilepas investor asing selama periode tekanan tersebut.

Titik Balik: Rotasi Dana dari Saham AI Global

Pemulihan IHSG mulai terlihat jelas sejak pertengahan Juli 2026, bertepatan dengan mulai meredanya euforia saham-saham kecerdasan buatan (AI) di pasar global. Menurut laporan Reuters, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar 137,36 miliar dolar AS di pasar saham gabungan Korea Selatan, Taiwan, India, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina sepanjang semester pertama 2026, dengan Korea Selatan dan Taiwan mencatat dampak paling besar, masing-masing mengalami arus keluar 70,8 miliar dolar AS dan 29,6 miliar dolar AS.

Aksi ambil untung besar-besaran ini terjadi setelah saham-saham teknologi dan semikonduktor di kedua negara tersebut mencatatkan reli luar biasa berkat euforia AI sepanjang paruh pertama tahun ini. Data menunjukkan bahwa sepanjang Juli 2026, indeks saham Korea Selatan melemah sekitar 20 hingga 23 persen, sementara Taiwan turun sekitar 4 hingga 8 persen, kontras tajam dengan performa IHSG yang justru menguat lebih dari 10 persen pada periode yang sama.

Lihat Layanan Kami

Pandangan Analis: Fundamental Domestik Lebih Berpengaruh

Sejumlah analis pasar modal memberikan pandangan yang lebih hati-hati soal seberapa besar korelasi langsung antara koreksi saham AI global dengan penguatan saham teknologi domestik Indonesia. Menurut analis yang dikutip Kontan, korelasi antara keduanya tergolong moderat hingga minim, mengingat karakteristik emiten yang berbeda. Emiten teknologi di Indonesia lebih banyak bergerak di segmen aplikasi konsumen digital, e-commerce, ride hailing, maupun portofolio digital konglomerasi, berbeda dengan emiten teknologi Korea Selatan dan Taiwan yang didominasi produsen chip dan semikonduktor.

Menurutnya, saham teknologi domestik lebih banyak dipengaruhi faktor fundamental internal, seperti profitabilitas perusahaan, tingkat konsumsi domestik, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, dibanding perkembangan langsung industri AI global. Meski begitu, analis tersebut tetap mengakui bahwa koreksi saham AI global dapat memengaruhi psikologi pasar secara lebih luas, di mana aksi ambil untung besar pada saham teknologi global berpotensi memicu aliran dana keluar sementara dari aset berisiko di pasar berkembang secara umum, meski alasan fundamentalnya berbeda.

Faktor Pendukung Tambahan bagi Indonesia

Selain momentum rotasi dana asing, sejumlah faktor domestik turut dipandang mendukung keberlanjutan aliran modal ke Indonesia. Di antaranya adalah stabilitas nilai tukar rupiah yang diperkirakan membaik berkat komitmen Bank Indonesia menjaga nilai tukar, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dibandingkan negara lain, serta ekspektasi membaiknya kinerja emiten pada kuartal kedua 2026.

Tetap Perlu Kehati-hatian

Meski tren pemulihan terlihat cukup kuat, sejumlah analis mengingatkan bahwa kembalinya IHSG ke level 6.000-an tidak serta-merta berarti fase koreksi telah sepenuhnya berakhir. Secara historis, pemulihan indeks dapat berlanjut apabila didukung perbaikan fundamental arus modal, stabilitas rupiah, dan kinerja emiten yang konsisten, namun juga berpotensi berbalik arah apabila katalis pendukung tersebut berhenti. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan kebijakan suku bunga, arah kebijakan MSCI, peringkat kredit Indonesia, serta arus dana asing secara berkelanjutan sebagai indikator penting keberlanjutan tren ini.

Catatan: Artikel ini menyajikan data pergerakan pasar untuk tujuan informasi, bukan rekomendasi investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Pembaca disarankan melakukan riset mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan investasi.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.