BEI Catat 9 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Dominasi 44,4% dari Pipeline
Tahun ini bursa baru kedatangan tujuh emiten, tetapi antrean berikutnya justru paling banyak diisi sektor kesehatan, sementara teknologi tidak punya satu pun wakil.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sembilan perusahaan berada dalam antrean pencatatan saham perdana (IPO) hingga Jumat (6/11/2026). Data pipeline BEI itu dilaporkan CNBC Indonesia pada Sabtu (7/11/2026) dan diberitakan serupa oleh IDX Channel dan Okezone. Sektor kesehatan mendominasi dengan porsi 44,4 persen.
Sebaran sektor: empat dari sembilan di kesehatan
Dari sembilan calon emiten, empat berasal dari sektor kesehatan. Sisanya terdiri dari dua perusahaan bahan baku (basic materials), dua perusahaan energi, dan satu perusahaan keuangan. CNBC Indonesia menulis bahwa tidak ada calon emiten dari sektor teknologi, barang konsumen siklikal, maupun properti dalam daftar ini.
Angka 44,4 persen berasal dari pembagian sederhana, yakni empat per sembilan. Dua calon emiten bahan baku, dua calon emiten energi, dan satu calon emiten keuangan berarti lima dari sembilan perusahaan datang dari luar sektor kesehatan. Nama-nama perusahaan tidak disebut dalam laporan data BEI yang dikutip media tersebut.
Ukuran aset: lima menengah, tiga besar, satu kecil
BEI juga mengelompokkan calon emiten berdasarkan aset, merujuk pada klasifikasi dalam Peraturan OJK Nomor 53/POJK.04/2017. Lima perusahaan masuk kelas menengah dengan aset Rp50 miliar sampai Rp250 miliar. Tiga perusahaan berskala besar dengan aset di atas Rp250 miliar, dan satu perusahaan berskala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar.
Okezone memakai frasa "aset jumbo" di judulnya. Badan beritanya memakai istilah "skala besar" untuk kelompok di atas Rp250 miliar, jadi pembaca sebaiknya membaca "jumbo" dengan batas itu, bukan sebagai angka yang jauh lebih besar.
Realisasi tahun ini: tujuh emiten, Rp2,16 triliun
Menurut IDX Channel, hingga 6 November 2026 tujuh perusahaan telah mencatatkan saham di bursa sepanjang tahun ini dan menghimpun dana Rp2,16 triliun. Angka yang sama sempat dilaporkan CompileDaily pada bulan lalu, ketika IPO BEI baru mencapai tujuh emiten dengan 14 persen dari target. Artinya jumlah emiten baru belum bertambah sejak saat itu.
BEI sebelumnya merevisi target IPO tahun ini menjadi 15 emiten, menurut judul berita terkait di CNBC Indonesia. Dengan tujuh yang sudah tercatat, sembilan calon emiten di pipeline secara hitungan kasar lebih banyak daripada selisih menuju 15, tetapi tidak ada jaminan seluruhnya mencatatkan saham sebelum akhir tahun.
Obligasi dan rights issue ikut mengantre
CNBC Indonesia juga memuat data instrumen lain. Hingga 6 November 2026 telah terbit 156 emisi obligasi dan sukuk dari 67 penerbit dengan dana Rp157,73 triliun. Di pipeline masih ada 29 emisi dari 19 penerbit.
Untuk penerbitan saham baru melalui rights issue, 16 penerbit telah melakukannya dengan total Rp37,35 triliun, dan satu perusahaan properti masih berada dalam pipeline. Rincian per sektor untuk obligasi dalam laporan itu tidak cocok sepenuhnya dengan total 19 penerbit, sehingga CompileDaily hanya memakai angka agregatnya.
Apa yang perlu dipantau
Pipeline belum berarti pencatatan. Perusahaan di dalamnya belum tentu segera mencatatkan saham, dan laporan yang dikutip tidak menyebut jadwal untuk satu pun dari sembilan perusahaan itu. Yang bisa diamati dalam beberapa pekan ke depan adalah apakah ada yang masuk masa penawaran awal sebelum akhir 2026, dan apakah porsi sektor kesehatan tetap dominan ketika nama-nama emitennya akhirnya terbuka.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham maupun instrumen investasi lain. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.