CompileDaily
Startup

Dua Hari Usai Rilis Kimi K3, Moonshot AI Terpaksa Setop Pendaftaran Baru karena Membludak

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Sebuah startup yang sempat nyaris tenggelam di tengah gempuran kompetitornya sendiri, kini mendadak jadi pusat perhatian dunia hanya dalam hitungan hari, sampai-sampai mereka sendiri kewalahan menampung lonjakan permintaan yang datang.

Moonshot AI, startup kecerdasan buatan asal Beijing, mengalami lonjakan permintaan yang luar biasa usai merilis model terbarunya, Kimi K3. Hanya dua hari setelah peluncuran, perusahaan terpaksa menghentikan sementara pendaftaran langganan baru karena permintaan yang masuk melebihi kapasitas komputasi yang mereka miliki.

Sosok di Balik Moonshot AI

Moonshot AI didirikan pada awal 2023 oleh Yang Zhilin, mantan profesor Tsinghua University yang sebelumnya pernah bekerja di Meta Platforms. Nama "Kimi" pada produk andalan perusahaan ini sebenarnya diambil dari nama Inggris Yang sendiri. Pada tahun pendiriannya, Moonshot berhasil meraih hampir 300 juta dolar AS dalam dua putaran pendanaan pertamanya, menandakan besarnya kepercayaan investor sejak awal terhadap potensi perusahaan ini.

Lonjakan Penjualan Enam Kali Lipat

Sejak debut Kimi K3, penjualan harian Moonshot dilaporkan melonjak setidaknya enam kali lipat. Momentum ini kini dimanfaatkan perusahaan untuk mencari putaran pendanaan baru dengan target valuasi mencapai 50 miliar dolar AS, sembari mempersiapkan kemungkinan penawaran umum perdana atau IPO di Hong Kong secepatnya tahun ini.

Antusiasme yang tidak terduga terhadap Kimi K3 ini bersumber dari kemampuannya menyamai, bahkan dalam sejumlah kasus mengungguli, kompetitor paling canggih asal Amerika Serikat seperti versi terbaru GPT milik OpenAI dan Claude milik Anthropic, sambil tetap tersedia secara gratis untuk diunduh.

Reaksi Pasar Saham yang Nyata

Pengumuman awal dan performa benchmark Kimi K3 memicu aksi jual di saham-saham terkait AI. Indeks Nasdaq sempat turun sekitar 1 persen, dengan investor melepas saham perusahaan Amerika Serikat seperti Intel dan Nvidia, produsen chip yang menjadi tenaga penggerak berbagai sistem AI di seluruh dunia.

Menurut laporan Financial Times, Kimi K3 mengalahkan Claude Opus 4.8 milik Anthropic dan GPT-5.5 milik OpenAI di sebagian besar benchmark coding dan tugas agent AI umum, sambil hanya menghabiskan biaya sekitar sepertiga dari biaya menjalankan Opus 4.8. Kombinasi performa tinggi dengan biaya jauh lebih rendah inilah yang menjadi daya tarik utama Kimi K3 di kalangan developer global.

Lihat Layanan Kami

Tuduhan Pelanggaran Chip dari Gedung Putih

Kesuksesan Moonshot ini tidak luput dari sorotan tajam pemerintah Amerika Serikat. Seorang pejabat Gedung Putih menuduh Moonshot melatih Kimi K3 menggunakan chip Nvidia yang sebenarnya dilarang untuk diekspor ke China, sekaligus menghidupkan kembali tuduhan lama soal praktik distillation, yaitu mengekstrak output dari model kompetitor top secara tidak sah untuk mendongkrak performa model sendiri.

Menanggapi tuduhan semacam ini, Graham Webster, profesor Stanford University, menyampaikan pandangan yang lebih hati-hati. Menurutnya, kemajuan yang ditunjukkan China tidak bisa dijelaskan hanya oleh praktik distillation semata. Ia menegaskan ada inovasi nyata yang sedang terjadi, mengingat China sudah bertahun-tahun beroperasi di bawah kontrol ekspor ketat dan keterbatasan sumber daya komputasi yang signifikan dibanding para pesaingnya di Amerika Serikat.

Adopsi di Cloud Provider Masih Terbatas

Menariknya, meski Kimi K3 dan model sejenis seperti GLM-5.2 buatan Z.AI berhasil mendorong campuran volume token model open-weight asal China hingga mencapai 68 persen, tiga penyedia layanan cloud besar, yaitu Amazon AWS Bedrock, Microsoft Azure Foundry, dan Google Vertex AI, hingga kini belum secara resmi mendukung model-model open-weight asal China tersebut di platform mereka.

Momentum ini juga tidak berdiri sendiri. Bersamaan dengan gebrakan Moonshot, Alibaba turut meluncurkan versi preview model flagship mereka, Qwen3.8 Max, yang diklaim setara dengan model AI kelas frontier terdepan di dunia.

Seorang analis AI bernama Kim Isenberg menyebut momentum ini berpotensi memicu apa yang disebutnya sebagai "kode merah" bagi sejumlah pihak di industri, karena menurutnya seluruh dinamika permainan di industri AI telah berubah drastis.

Kebangkitan Setelah Sempat Terpuruk

Kesuksesan K3 ini menjadi kisah kebangkitan yang cukup dramatis bagi Moonshot. Setelah debut model Kimi pertama pada 2023, aplikasi mereka sempat menempati peringkat ketiga pengguna aktif bulanan AI di China pada Agustus tahun sebelumnya. Namun posisi tersebut anjlok ke peringkat ketujuh pada Juni, akibat gempuran popularitas DeepSeek yang sempat mengejutkan industri AI global lewat model R1 mereka pada awal 2025.

Kesuksesan Kimi K3 kini menjadi upaya besar Moonshot untuk merebut kembali posisi yang sempat hilang tersebut, sekaligus menegaskan bahwa persaingan ketat di industri AI China masih jauh dari kata usai, dengan setiap perusahaan terus berlomba menghadirkan terobosan baru untuk tetap relevan di tengah pasar yang bergerak sangat cepat ini.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan. Baca Kebijakan Privasi kami.