IHSG Sesi 2 Terkoreksi Tajam 1,44% ke 6.273, Lanjutkan Pelemahan Tiga Hari Beruntun
Apa yang tadinya diproyeksikan analis sebagai pergerakan sideways yang tenang, justru berubah jadi koreksi tiga hari beruntun yang semakin dalam—investor tampaknya belum juga selesai mengambil untung dari reli tajam pekan lalu.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam 91,44 poin atau 1,44 persen ke level 6.273,94 pada perdagangan sesi kedua, Selasa (11/8/2026) pukul 13.49 WIB. Pelemahan ini semakin dalam dibanding sesi pertama yang sudah lebih dulu ditutup turun 0,87 persen ke level 6.309,90, dengan volume transaksi mencapai 22,86 miliar saham—jauh di atas rata-rata volume harian 17,44 miliar saham.
Tiga Hari Beruntun Terkoreksi Usai Sempat Sentuh 6.462
Pelemahan hari ini melanjutkan tren koreksi yang sudah berlangsung sejak Senin kemarin, ketika IHSG ditutup turun 44,28 poin atau 0,69 persen ke level 6.365,37—mengakhiri momentum kuat yang sempat membawa indeks menyentuh level tertinggi 6.462,74 di sesi awal perdagangan Senin. Jika ditotal sejak puncak tertinggi pekan lalu, IHSG kini sudah terkoreksi lebih dari 180 poin dalam tiga hari perdagangan terakhir.
Nilai tukar rupiah turut melemah ke level Rp17.808 per dolar AS pada perdagangan Selasa, menambah tekanan di pasar saham domestik. Mayoritas sektor saham tertekan sepanjang perdagangan hari ini, dengan sektor industri memimpin koreksi. Indeks saham LQ45 juga ikut tergelincir 0,94 persen ke level 628,17 pada penutupan sesi pertama, mencerminkan tekanan jual yang merata di saham-saham berkapitalisasi besar—termasuk Astra International (ASII) yang melemah 1,6 persen ke Rp4.920 per saham.
Sinyal Teknikal: Death Cross Stochastic RSI di Area Overbought
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, dalam riset Selasa menyebut pelemahan IHSG saat ini lebih dipengaruhi faktor teknikal pascareli tajam sebelumnya. Secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG membentuk pola death cross di area jenuh beli (overbought), sementara histogram positif MACD mulai menyempit—mengindikasikan momentum penguatan yang sebelumnya kuat kini mulai berkurang signifikan. Riset Tim Phintraco Sekuritas sebelumnya memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways dalam rentang 6.300-6.450 hari ini, proyeksi yang kini sudah terlampaui ke arah bawah seiring pelemahan berlanjut lebih dalam dari perkiraan.
Pasar Menanti Hasil Rebalancing MSCI Besok
Salah satu katalis besar yang tengah dinantikan pelaku pasar adalah pengumuman hasil MSCI August Index Review yang dijadwalkan 12 Agustus 2026—satu hari setelah perdagangan hari ini. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menilai peluang penambahan saham Indonesia dalam indeks MSCI relatif terbatas karena kebijakan freeze yang masih berlaku, sehingga fokus pasar lebih tertuju pada potensi perubahan komposisi indeks yang sudah ada.
"Jika tidak ada kejutan negatif, hasil MSCI ini justru bisa menjadi katalis relief rally karena sebagian kekhawatiran pasar sebenarnya sudah tercermin di harga," ujar Nafan. Namun ia mengingatkan sebaliknya, jika hasil rebalancing lebih buruk dari ekspektasi pasar, kondisi tersebut berpotensi memicu kembali aksi jual investor asing dan menekan pergerakan IHSG lebih lanjut dalam jangka pendek.
Sentimen Global Sebenarnya Masih Cukup Positif
Menariknya, koreksi IHSG ini terjadi di tengah sentimen bursa global yang justru cenderung positif. Wall Street pada perdagangan sebelumnya bahkan mencatatkan penguatan dan rekor baru di indeks S&P 500 maupun Nasdaq. Kondisi ini menegaskan bahwa pelemahan IHSG saat ini lebih didorong faktor teknikal dan aksi ambil untung domestik, ketimbang sentimen negatif dari luar negeri.
Bagi investor yang mencermati support jangka pendek, level 6.250 dan area EMA50 menjadi titik krusial yang perlu diperhatikan. Selama level tersebut mampu dipertahankan, ruang pemulihan menuju resistance 6.377 dan seterusnya masih terbuka begitu tekanan jual mereda—dengan katalis MSCI besok berpotensi menjadi penentu arah jangka pendek berikutnya.
Catatan: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi berdasarkan data pasar dan pandangan analis, bukan rekomendasi atau ajakan membeli/menjual efek tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca; pelajari dan analisis kembali sebelum mengambil keputusan transaksi.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.