Laba Samsung Melonjak 1.814 Persen Berkat Boom Chip Memori AI, Sehari Usai Saham Anjlok 12 Persen
Hanya sehari setelah investor beramai-ramai melepas saham mereka karena takut ekspektasi terlalu berlebihan, Samsung justru membuktikan sebaliknya lewat angka laba yang jauh melampaui semua perkiraan.
Samsung Electronics mencatatkan laba operasional kuartal kedua tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, mencapai 89,5 triliun won atau sekitar 62 miliar dolar AS, melonjak 1.814 persen secara tahunan. Lonjakan luar biasa ini didorong permintaan chip memori berbasis kecerdasan buatan yang mendorong penjualan Samsung ke level tertinggi sepanjang masa.
Pendapatan perusahaan naik 28 persen dari kuartal sebelumnya menjadi 171,5 triliun won, juga menjadi rekor baru bagi Samsung. Meski angka pendapatan ini sedikit meleset dari perkiraan analis, angka laba justru berhasil melampaui ekspektasi pasar.
Permintaan Server AI Menjadi Pendorong Utama Boom Memori
Divisi Device Solutions milik Samsung, yang menaungi bisnis chip memori mereka, mencatatkan lonjakan penjualan kuartalan sebesar 56 persen. Unit memori dalam divisi ini bahkan mencetak rekor baru baik dari sisi pendapatan maupun laba operasional.
Samsung secara strategis memprioritaskan produk server untuk memenuhi kebutuhan kapasitas infrastruktur AI yang terus meningkat. Akibatnya, penjualan produk server kini mencapai porsi rekor dalam keseluruhan bauran produk chip perusahaan.
Perusahaan juga meningkatkan skala produksi HBM4, chip memori berbandwidth tinggi yang digunakan dalam prosesor AI. Samsung bahkan telah mengirimkan sampel pertama di industri untuk HBM4E, versi generasi berikutnya dari chip tersebut, kepada sejumlah klien besar mereka.
Proyeksi Optimistis untuk Paruh Kedua Tahun
Samsung memperkirakan momentum positif ini akan terus berlanjut. Perusahaan memproyeksikan permintaan chip memori server dan chip berbandwidth tinggi akan semakin berakselerasi sepanjang paruh kedua 2026, seiring belanja infrastruktur AI yang terus meluas di berbagai sektor. Proyeksi optimistis ini muncul menyusul kesepakatan pasokan chip AI terbaru yang dijalin Samsung dengan Nvidia dan Broadcom.
Hasil Rekor Muncul Sehari Setelah Aksi Jual Besar-besaran
Menariknya, capaian laba rekor ini muncul hanya sehari setelah saham Samsung mengalami aksi jual tajam. Pada Rabu, saham Samsung sempat anjlok lebih dari 12 persen, sementara rivalnya, SK Hynix, bahkan tumbang hampir 20 persen. Para trader saat itu melepas berbagai taruhan terkait saham AI, didorong kekhawatiran bahwa proyeksi laba perusahaan-perusahaan chip sudah terlalu jauh melampaui realita yang sebenarnya.
SK Hynix sendiri juga melaporkan laba rekor pada hari yang sama, namun hasilnya justru meleset dari estimasi analis. Kedua produsen chip memori ini tetap menjadi pusat perhatian dalam reli saham terkait memori AI yang telah mewarnai pasar saham Korea Selatan sepanjang 2026, sejalan dengan kebangkitan indeks KOSPI yang didorong sektor AI secara luas.
Kekuatan Memori Menular ke Unit Bisnis Lain
MS Hwang, analis dari firma riset Counterpoint, menjelaskan bahwa kekuatan bisnis memori Samsung turut memberi dampak positif ke unit bisnis lain perusahaan. "Singkatnya, Samsung memanfaatkan posisi kuatnya di bisnis memori untuk secara agresif merebut pangsa pasar di sebagian besar unit bisnis mereka," ujar Hwang.
Sepanjang tahun berjalan, saham Samsung tercatat naik 75 persen, meski sempat mengalami penurunan tajam dari puncaknya pada Juni lalu. Para analis secara umum memperkirakan boom permintaan chip memori ini akan terus berlanjut, seiring operator pusat data terus memperluas kapasitas infrastruktur AI mereka. Meski begitu, gejolak harga saham yang terjadi sepanjang pekan ini menunjukkan sebagian investor mulai mempertanyakan seberapa lama tren kenaikan luar biasa ini benar-benar bisa bertahan, di tengah kekhawatiran valuasi sektor AI yang dianggap sebagian pihak sudah bergerak terlalu cepat dibanding fundamental bisnisnya.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.