CompileDaily
WEB 3

Empat Bank Raksasa AS Bangun Jaringan Tokenized Deposit Bersama, Lawan Ancaman Stablecoin

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads
Empat Bank Raksasa AS Bangun Jaringan Tokenized Deposit Bersama, Lawan Ancaman Stablecoin

Selama bertahun-tahun setiap bank besar membangun jaringan blockchain sendiri-sendiri, saling bersaing lewat brand masing-masing. Kini, di hadapan ancaman yang sama-sama mengintai deposit mereka, empat rival terbesar di industri perbankan Amerika Serikat justru memilih bersatu di satu jaringan yang sama.

JPMorgan Chase, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo tengah membangun jaringan tokenized deposit bersama yang dioperasikan oleh The Clearing House, mengonsolidasikan eksperimen blockchain deposit yang selama ini mereka jalankan terpisah-pisah ke dalam satu infrastruktur bersama. Proyek ini ditargetkan meluncur pada semester pertama 2027, dengan lebih dari selusin institusi tambahan—termasuk BNY, HSBC, PNC, dan U.S. Bank—sudah menyatakan dukungan mereka terhadap proyek ini.

Bukan Sekadar Proof of Concept, tapi Pembangunan Serius

Tokenized deposit merupakan representasi digital dari saldo rekening bank yang bisa dipindahkan lewat blockchain tanpa perlu menunggu proses settlement tradisional. Berbeda dari stablecoin yang merupakan instrumen bearer diterbitkan entitas non-bank, tokenized deposit tetap menjadi kewajiban bank penerbit dan mewarisi perlindungan regulasi yang sudah ada, termasuk potensi kelayakan asuransi FDIC.

Jaringan bersama ini akan memungkinkan transfer deposit korporat antar bank anggota secara real-time, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu—fitur yang mencakup treasury terprogram, manajemen likuiditas real-time, dan pembayaran lintas batas. Perusahaan multinasional akan menjadi pengguna awal dari layanan ini. CEO The Clearing House, David Watson, menyebut proyek ini sebagai "langkah besar bagi bank-bank" yang terlibat.

Wells Fargo Jadi yang Terbaru Bergabung

Wells Fargo mengumumkan Selasa (4/8/2026) lalu bahwa mereka akan mulai menawarkan tokenized deposit bagi klien korporat mulai musim gugur ini, diawali dengan layanan pertukaran dolar AS ke pound sterling Inggris secara terbatas untuk klien korporat terpilih. CFO Wells Fargo, Mike Santomassimo, menyebut tokenized deposit akan memungkinkan klien korporat dan komersial mereka memindahkan uang antar rekening dan lintas negara dengan lebih mudah dan cepat.

Bank yang mengelola aset lebih dari 2 triliun dolar AS ini memilih bergabung ke jaringan bersama, ketimbang membangun sistem proprietary sendiri—keputusan yang menurut sejumlah analis cukup signifikan, mengingat token dari satu bank saja memiliki utilitas terbatas, sementara jaringan bersama di mana deposit bisa mengalir antara JPMorgan, Citi, Bank of America, dan Wells Fargo mulai menyerupai jalur pembayaran alternatif yang jauh lebih kuat.

JPMorgan dan Citi Sudah Lebih Dulu Berjalan

JPMorgan sendiri sudah lebih dulu mengoperasikan platform blockchain Kinexys (dulu bernama Onyx atau JPM Coin) sejak 2020, yang kini memproses lebih dari 7 miliar dolar AS transaksi harian untuk klien institusional, mencakup repo intraday, pembayaran lintas batas, hingga settlement valuta asing. CEO JPMorgan, Jamie Dimon, mengonfirmasi dalam earnings call terbaru bahwa perdagangan kripto untuk klien institusional kini sudah beroperasi penuh—pergeseran signifikan dari sikap skeptis publik yang selama ini ia tunjukkan terhadap kripto. Sementara itu, Citigroup mengoperasikan jaringan tertutup mereka sendiri bernama Citi Token Services.

Melawan Ancaman Stablecoin yang Kian Nyata

Konsolidasi infrastruktur blockchain ini didorong urgensi yang sama: kekhawatiran deposit nasabah berpindah ke stablecoin dalam jumlah besar. Menurut Forbes, momentum kolaborasi antar bank yang secara historis kompetitif ini didorong ketakutan bersama akan potensi kehilangan triliunan dolar deposit ke ekosistem stablecoin, yang belakangan sudah membentuk konsorsium mereka sendiri bernama Open USD, ditargetkan meluncur pada 2026.

Proyek jaringan tokenized deposit ini turut memanfaatkan kejelasan regulasi dari GENIUS Act, yang memungkinkan tokenized deposit tetap tercatat di neraca bank—berbeda dari stablecoin yang berada di luar sistem perbankan tradisional. Analisis dari Yahoo Finance bahkan menyebut motif sesungguhnya di balik proyek ini bukan sekadar efisiensi, melainkan soal kendali: jika bank-bank menguasai lapisan settlement terokenisasi mereka sendiri, tidak akan ada celah politik maupun struktural bagi mata uang digital bank sentral (CBDC) versi pemerintah, sekaligus meminimalkan ruang gerak bagi penerbit stablecoin di ekosistem pembayaran institusional.

Langkah ini menjadi bagian dari tren lebih luas tokenisasi Wall Street yang tengah berlangsung cepat—BlackRock memperluas lini dana pasar uang terokenisasi mereka, Mastercard menambahkan settlement berbasis stablecoin, Visa menguji settlement stablecoin privat di Canton Network, dan DTCC tengah meluncurkan layanan tokenisasi bersama lebih dari 50 perusahaan finansial.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.