Dinkes Kota Malang Prediksi DBD Naik Februari-Maret 2027, Bertepatan dengan Ramadan
Nyamuk tidak menunggu hujan deras untuk bersiap. Menurut Dinas Kesehatan Kota Malang, siklus hidup Aedes aegypti sudah berjalan sekarang, tiga bulan sebelum puncak kasus demam berdarah dengue yang mereka perkirakan jatuh di bulan puasa.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Husnul Muarif, memprediksi kasus demam berdarah dengue (DBD) di kota itu mulai naik pada Februari hingga Maret 2027, bertepatan dengan Ramadan, sebagaimana dilaporkan Disway Malang pada Minggu (8/11/2026). Pernyataan serupa soal kewaspadaan musim hujan juga dimuat Radar Malang pada hari yang sama.
Pola awal tahun dan prakiraan musim hujan
Dasar prediksi itu ada dua. Pertama, pola tahun-tahun sebelumnya: kasus DBD di Malang biasanya merangkak naik di akhir tahun dan memuncak pada awal tahun. Kedua, prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim hujan mulai pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
"Sekarang sudah November, siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sudah mulai berkembang," kata Husnul, seperti dikutip Disway Malang. Dinkes belum menyebut angka kasus terbaru tingkat kota dalam kedua laporan tersebut, sehingga prediksi ini sebaiknya dibaca sebagai peringatan dini, bukan penetapan kondisi saat ini.
Kepada Radar Malang, Husnul juga menegaskan, "Kewaspadaan tetap diperlukan mengingat pola peningkatan kasus yang kerap terjadi setiap memasuki musim hujan." Laporan itu menyebut kenaikan kasus lazim terjadi menjelang Desember hingga Januari, lalu mencapai puncaknya pada Februari hingga Maret. Karena itu, Dinkes memilih bergerak sebelum hujan deras turun, bukan menunggu laporan kasus pertama.
Puskesmas diminta bersosialisasi lebih awal
Dinkes meminta puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu) memulai sosialisasi pencegahan lebih cepat dari biasanya. Warga juga diingatkan memeriksa saluran drainase yang tersumbat, karena genangan di sana bisa menjadi tempat jentik berkembang.
Husnul menambahkan, aktivitas nyamuk meningkat pada pagi dan siang hari. Saat Ramadan nanti, warga tetap diminta memeriksa dan membersihkan tempat-tempat yang bisa menampung air.
Gambaran dari Puskesmas Mulyorejo
Di tingkat puskesmas, Radar Malang mengutip data Puskesmas Mulyorejo: pada November tahun lalu tercatat lebih dari 100 kasus DBD, sedangkan pada November tahun ini jumlahnya turun menjadi 34 kasus. Persebaran kasus di lima kecamatan wilayah itu disebut relatif merata, tanpa satu kecamatan yang menonjol.
Kepala Puskesmas Mulyorejo, drg Helmie Wibisono, menyebut virus dengue "suka tempat bersih, malah tidak suka kotor". Artinya, rumah yang tampak rapi pun tetap berisiko bila ada wadah air yang lama tidak dikuras.
3M Plus dan satu rumah satu jumantik
Imbauan utama masih sama: menguras, menutup, dan mengubur barang yang berpotensi menampung air, atau yang dikenal sebagai 3M Plus. Tempat penampungan air sebaiknya diperiksa minimal sepekan sekali.
Titik yang sering terlewat, menurut Puskesmas Mulyorejo, antara lain pot tanaman, penampung air di belakang kulkas, bagian bawah dispenser, dan wadah terbuka penampung air hujan. Puskesmas juga mendorong program "satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik)", yang melibatkan anggota keluarga memeriksa rumah sendiri, dengan koordinasi bersama puskesmas, pustu, dan posyandu.
Kewaspadaan ini bukan khas Malang saja. Penyakit yang menguat di musim hujan juga terjadi di daerah lain, seperti kasus leptospirosis di Sleman yang kami laporkan sebelumnya.
Yang akan diuji berikutnya adalah apakah sosialisasi dini ini mampu menahan lonjakan sebelum hujan deras tiba, atau kasus tetap naik seperti pola awal tahun yang dikhawatirkan Dinkes.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti diagnosis atau saran medis. Bila mengalami demam tinggi yang berlanjut, segera konsultasikan dengan tenaga medis atau fasilitas kesehatan terdekat.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.