Peneliti Google DeepMind Mundur, Peringatkan AI Berpotensi "Membunuh Kita Semua"
youtube:Google Deepmind
Bukan orang luar yang sekadar berspekulasi soal bahaya AI, tapi orang dalam yang selama ini justru bekerja mengamankannya. Kini ia memilih mundur dan bicara terbuka ke publik soal ketakutannya sendiri.
Bilal Chughtai, mantan peneliti keamanan dan alignment AI di Google DeepMind, mengumumkan kepergiannya dari perusahaan tersebut lewat unggahan di platform X dan LinkedIn pada Senin (14/9/2026), sekaligus menyampaikan peringatan keras soal risiko eksistensial yang menurutnya ditimbulkan teknologi AI. "Saya sungguh-sungguh percaya bahwa AI berpotensi membunuh kita semua," tulis Chughtai.
"Saya Menyaksikan Langsung Pengembangan AI di Google"
"Di Google, saya menyaksikan langsung pengembangan AI. Saya juga sangat khawatir dengan lintasan default (default trajectory) teknologi ini," tulis Chughtai, menambahkan bahwa ia sebelumnya bekerja khusus pada isu keamanan dan alignment AI selama menjabat di perusahaan milik Alphabet Inc. tersebut.
Bukan Kasus Pertama, Bagian dari Rentetan Kepergian Serupa
Kepergian Chughtai ini menambah daftar panjang peneliti AI ternama yang meninggalkan posisi bergengsi mereka sambil menyuarakan kekhawatiran serupa. Pekan sebelumnya, dua peneliti lain, Benton dan Engels, juga meninggalkan Anthropic dan Google DeepMind dengan alasan kekhawatiran keamanan. "Tidak ada orang dewasa di ruangan itu," kata Engels dalam wawancara dengan NBC News. "Orang-orang sudah berusaha sebaik mungkin, tapi tidak ada yang akan datang menyelamatkan kita."
Benton dan Engels berbicara kepada media tak lama setelah unggahan viral dari mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, yang mengumumkan kepergiannya dari perusahaan tersebut lewat unggahan yang menyoroti kekhawatiran ekstremnya terhadap laju pengembangan AI dan risiko yang menurutnya mengancam masa depan umat manusia. "Orang-orang yang membangun AI ini sungguh-sungguh percaya bahwa teknologi ini bisa membunuh kita semua sebelum akhir dekade ini," tulis Coxon, menyebut Anthropic dan OpenAI tengah "mempertaruhkan nyawa kita".
Kedua Peneliti Bergabung dengan METR untuk Teliti Risiko Bencana AI
Benton dan Engels kini bergabung dengan METR, salah satu pusat riset nonprofit keamanan AI terkemuka di dunia, untuk meneliti insiden atau episode di mana AI menyimpang dari arahan atau maksud manusia. METR bertujuan menciptakan metode ilmiah untuk mengevaluasi bagaimana sistem AI berpotensi menimbulkan risiko bencana, sekaligus memberdayakan peneliti dan publik untuk memengaruhi arah pengembangannya.
Bukan Cuma yang Mundur, Peneliti yang Masih Bertugas pun Ikut Bersuara
Kekhawatiran serupa juga disuarakan sejumlah peneliti yang masih aktif bekerja di industri ini. Andreas Kirsch, yang menyatakan masih bekerja di Google DeepMind, menulis di X bahwa dirinya "juga khawatir AI akan membunuh kita semua, baik lewat risiko jangka pendek maupun jangka panjang, atau keduanya" — sembari mempertanyakan apakah pernyataan terbuka semacam itu akan membuatnya bermasalah dengan kebijakan internal perusahaan.
Alex Turner, yang meninggalkan Google DeepMind pada Juni lalu, turut menegaskan dukungannya terhadap pernyataan Coxon. "Jacob benar: banyak peneliti percaya mereka sedang membangun sesuatu yang bisa membunuh semua orang di planet ini. Itu secara harfiah adalah pekerjaan sehari-hari saya untuk memikirkan cara menghentikannya," tulis Turner.
OpenAI: "Status Quo Saat Ini Tidak Memadai"
Menanggapi rentetan kekhawatiran ini, Kepala Urusan Global OpenAI, Chris Lehane, dalam sebuah tulisan blog yang dipublikasikan pekan lalu turut sepakat bahwa status quo saat ini tidak memadai untuk mengelola risiko yang ditimbulkan perkembangan AI yang begitu pesat.
Bagian dari Gelombang Kekhawatiran yang Terus Membesar di Industri
Rentetan pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap risiko eksistensial AI, termasuk buku "If Anyone Builds It, Everyone Dies" karya Eliezer Yudkowsky dan Nate Soares yang diterbitkan tahun lalu dan sempat masuk daftar New York Times Best Seller. Kekhawatiran ini juga sejalan dengan peringatan yang belakangan disampaikan Kepala Ilmuwan OpenAI Jakub Pachocki soal perlunya "kehati-hatian ekstrem" terhadap laju kemajuan AI, serta seruan CEO Anthropic Dario Amodei agar industri memperlambat pengembangan model paling canggih mereka.
Dengan makin banyaknya peneliti dari laboratorium AI terkemuka dunia yang secara terbuka menyuarakan kekhawatiran eksistensial semacam ini — bukan lagi sekadar dari akademisi atau pengamat luar, melainkan dari orang-orang yang selama ini berada di jantung pengembangan teknologi tersebut — tekanan publik dan politik terhadap industri AI untuk menunjukkan langkah nyata soal keamanan tampaknya akan terus meningkat dalam waktu dekat.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.