CompileDaily
Virus

Dinkes Sleman Catat 112 Kasus Leptospirosis hingga Oktober, Persebaran Bergeser ke Timur

Admin CompileDaily ·
Bagikan WhatsApp X Facebook Threads

Pegal di betis tanpa habis angkat beban sering dianggap kelelahan biasa. Di Sleman, petugas kesehatan meminta gejala sepele itu tidak lagi diabaikan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat 112 kasus leptospirosis hingga laporan terakhir bulan Oktober 2026. Penyakit akibat bakteri Leptospira yang menular lewat urine tikus ini juga memakan korban jiwa, menurut Suara.com dan Joglo News yang mengutip keterangan Dinkes pada Jumat (6/11/2026).

Dua Meninggal di Kelompok Terdiagnosis, Dua di Suspek

Pemberitaan tentang korban jiwa belum seragam. Judul Suara.com dan Joglo News menyebut dua warga meninggal, sementara isi laporan keduanya memuat dua kematian pada pasien terdiagnosis dan dua pada kelompok suspek, sehingga totalnya empat orang. Harian Jogja, yang mengutip ANTARA, juga menulis dua kematian di kasus terdiagnosis dan dua di pasien suspek. Total pastinya perlu konfirmasi Dinkes.

Suara.com menambahkan angka 81 kasus suspek hingga Oktober, yang tidak muncul di dua laporan lain. Narasumbernya adalah Khamidah Yuliati, kepala bidang pengendalian penyakit di Dinkes Sleman. "Kemudian untuk leptospirosis kasus di Sleman sampai laporan terakhir itu 112 kasus," ujarnya, seperti dikutip Suara.com.

Kasus Terbanyak di Ngemplak, Bergeser ke Timur

Menurut Joglo News, kasus tertinggi tercatat di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak. Suara.com menyebut penularan terjadi di perumahan dan di lingkungan pabrik kayu, bukan di area pertanian. Dari lampiran Dinkes, tingkat keberhasilan perangkap tikus tercatat 34,2 persen, menurut Suara.com.

Pola sebaran ikut berubah. Kasus yang dahulu terkonsentrasi di Sleman bagian barat kini, kata Khamidah, "sudah banyak bergeser" ke tengah dan timur, termasuk di luar area persawahan. Harian Jogja dan Joglo News mencatat tren kasus meningkat sejak 2022 dan sempat turun pada 2024.

Leptospirosis tergolong penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Menurut Harian Jogja, bakteri penyebabnya dapat bertahan di selokan, genangan di sawah, dan area permukiman, sehingga risikonya tidak terbatas pada pekerja lapangan. Karena itu, penularan di perumahan dan permukiman, bukan hanya di persawahan, patut diwaspadai.

Lihat Layanan Kami

Khamidah berharap warga makin peduli pada kebersihan lingkungan. "Harapan kami memang masyarakat itu sangat peduli... terhadap kebersihan lingkungan," ujarnya kepada Suara.com. Harian Jogja juga mencatat Dinkes mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah tangga.

Betis Nyeri Hebat Tanpa Aktivitas Berat, Waspadai

Gejala awal berupa demam disertai nyeri otot kerap dikira flu. Tanda yang lebih khas adalah nyeri betis. "Kalau seseorang tidak melakukan aktivitas berat, tetapi betisnya terasa sakit..., itu harus dicurigai," kata Khamidah kepada Joglo News, sambil mengingatkan agar keluhan itu tidak dianggap kelelahan biasa.

Bakteri masuk lewat luka di kulit, termasuk luka kecil bekas garukan, atau lewat selaput lendir seperti mulut dan mata, menurut Joglo News dan Harian Jogja. Puskesmas menyediakan tes cepat leptospirosis. Jika hasilnya belum memastikan namun gejala berlanjut, pasien dirujuk ke rumah sakit.

Imbauan: Bersih-bersih Pakai Pelindung, Kubur Bangkai Tikus

Dinkes meminta warga memeriksakan diri ke puskesmas bila demam dan nyeri betis muncul bersamaan. Harian Jogja mencatat imbauan lain: mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memakai alat pelindung saat membersihkan area tergenang, menutup luka dengan pelindung kedap air, memasang perangkap tikus, dan tidak mengejar tikus beramai-ramai. Bangkai tikus, kata Dinkes, "wajib dikubur di dalam tanah agar tidak menjadi sumber penularan penyakit baru."

Sleman bukan satu-satunya daerah yang sedang memantau penyakit musiman. Jakarta Barat, misalnya, mencatat 1.852 kasus DBD hingga 29 Oktober. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah imbauan kebersihan lingkungan dan pemberantasan tikus yang didorong Dinkes cukup menahan laju kasus, mengingat tren yang disebut cenderung naik dari tahun ke tahun.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis maupun nasihat medis. Jika mengalami demam dan nyeri otot setelah kontak dengan genangan atau area yang mungkin terkena urine tikus, segera konsultasikan dengan tenaga medis.

Komentar (0)

Masuk untuk menulis komentar.

Belum ada komentar.

Kami memakai cookie untuk analisis kunjungan dan iklan yang relevan. Baca Kebijakan Privasi kami.