CompileDaily
Saham

Barclays: Tren Saham AI Terancam Amarah Pemilih AS soal Pembangunan Data Center

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Selama ini investor mengkhawatirkan suku bunga dan valuasi yang kemahalan. Sekarang Barclays bilang ada risiko baru yang justru datang dari bilik suara.

Barclays memperingatkan bahwa reli saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) menghadapi ancaman baru yang sifatnya politis, bukan sekadar teknikal pasar. Bank asal Inggris itu menyoroti kemarahan pemilih Amerika Serikat terhadap pembangunan data center yang kian meluas jelang pemilu paruh waktu (midterm) November mendatang.

Data Center Jadi Wujud Nyata Kemarahan terhadap AI

Data center — fasilitas raksasa yang menampung perangkat keras untuk melatih dan menjalankan model AI — terus bermunculan di berbagai penjuru AS, dengan lebih banyak lagi yang direncanakan perusahaan AI dan hyperscaler. Warga yang bergulat dengan kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar melihat data center sebagai wujud fisik dari kekesalan mereka terhadap AI, yang mereka kaitkan dengan tagihan listrik yang membengkak dan ancaman kehilangan pekerjaan.

National Republican Senatorial Committee (NRSC) bahkan menyebut data center sebagai "isu tidur" yang bisa meledak sepanjang siklus pemilu paruh waktu. Survei Echelon Insights pada Juni menemukan hanya 27 persen pemilih yang mendukung pembangunan data center AI di lingkungan mereka — peringkat terendah di antara semua jenis proyek infrastruktur yang diuji, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir.

Penolakan Melintasi Batas Partai

Sepanjang kuartal pertama 2026 saja, oposisi warga lokal berhasil memblokir atau menunda 75 proyek data center senilai total 130 miliar dolar AS. Delapan negara bagian sudah mengesahkan undang-undang yang mencabut insentif pajak untuk data center, sementara 17 negara bagian lain masih membahas regulasi serupa.

Di Texas, Gubernur Greg Abbott menghentikan sementara persetujuan pembangunan data center baru sambil menunggu audit regulator negara bagian dan operator jaringan listrik — langkah yang diambil di tengah keluhan pemilih konservatif lama di wilayah-wilayah terpencil negara bagian itu. Di Pennsylvania, Gubernur Josh Shapiro menandatangani perintah eksekutif yang mewajibkan persetujuan komunitas lokal sebelum izin pembangunan data center diberikan, meski sebelumnya ia getol memposisikan negara bagiannya sebagai pusat data center.

Lihat Layanan Kami

Wall Street Mulai Menghitung Risiko Pemilu

Barclays bukan yang pertama menyuarakan kekhawatiran ini. BCA Research sebelumnya menyimpulkan bahwa "risiko investasi ini bersifat politis, bukan teknologis," memperingatkan regulasi ketat dan kenaikan pajak terhadap perusahaan AI bisa muncul mulai tahun depan. Bank of America turut memasukkan skenario pemilu ke dalam proyeksi pasarnya: kemenangan Partai Republik yang solid pada pemilu November diperkirakan mendorong penguatan saham AS, sementara kemenangan Demokrat di Senat dan kursi gubernur Texas berisiko menekan indeks saham AS lebih dari 10 persen tahun depan.

Goldman Sachs memperkirakan investasi AI di AS akan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS tahun ini, setara sekitar 2 persen dari produk domestik bruto dan 10 persen dari total investasi tetap bisnis di negara itu — angka yang menjelaskan mengapa gejolak politik seputar data center kini ikut diperhitungkan dalam rekomendasi pasar saham.

Partai Republik Mulai Menjaga Jarak

Kandidat-kandidat Partai Republik yang sebelumnya getol mendukung industri AI kini mulai mundur teratur, terutama setelah melihat sejumlah kandidat "dihukum" pemilih di negara bagian seperti Ohio. Sementara itu, Partai Demokrat berlomba memanfaatkan momentum ini, bersaing mengusulkan pembatasan lebih ketat atau bahkan menghentikan total proyek data center di wilayah mereka.

Kondisi ini berisiko memperlambat laju pembangunan data center baru — padahal kapasitas komputasi itulah yang dibutuhkan perusahaan AI untuk terus meningkatkan kemampuan model dan produk mereka.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah backlash ini akan memengaruhi pasar, melainkan seberapa jauh ia akan menekan laju pembangunan infrastruktur AI menjelang hasil pemilu paruh waktu November nanti.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.