CompileDaily
AI

Meski Banyak PHK Berbasis AI Dibatalkan, 53% Pekerja Amerika Masih Cemas Kehilangan Pekerjaan

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
Meski Banyak PHK Berbasis AI Dibatalkan, 53% Pekerja Amerika Masih Cemas Kehilangan Pekerjaan

Perusahaan-perusahaan di berbagai sektor kini berjuang keras mempertahankan kepercayaan karyawan mereka, di tengah gelombang kecemasan AI yang menyebar jauh melampaui ruang kerja hingga ke pertarungan politik pemilihan sela dan proses IPO perusahaan-perusahaan teknologi besar.

Backlash terhadap kecerdasan buatan di dunia kerja Amerika Serikat terus meluas, meski data menunjukkan mayoritas perusahaan yang sempat memberhentikan karyawan dengan dalih AI kini justru menarik kembali keputusan tersebut. Menurut laporan 2026 dari Software Finder, sebanyak 53 persen pekerja Amerika di berbagai kelompok demografi tetap mengkhawatirkan bahwa AI akan membuat peran mereka terasa kurang diperlukan, sementara persentase yang sama — 53 persen — khawatir AI akan membuat seseorang di rumah tangga mereka kehilangan pekerjaan.

Kepercayaan Jadi Kunci, tapi Banyak Perusahaan Masih Gagal Membangunnya

Managing Partner Gartner, Jackie Swanson, menyoroti kesalahan mendasar yang masih dilakukan banyak perusahaan dalam mengelola adopsi AI. Menurutnya, hampir setiap organisasi memiliki peta jalan adopsi AI, namun nyaris tidak ada yang memiliki rencana jujur soal dampak nyata AI terhadap karyawan mereka, terhadap ritme kerja, maupun terhadap jalur regenerasi pemimpin masa depan di perusahaan tersebut. Swanson menegaskan bahwa perusahaan yang menyadari hal ini sejak dini akan membangun keunggulan budaya kerja yang terus bertambah nilai, bahkan setelah teknologi AI itu sendiri menjadi komoditas biasa di kemudian hari.

Membangun kepercayaan ini bergantung besar pada bagaimana perubahan alur kerja dikomunikasikan kepada karyawan — sebuah proses yang dinilai sama strategisnya dengan integrasi teknologi itu sendiri.

Backlash Meluas hingga ke Pemilihan Sela dan Proses IPO

Kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap dunia kerja tidak lagi terbatas pada ruang lingkup internal perusahaan. Fenomena ini kini turut muncul dalam pertarungan politik pemilihan sela (midterm elections), bahkan berpotensi menjadi sorotan dalam berbagai pengajuan penawaran umum perdana (IPO) perusahaan-perusahaan teknologi besar yang tengah dinantikan pasar — menandakan bahwa kecemasan publik terhadap AI kini telah menjadi isu lintas sektor yang jauh lebih luas dibanding sekadar diskusi ketenagakerjaan semata.

Data Menunjukkan Gambaran Lebih Kompleks: Bukan PHK Massal, tapi Kompresi Upah

Meski narasi populer sering menggambarkan AI sebagai ancaman langsung berupa pemutusan hubungan kerja massal, sejumlah riset terbaru menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Analisis dari Apollo Global Management yang menggunakan data penggunaan nyata Claude dari Anthropic Economic Index — bukan sekadar skor teori "exposure" terhadap AI yang selama ini mendominasi riset ketenagakerjaan — menemukan bahwa pekerja di sektor-sektor yang banyak terekspos AI mengalami perlambatan pertumbuhan upah, sementara tingkat lapangan kerja di sektor tersebut relatif tidak berubah. Temuan ini mengindikasikan bahwa banyak perusahaan menyerap manfaat produktivitas AI melalui kompresi upah, bukan lewat pengurangan jumlah tenaga kerja secara langsung.

