CompileDaily
Virus

Kematian Ebola di RD Kongo Tembus 5.026, Wabah Bundibugyo Terbesar Kedua dalam Sejarah

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Bagi pejabat WHO yang menyebutnya tonggak yang sangat tragis, 5.000 kematian bukan sekadar angka — sementara sebagian besar kasus baru masih lolos dari pantauan.

Jumlah kematian akibat Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo melampaui 5.000 orang pada Jumat (30/10/2026), menurut data pemerintah yang dikutip Al Jazeera. Data Kementerian Kesehatan Kongo yang dirangkum Manila Times pada Minggu (1/11/2026) mencatat 5.026 kematian dari 10.351 kasus. Wabah yang diumumkan pertengahan Mei 2026 ini kini menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah, setelah epidemi Afrika Barat 2014-2016 yang menewaskan sekitar 11.000 orang.

Strain Bundibugyo Tanpa Vaksin

Penyebabnya adalah virus Bundibugyo, strain Ebola yang jarang ditemui. Belum ada vaksin maupun obat yang disetujui untuk strain ini, sehingga tenaga kesehatan hanya bisa merawat pasien berdasarkan gejala.

Dari 10.351 kasus, 2.788 orang dilaporkan sembuh. Dengan 5.026 kematian, angka kematian kasus berada di kisaran 49 persen, sejalan dengan perkiraan sekitar 50 persen dalam laporan Manila Times.

Menyebar ke Delapan dari 26 Provinsi

Virus telah menyebar ke 67 dari 178 zona kesehatan di delapan dari 26 provinsi Kongo. Pusat wabah berada di Ituri dan Kivu Utara, yang mencatat 9.782 kasus terkonfirmasi dan 4.792 kematian.

Di luar Kongo, Uganda sebelumnya mengonfirmasi kasus. Kenya mencatat delapan kasus dengan dua kematian. Soal Nigeria, laporan berbeda: Al Jazeera menyebut Nigeria sebagai negara Afrika keempat yang melaporkan kasus, sedangkan Manila Times menulis negara itu hanya mencatat satu kasus yang dievakuasi ke Swiss. Perbedaan ini belum bisa kami pastikan dari sumber primer.

Arab Saudi menangguhkan perjalanan dan masuknya warga dari Kenya pada Jumat, setelah pada Juni menangguhkan perjalanan dari RD Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan.

Sebagian Besar Kasus Baru Tak Terlacak

Lihat Layanan Kami

Africa CDC melaporkan sekitar 80 persen kasus baru berasal dari luar rantai kontak yang dipantau. Sepertiga kematian terjadi di luar fasilitas perawatan, sebelum korban sempat diuji.

Manajer program WHO, Dr. Patrick Otim, menyebut capaian 5.000 kematian sebagai "a very tragic milestone because it is just not a number." Pengendalian terhambat konflik bersenjata, termasuk kelompok M23 yang didukung Rwanda dan Sekutu Pasukan Demokratik (ADF), serta penolakan sebagian masyarakat, serangan terhadap petugas kesehatan, dan mogok kerja akibat gaji yang belum dibayar.

Direktur Negara Prosper Global untuk RD Kongo, Rose Tchwenko, mengatakan, "Across Ituri and North Kivu, this outbreak is stretching everyone responding to it, including the communities themselves."

Eskalasi Sejak Laporan Kami Terdahulu

Lonjakan ini terjadi setelah beberapa bulan wabah berjalan. Pada Juli, CompileDaily melaporkan wabah Ebola terbesar ketiga sejarah dan Uganda yang dinyatakan bebas Ebola saat kasus di Kongo justru terus naik. Kini peringkat wabah telah naik satu tingkat.

Manila Times menyebut ini wabah pertama yang tercatat di tiga kawasan Afrika. Untuk pembaca di Indonesia, sumber yang kami periksa tidak memuat laporan kasus di Asia. Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, sehingga risiko terbesar ada pada keluarga pasien dan petugas yang merawatnya.

Al Jazeera menulis otoritas Kongo kesulitan mengendalikan wabah sejak diumumkan pada Mei. Dalam hampir enam bulan, jumlah kasus melewati 10.000 dan korban meninggal mencapai 5.026 orang.

Yang ditunggu selanjutnya adalah apakah otoritas bisa menjangkau kasus yang selama ini lolos dari pantauan, mengingat sebagian besar penularan baru terjadi di luar rantai kontak yang tercatat.

Artikel ini bersifat informasi dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis. Jika Anda baru bepergian ke wilayah terdampak dan mengalami demam atau gejala lain, segera hubungi fasilitas kesehatan atau tenaga medis.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan dan iklan yang relevan. Baca Kebijakan Privasi kami.