CompileDaily
Teknologi

Ribuan Pekerja India Bantu Latih Robot AI yang Berpotensi Gantikan Pekerjaan Mereka Sendiri

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
Ribuan Pekerja India Bantu Latih Robot AI yang Berpotensi Gantikan Pekerjaan Mereka Sendiri

Ia tidak tahu untuk apa rekaman itu digunakan. Yang ia tahu hanya satu: setiap gerakan tangannya saat mengupas label plastik kini terekam kamera yang terpasang di kepalanya, dan pekerjaan itu membayar lebih baik daripada memilah sampah seharian.

Ribuan pekerja di India kini menjadi bagian penting dari rantai pasok data yang melatih robot dan sistem AI generasi terbaru—termasuk sistem yang berpotensi suatu hari menggantikan pekerjaan mereka sendiri. Laporan investigasi Bloomberg yang dipublikasikan Rabu (12/8/2026) menyoroti Sunita Rathore, perempuan berusia 43 tahun yang sehari-hari memilah sampah plastik di kawasan daur ulang Karan Vihar, pinggiran barat New Delhi, dengan penghasilan sekitar 20.000 rupee (211 dolar AS) per bulan. Kini, sembari bekerja, ia juga mengenakan iPhone yang diikat di kepalanya, merekam setiap gerakan tangan saat menyortir dan membersihkan plastik bekas.

"Data Egosentris": Bahan Bakar Baru bagi Robot yang Bisa Bergerak Seperti Manusia

Perusahaan robotika di seluruh dunia berlomba mengumpulkan rekaman video manusia menjahit sepatu, mengelas baja, memasak, hingga pekerjaan rumah tangga sederhana—demi memberi mesin mereka keterampilan baru. Rekaman berbasis sudut pandang orang pertama ini dikenal dengan istilah "egocentric data," dan menjadi bahan baku krusial yang selama ini sulit didapat dari sekadar teks atau gambar digital biasa. AI generatif sudah mahir mengolah data digital dalam jumlah masif, namun mengajarkan mesin memahami cara tubuh manusia bergerak di dunia nyata jauh lebih menantang—di sinilah data egosentris menjadi kunci.

India telah memposisikan diri sebagai pusat global untuk pengumpulan dan anotasi data semacam ini. Perusahaan seperti Objectways, yang beroperasi di India dan Amerika Serikat dengan klien mencakup perusahaan multinasional Fortune 500, merekrut ribuan orang untuk merekam aktivitas sehari-hari mereka—mulai dari memasak, menyusun bunga, hingga pekerjaan pabrik dan gudang—menggunakan kacamata video, kamera kepala, dan sensor gerak.

Upah Kecil, tapi Signifikan bagi Ekonomi Rumah Tangga

Bayaran yang diterima pekerja bervariasi, namun umumnya berkisar 250 rupee (sekitar 2,6-2,8 dolar AS) per jam rekaman. Bagi banyak pekerja informal India, angka ini terdengar menggiurkan. "Siapa lagi yang mau membayar 250 rupee sejam hanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah?" kata Nagireddy Sriramyachandra, perempuan berusia 25 tahun asal Chennai yang merekam dirinya mengiris mangga di dapur, kepada Al Jazeera dalam liputan terpisah soal fenomena ini.

Peneliti tenaga kerja digital dari Indian Institute for Human Settlements, Aditi Surie, mencatat permintaan terhadap data pelatihan berbasis dunia nyata terus meningkat seiring sistem AI semakin banyak merambah tugas-tugas fisik. Perusahaan robotika juga terus melakukan ekspansi cepat, dengan proyeksi pasar menyebut robot humanoid berpotensi mencapai penggunaan komersial dan industrial secara luas pada pertengahan abad ini. Bank investasi Morgan Stanley bahkan sebelumnya memprediksi dunia bisa menggunakan lebih dari satu miliar robot humanoid pada 2050, mayoritas bekerja di sektor industri dan jasa.

Kesadaran yang Menyakitkan: Melatih Pengganti Diri Sendiri

Yang membuat fenomena ini kompleks secara etis adalah kesadaran sebagian pekerja bahwa mereka tengah membantu menciptakan teknologi yang suatu hari bisa menggantikan pekerjaan mereka sendiri. Ponni, perempuan berusia 55 tahun yang selama satu dekade terakhir merangkai untaian bunga di pinggir jalan Bengaluru, turut menjadi salah satu peserta program perekaman berbasis kepala ini. "Generasi berikutnya... yang mungkin harus melakukan pekerjaan serupa dengan saya—mereka akan menghadapi masalah," kata Ponni kepada Taipei Times.

Investigasi terpisah dari Scroll.in bahkan mengungkap kasus di sebuah pabrik garmen di Gurugram, milik produsen apparel multinasional Pearl Global Industries, di mana pekerja diwajibkan mengenakan perangkat kamera kepala selama jam kerja tanpa penjelasan lengkap soal tujuan penggunaan data tersebut. "Kami diminta mengenakan alat itu dari jam 10 pagi sampai 4 sore," ungkap salah satu pekerja pabrik tersebut. "Mereka [pihak eksekutif] bilang ingin mengetahui apa yang kami lakukan selama shift dan berapa lama."

Kekhawatiran Soal Upah Layak, Privasi, dan Dampak Otomatisasi

Meski sebagian pekerja menerima pekerjaan ini sebagai sumber pendapatan tambahan yang menguntungkan, sejumlah kritikus mengangkat pertanyaan lebih luas soal keadilan upah, privasi data, serta dampak jangka panjang otomatisasi terhadap pasar tenaga kerja India. Wajah para pekerja umumnya dilarang terekam dalam video—sebuah langkah privasi minimal, namun tidak menghilangkan pertanyaan besar soal ke mana sebenarnya data tersebut berakhir dan siapa saja yang benar-benar memanfaatkannya.

Fenomena ini menjadi bagian dari transformasi lebih luas yang tengah berlangsung di sektor tenaga kerja digital India—negara yang selama dekade terakhir dikenal sebagai "kantor belakang dunia" berkat tenaga kerja murah dan kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. Di satu sisi, sektor pengumpulan dan anotasi data AI ini membuka lapangan kerja baru bagi jutaan orang. Di sisi lain, ironi yang sama juga tengah terjadi di sektor tenaga kerja digital India lainnya—mulai dari petugas call center hingga staf dukungan teknis—yang perlahan mulai tergantikan oleh chatbot dan agen AI generatif yang justru dilatih menggunakan data serupa.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.