Lihat Layanan Kami

Penelitian terpisah dari Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR) turut menemukan bahwa tingkat pengangguran pada kelompok pekerja dengan eksposur AI tertinggi memang meningkat, namun tidak lebih cepat dibanding kelompok pekerja dengan eksposur AI terendah — sebuah temuan yang menantang narasi bahwa AI secara langsung menjadi penyebab utama gelombang PHK yang terjadi belakangan ini.

Pekerja Muda Jadi Kelompok Paling Rentan

Meski data agregat menunjukkan gambaran yang lebih moderat, riset dari Stanford Digital Economy Lab menemukan sinyal yang jelas pada kelompok pekerja usia muda. Menggunakan data payroll ADP dari jutaan pekerja, penelitian tersebut menemukan bahwa lapangan kerja bagi pekerja awal karier berusia 22-25 tahun di pekerjaan dengan eksposur AI tertinggi turun 16 persen relatif terhadap rekan sebaya mereka di pekerjaan dengan eksposur lebih rendah. Direktur Stanford Digital Economy Lab, Erik Brynjolfsson, menyebut sinyal paling jelas dalam data mereka justru muncul dari kombinasi usia muda dan tingkat eksposur AI yang tinggi — bukan salah satu faktor saja secara terpisah.

Perusahaan-perusahaan Mulai Menarik Kembali Keputusan PHK Berbasis AI

Di tengah kecemasan yang terus meningkat, tren menarik justru muncul dari sisi korporasi. Sejumlah perusahaan besar dilaporkan mulai membalikkan keputusan PHK yang sebelumnya mereka kaitkan dengan adopsi AI, seiring investor yang mulai mempertanyakan keberlanjutan ledakan AI di pasar finansial. Ford, misalnya, dilaporkan kembali merekrut ratusan insinyur berpengalaman untuk menangani masalah kualitas yang ternyata tidak dapat sepenuhnya diatasi sistem otomatis. Wakil Presiden Rekayasa Perangkat Keras Kendaraan Ford, Charles Poon, menyampaikan bahwa kecerdasan buatan merupakan alat yang sangat baik, namun kualitasnya sangat bergantung pada data yang digunakan untuk melatihnya. Perusahaan lain yang turut menarik kembali rencana perekrutan berbasis AI mereka mencakup Commonwealth Bank of Australia dan raksasa perangkat lunak IBM.

"AI Redundancy Washing" Jadi Fenomena yang Perlu Diwaspadai

Sejumlah analis mengingatkan agar klaim perusahaan yang menyalahkan AI atas PHK yang mereka lakukan perlu disikapi dengan kehati-hatian. Analis Deutsche Bank menyebut fenomena "AI redundancy washing" — di mana perusahaan menggunakan AI sebagai alasan pembenaran untuk PHK yang sebenarnya didorong faktor lain — akan menjadi fitur signifikan sepanjang 2026. Firma riset Challenger, Gray & Christmas mencatat AI telah disebut sebagai alasan utama dalam sekitar 23 persen dari seluruh pengumuman pemutusan hubungan kerja sepanjang 2026 — angka yang signifikan, namun juga menyisakan pertanyaan besar soal seberapa akurat klaim tersebut mencerminkan penyebab sesungguhnya di balik keputusan PHK tersebut.

Kesenjangan antara Persepsi dan Realita yang Masih Terus Berkembang

Dengan data yang menunjukkan gambaran lebih kompleks dibanding narasi populer soal "AI menggantikan pekerjaan manusia secara massal", tantangan terbesar yang kini dihadapi perusahaan bukan sekadar mengelola transformasi teknologi itu sendiri, melainkan menjembatani kesenjangan besar antara kecemasan yang dirasakan pekerja dan realita dampak AI yang jauh lebih bernuansa — sebuah pekerjaan rumah yang, menurut para ahli sumber daya manusia, akan semakin menentukan keberhasilan adopsi AI jangka panjang di berbagai organisasi ke depan.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.