IPO BEI Baru 7 Emiten hingga Oktober 2026, Raup Rp2,16 Triliun dan Capai 14% dari Target
Target 50 emiten baru terdengar ambisius sejak awal tahun. Di pekan ketiga Oktober, bursa baru mengumpulkan tujuh, dan penyaringan yang makin ketat justru membuat angka itu makin sulit dikejar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) baru mencatat tujuh perusahaan yang melantai lewat penawaran umum perdana (IPO) sepanjang 2026, menurut laporan Media Keuangan yang terbit Jumat (16/10/2026) dengan data hingga 9 Oktober. Total dana yang terkumpul Rp2,16 triliun. Terhadap target 50 emiten, realisasinya sekitar 14 persen (7 dari 50).
Tujuh Emiten Sejak Awal Oktober, Belum Ada Tambahan
Menurut Katadata, yang memuat data per Jumat (2/10/2026), tujuh emiten itu adalah JELI, JECX, WBSA, BACH, EMMI, PRDL, dan RANS. Jumlah tersebut tidak berubah antara awal Oktober dan pekan ini, sementara target tahunan BEI mencakup sekitar 50 IPO.
Pembanding yang kerap dipakai adalah 2023. Saat itu BEI mencatat 79 perusahaan baru. Total perusahaan tercatat kini 965, sedangkan regulator menargetkan 1.100 perusahaan dengan kapitalisasi pasar Rp30.000 triliun pada 2030.
Penolakan Meningkat, Syarat Diperketat
Media Keuangan menyebut empat penyebab utama: penyaringan calon emiten lebih ketat, aturan free float baru setelah sorotan MSCI, kondisi pasar yang belum mendukung, dan tingkat penolakan BEI yang naik. Menurut laporan itu, tingkat penolakan kini sekitar 60 persen, dari semula 20–30 persen. Angka ini belum terkonfirmasi sumber lain.
Free float untuk IPO ditetapkan 15–25 persen, tergantung ukuran perusahaan. BEI juga sedang merevisi tahap kedua Peraturan Bursa Nomor I-A tentang pencatatan saham. Syarat keuangan calon emiten dinaikkan, perusahaan harus punya saldo laba agar bertahan di Papan Utama, dan calon pemegang saham di atas 5 persen dapat ditetapkan sebagai pemegang saham free float. Perubahan harga minimum IPO dan syarat keuangan lain sudah kami bahas dalam artikel tentang aturan baru BEI.
Perusahaan juga bisa menunda IPO bila valuasi yang ditawarkan pasar tidak sesuai harapan.
Antrean Berisi 9 Perusahaan, Kesehatan Dominan
Per laporan Media Keuangan, ada sembilan perusahaan yang menunggu giliran: tiga beraset di atas Rp250 miliar, empat beraset Rp50–250 miliar, dan dua di bawah Rp50 miliar. Sektornya terdiri dari kesehatan (empat), energi (dua), serta bahan baku, keuangan, dan industri masing-masing satu.
Hitungan berbeda muncul di sumber lain. Katadata mencatat BEI menyebut tujuh calon emiten pada awal Oktober, sedangkan Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyebut lima perusahaan dengan perkiraan emisi gabungan Rp2,02 triliun. Perbedaan ini kemungkinan mencerminkan tahap proses yang dihitung masing-masing lembaga.
Kata Analis: Target Perlu Ditinjau
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai "target 50 IPO perlu ditinjau kembali". Perbaikan kualitas emiten tetap dinilai positif bagi kepercayaan investor. Menurutnya, sedikitnya IPO belum tentu menekan IHSG, karena dalam jangka pendek persaingan dana investor berkurang dan likuiditas tidak terlalu terpecah. Namun, "Bursa tetap membutuhkan emiten baru yang menarik dan mampu membawa dana segar," ujarnya.
Saidu Solihin, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, sebelumnya menyebut target IPO memotivasi pemangku kepentingan meningkatkan kualitas dan jumlah emiten, dengan realisasi bergantung pada keputusan bisnis tiap perusahaan dan kondisi pasar. Menurut Media Keuangan, ketujuh emiten baru itu bergerak fluktuatif dan sebagian besar turun dalam tiga bulan terakhir.
Pertanyaan yang tersisa adalah apakah BEI akan mempertahankan angka 50 hingga akhir tahun, atau menurunkan target sambil menunggu pasar pulih dari tekanan MSCI.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi beli atau jual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.
Komentar (0)
Masuk untuk menulis komentar.
Belum ada komentar.