CompileDaily
Cyber Security

Kalah di Pengadilan, Google Tetap Ngotot Lawan Perusahaan Scraping SerpApi

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Ada ironi yang sulit dihindari dalam kasus ini: perusahaan yang membangun seluruh kerajaan bisnisnya dari menjelajahi dan mengindeks web tanpa izin, kini justru berjuang mati-matian di pengadilan untuk menghentikan orang lain melakukan hal serupa terhadap dirinya sendiri.

Sebuah putusan pengadilan federal baru saja menolak gugatan Google terhadap SerpApi, perusahaan yang mengambil dan menjual data hasil pencarian Google kepada berbagai kliennya. Meski mengalami kekalahan hukum ini, Google menegaskan kepada Ars Technica bahwa mereka berencana mengajukan gugatan yang diperbarui untuk terus menghentikan bot scraping berbasis AI mengambil data dari platform mereka.

Awal Mula Gugatan

Google pertama kali mengajukan gugatan terhadap SerpApi pada Desember 2025, di bawah Digital Millennium Copyright Act atau DMCA. Perusahaan menuduh SerpApi melewati langkah-langkah perlindungan teknologi mereka untuk menjual data hasil pencarian lewat layanan yang tidak berizin. Tak lama sebelum gugatan Google, Reddit juga mengajukan gugatan serupa, menyasar SerpApi dan mesin pencari AI Perplexity terkait scraping konten Reddit yang terindeks dalam hasil pencarian Google.

SerpApi sendiri berperan penting dalam ekosistem AI saat ini, karena Google tidak menyediakan API resmi untuk hasil pencariannya. Hal ini menjadikan akses tidak langsung lewat perusahaan seperti SerpApi sebagai rute utama untuk mendapatkan data dari indeks pencarian Google, dengan klien SerpApi mencakup nama-nama besar seperti Nvidia, Uber, Adobe, dan mesin pencari AI Perplexity.

Alasan Hakim Menolak Gugatan Google

Ketika hakim mengabulkan permintaan SerpApi untuk membatalkan gugatan tersebut, dengan alasan Google tidak memiliki kedudukan hukum karena tidak memiliki hak cipta atas hasil pencarian publik itu sendiri, putusan ini tampak seperti pukulan telak bagi Google.

Dalam argumennya, Google mengeklaim sistem bernama SearchGuard yang mereka miliki bertujuan mencegah pihak ketiga tidak berwenang mengakses dan mengambil hasil pencarian mereka secara otomatis. Google juga menyebut hasil pencarian sering disertai Knowledge Panel yang berisi konten berhak cipta berlisensi dari pihak ketiga, seperti gambar berhak cipta. Namun, Google tidak pernah mengklaim bahwa Knowledge Panel selalu muncul di setiap hasil pencarian, atau bahwa Knowledge Panel tersebut, jika memang muncul, selalu berisi konten berhak cipta.

Google Menolak Menyerah

Meski kalah dalam putusan awal ini, Google jelas belum bersedia mengibarkan bendera putih. Juru bicara Google, José Castañeda, menyatakan perusahaan senang melihat pengadilan menolak hampir seluruh argumen hukum SerpApi terkait kedudukan hukum dalam kasus ini. Google berencana mengajukan gugatan yang telah diperbarui untuk melanjutkan pertarungan hukum ini.

Lihat Layanan Kami

Dilema Strategis di Balik Keputusan Google

Situasi ini menempatkan Google dalam posisi yang cukup canggung secara strategis. Menurut analisis yang disampaikan seorang pakar hukum bernama Rose kepada Ars Technica, Google pada dasarnya telah menjebak dirinya sendiri di sebuah sudut. Untuk memenangkan pertarungan kecil melawan SerpApi, Google mungkin harus mengakui kekalahan pada pertarungan yang jauh lebih besar.

Jika Google berargumen bahwa Knowledge Panel mereka penuh dengan materi berhak cipta guna menghentikan aktivitas scraper, mereka berisiko secara tidak langsung mengakui bahwa mereka sendiri secara algoritmik mereproduksi konten tak berlisensi di berbagai bagian lain dalam hasil pencarian mereka. Pengakuan semacam itu berpotensi membuka celah bagi gugatan fair use terpisah yang bisa menyeret Google ke masalah hukum yang jauh lebih rumit.

Hasil dari kasus ini juga berdampak langsung pada gugatan Reddit yang masih berjalan, karena gugatan tersebut menghadapi masalah kedudukan hukum yang serupa, mengingat Reddit sendiri bukanlah pemilik konten yang ditulis para penggunanya di platform tersebut.

SerpApi Membingkai Kasus Ini Lebih Besar dari Sekadar Dirinya

SerpApi memanfaatkan momentum putusan ini untuk menyampaikan pesan yang lebih luas, menyebut baik Google maupun Reddit tidak memiliki hak atas Internet secara keseluruhan, dan menuduh keduanya berupaya menjadikan DMCA sebagai senjata untuk menutup akses terhadap Internet yang seharusnya terbuka. CEO SerpApi, Julien Khaleghy, bahkan mencatat bahwa jika perhitungan kerugian yang diajukan Google diterapkan secara harfiah, angkanya akan melampaui seluruh nilai ekonomi Amerika Serikat.

Bagian dari Tren Penutupan Web yang Lebih Luas

Kasus ini merupakan bagian dari gelombang yang lebih besar dalam lanskap internet saat ini. Aktivitas scraping AI yang agresif mulai marak sekitar 2023, dan sejak itu para publisher berlomba-lomba menutup akses terhadap konten mereka, sebuah fenomena yang disebut sebagai "re-enclosure" atau penutupan kembali web yang sebelumnya sebagian besar bersifat terbuka.

Dampak dari tren ini tidak hanya memperlambat proses pelatihan model AI, tetapi juga merusak praktik crawling anonim yang selama ini secara diam-diam diandalkan oleh berbagai kepentingan publik, mulai dari riset akademis, pengarsipan digital, jurnalisme, hingga pelaporan kesehatan masyarakat. Ironisnya, berbagai alat yang dibangun untuk menghentikan scraper yang merugikan sering kali justru menjaring semua pihak tanpa pandang bulu, termasuk mereka yang menggunakan akses tersebut untuk kepentingan yang sepenuhnya sah dan bermanfaat bagi publik.

Kasus Google versus SerpApi ini pada akhirnya menjadi cerminan dari ketegangan yang lebih besar di era AI: bagaimana perusahaan-perusahaan yang dulu membangun kekuatan mereka lewat akses terbuka terhadap web, kini justru berjuang menentukan batas antara akses yang sah dan yang tidak, sebuah pertanyaan yang jawabannya akan terus dibentuk lewat berbagai kasus hukum serupa di masa mendatang.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.