Saham Google dan Tesla Anjlok, Investor Cemas Belanja Jumbo AI Tak Sepadan Hasilnya
Dua raksasa teknologi yang selama ini jadi andalan investor untuk taruhan besar di masa depan AI, justru menjadi biang keladi guncangan pasar saham Amerika Serikat dalam satu hari perdagangan yang penuh gejolak.
Pasar saham teknologi Amerika Serikat mengalami koreksi tajam pada Kamis, 23 Juli 2026, setelah Tesla dan Alphabet, perusahaan induk Google, melaporkan lonjakan belanja modal besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan. Laporan ini memicu kekhawatiran investor soal keberlanjutan siklus investasi AI yang terus membengkak tanpa kepastian hasil yang sepadan.
Tesla dan Alphabet Sama-sama Anjlok Tajam
Saham Tesla ditutup anjlok 14,5 persen, menghapus sekitar 200 miliar dolar AS nilai pasar perusahaan dan mencatatkan performa harian terburuk sejak Maret 2025. Harga saham Tesla jatuh ke level 320,52 dolar AS. Sementara itu, saham Alphabet turun 7,1 persen, menghapuskan sekitar 300 miliar dolar AS nilai kapitalisasi pasarnya, dengan harga saham berada di 317,45 dolar AS.
Dampak kekhawatiran ini turut menyeret saham Amazon, yang meski tidak melaporkan hasil keuangan pada hari yang sama, tetap ikut turun 4,6 persen dan kehilangan sekitar 120 miliar dolar AS nilai pasarnya.
Arus Kas Negatif di Tengah Belanja Jumbo
Baik Tesla maupun Alphabet sama-sama melaporkan arus kas bebas negatif untuk kuartal kedua tahun ini. Alphabet menaikkan proyeksi belanja modal tahun 2026 menjadi kisaran 195 hingga 205 miliar dolar AS, naik dari estimasi sebelumnya di kisaran 180 hingga 190 miliar dolar AS, sekaligus memperingatkan bahwa belanja bisa terus meningkat pada 2027. Chief Financial Officer Alphabet, Anat Ashkenazi, menjelaskan kepada para analis bahwa kenaikan ini terutama disebabkan percepatan penyediaan kapasitas untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh.
Meski begitu, ada sisi positif dari laporan Alphabet. Pendapatan segmen cloud perusahaan melonjak 82 persen secara tahunan pada kuartal kedua, mengindikasikan bahwa sebagian investasi besar mereka mulai membuahkan hasil nyata.
Di sisi Tesla, belanja modal perusahaan melonjak 142 persen secara tahunan menjadi 5,79 miliar dolar AS pada kuartal kedua, didorong peningkatan belanja untuk teknologi self-driving, kecerdasan buatan, dan inisiatif robotika. Tesla bahkan menaikkan proyeksi belanja modal tahun ini menjadi lebih dari 25 miliar dolar AS.
CEO Tesla, Elon Musk, berupaya menenangkan investor dalam earnings call perusahaan. "Ini tahun capex yang sangat besar. Saya yakin semua yang kami investasikan akan menghasilkan return luar biasa, mungkin return capex terbaik yang pernah kami lihat," ujarnya, sembari menyoroti inisiatif masa depan perusahaan di bidang produksi semikonduktor dan robot humanoid Optimus.
Meski pendapatan Tesla tercatat naik dengan penjualan mobil yang lebih tinggi dibanding tahun lalu, diskon besar yang diberikan pada kendaraan mereka turut menggerus margin keuntungan perusahaan.
Indeks Pasar Ikut Terguncang
Guncangan di saham Tesla dan Alphabet turut menyeret indeks pasar utama Amerika Serikat ke zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin atau 0,97 persen ke level 51.711,65. S&P 500 melemah 90,66 poin atau 1,21 persen ke 7.408,30. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menjadi yang paling parah terdampak, anjlok 553,21 poin atau 2,15 persen ke 25.137,69, penurunan harian terburuk dalam hampir dua bulan terakhir.
Faktor Geopolitik dan Persaingan AI dari China Turut Memperberat
Selain kekhawatiran belanja AI, tekanan tambahan datang dari eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah Brent melampaui 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran inflasi dan menekan lebih jauh saham-saham teknologi bervaluasi tinggi.
Kekhawatiran investor turut diperkuat oleh peluncuran Kimi K3, model AI asal China yang diklaim lebih murah namun berpotensi menyaingi kemampuan model-model buatan Amerika Serikat. Kemunculan model semacam ini kembali memunculkan pertanyaan lama di kalangan investor: apakah belanja besar-besaran perusahaan teknologi AS pada infrastruktur AI benar-benar sepadan dengan hasil yang akan diperoleh, mengingat ada alternatif yang jauh lebih murah dari kompetitor asal China.
Kekhawatiran ini turut menjalar ke saham-saham produsen chip AI, mengingat Tesla dan Alphabet merupakan pembeli besar chip untuk kebutuhan infrastruktur AI mereka. Saham Broadcom turun 6,7 persen, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company turun 5,1 persen, dan Arm Holdings anjlok 7,7 persen, mencerminkan kekhawatiran bahwa pelemahan belanja di kedua raksasa teknologi ini bisa berdampak pada permintaan chip AI ke depannya.
Sentimen Kehati-hatian Menyelimuti Pasar Global
Karl Schamotta, Chief Market Strategist di Corpay, menggambarkan situasi ini sebagai kehati-hatian yang nyata tengah menyelimuti pasar global, merujuk pada kekhawatiran yang kembali muncul soal keberlanjutan siklus investasi AI. Di tengah aksi jual besar-besaran ini, sektor-sektor defensif seperti kesehatan dan energi justru menunjukkan penguatan, sementara saham-saham semikonduktor bergerak bervariasi, dengan modal investor tampak bergeser dari platform software menuju sejumlah nama hardware tertentu.
Situasi ini sebenarnya mengingatkan pada kekhawatiran serupa yang pernah melanda pasar pada awal 2025, ketika perusahaan AI asal China, DeepSeek, mengumumkan telah melatih model AI dengan biaya kurang dari 6 juta dolar AS tanpa akses ke chip Nvidia kelas terbaik. Pengumuman tersebut sempat memicu keraguan besar di kalangan investor bahwa raksasa-raksasa teknologi Amerika Serikat telah berbelanja secara berlebihan untuk chip dan infrastruktur AI mereka.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.