Indonesia Loloskan 6 Talenta ke Protocol Camp 2026, Kemenekraf Perkuat Ekosistem Web3
Dari 23 talenta Web3 terpilih se-Asia yang berhasil menembus program pendampingan intensif di Bangkok, hampir sepertiganya datang dari Indonesia.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) Republik Indonesia memperkuat komitmennya dalam mengembangkan ekosistem Web3 dan blockchain lewat serangkaian kegiatan di Southeast Asia Blockchain Week (SEABW) 2026 serta program Protocol Camp 2026 yang berlangsung di Bangkok, Thailand.
Indonesia Tampil sebagai Keynote Speaker
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenekraf, Muhammad Neil El Himam, tampil sebagai salah satu pembicara utama dalam SEABW 2026 yang digelar pada 20-21 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap ekonomi digital global.
"Kami melihat Web3 bukan sekadar teknologi, tapi juga peluang untuk memperkuat nilai ekonomi kreatif Indonesia lewat inovasi, pengembangan talenta, dan kolaborasi global," ujar Deputi Neil di ajang internasional tersebut.
Ia membawakan presentasi bertajuk From Creative Economy to On-Chain Economy: How Indonesia Is Turning IP Into an Investment Grade Asset, yang membahas bagaimana Indonesia berupaya mengubah kekayaan intelektual menjadi aset digital bernilai investasi lewat pemanfaatan teknologi blockchain.
Kerja Sama dengan Perusahaan Blockchain Korea Selatan
Di sela rangkaian acara, Kemenekraf menandatangani Nota Kesepahaman dengan ShardLab Pte. Ltd., perusahaan blockchain asal Korea Selatan, untuk melaksanakan program bootcamp teknologi Web3 bernama Protocol Camp 2026. Program ini dirancang untuk melatih talenta digital terpilih sekaligus memperkuat konektivitas ekosistem digital kreatif Indonesia dengan jaringan global.
"Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan intellectual property sebagai aset digital yang dapat dikembangkan melalui teknologi blockchain dan tokenisasi aset," tambah Deputi Neil.
Selain menjadi keynote speaker, Deputi Neil turut berpartisipasi sebagai pembicara dalam diskusi panel bertajuk From Settlement to Tokenized Assets: What Will It Actually Take in Southeast Asia?. Diskusi ini menyoroti pentingnya kesiapan regulasi, pengembangan talenta digital, penguatan ekosistem aset digital, dan kolaborasi lintas sektor yang solid dalam mendorong transformasi ekonomi digital berbasis blockchain di kawasan Asia Tenggara.
Asia Tenggara Bergeser Jadi Pusat Inovasi
Hojin Kim, Chief Executive Officer ShardLab, menjelaskan bahwa Asia Tenggara kini telah memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pengguna teknologi digital, melainkan juga sebagai pusat inovasi dan pengembangan produk dalam lanskap ekonomi digital global.
"Transisi ini tercermin jelas dari pergeseran model ekonomi tradisional menuju ekonomi digital yang aktif, di mana adopsi teknologi pembayaran berbasis mobile dan kode QR meningkat signifikan," ujar Hojin Kim.
Enam dari 23 Talenta Se-Asia Berasal dari Indonesia
Protocol Camp 2026 sendiri berfungsi sebagai platform pendampingan intensif yang mempertemukan talenta-talenta teknologi Web3 pilihan dari seluruh kawasan Asia. Pada penyelenggaraan tahun ini, Indonesia meraih pencapaian yang cukup membanggakan dengan berhasil meloloskan enam talenta terbaiknya dari total keseluruhan 23 peserta yang terpilih se-Asia.
Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu kontributor talenta terbesar dalam program tersebut, mencerminkan potensi sumber daya manusia digital Tanah Air di ranah teknologi blockchain dan Web3 yang terus berkembang.
Ke depannya, lewat pengembangan talenta dan penguatan kolaborasi global, Indonesia diharapkan dapat memainkan peran strategis dalam mendorong transformasi dari ekonomi kreatif menuju on-chain economy yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing global.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.